Ortodoksi akibatkan Pesantren Terasing dari Perkembangan Luar.

 

Doktor-Yayah-Nur-2-edit

BANDUNG – Ortodoksi, ideologisasi dan dogmatisme di dalam pesantren yang terlalu kuat, menyebabkan ajaran agama yang berkembang di pesantren bersifat normatif, simbolik dan kurang responsif terhadap perkembangan masyarakat di luar. Karena itu, perkembangan isu keagamaan kontemporer, tidak mendapat respon secara produktif, malahan selalu dicurigai sebagai agen yang akan melemahkan Islam.

 
Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Syekh Nurjati, Yayah Nurhidayah, mengungkapkan hal itu dalam disertasinya berjudul “Komunikasi Bias Gender dalam Lingkungan Pesantren di Cirebon”. Yayah berhasil mempertahankan disetasinya di hadapan tim penguji dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor, di Program Doktor Komunikasi, Fikom Unpad, belum lama ini.

 
Yayah dipromotori oleh Prof.Deddy Mulyana,MA,PhD, Prof.Dr. Nina W Syam, MS dan Dr. Betty RFS Soemirat,MS. Bertindak sebagai tim oponen, Prof.Dr. Mien Hidayat,MS, Prof.Dr.Haryo S Martodirdjo dan, Dr.Eni Maryani, MSi.

 
Isyu-isyu kesetaraan gender, ungkap Yayah yang melakukan penelitian di sebuah pesantren di Cirebon, merupakan isyu yang amat asing bagi warga pesantren. Hal itu, sambungnya diperkuat oleh ajaran-ajaran yang disampaikan para Kyai dan Nyai dalam pengajian, perlakuan dan praktik kehidupan sehari-hari para santri.
Doktor-Yayah-Nur-3-edit

Meski demikian, papar Yayah, beberapa pesantren ada yang terlibat dengan berbagai perkembangan kontemporer. Hanya saja dalam kaitan dengan peran tradisionalnya, mengutip Mujamil Qomar, pesantren sering diidentifikasi memiliki tiga peran penting, yakni sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu Islam tradisional, sebagai penjaga dan pemelihara Islam tradsional serta sebagai pusat regenerasi ulama.

 
Menurut Yayah, pesantren tradisional sejak lama menerapkan perlakuan yang sangat berbeda terhadap santri laki-laki dan perempuan dalam penerapan aturan, etika, pemberian sanksi dan relasi atau komunikasi. Karena kitab atau referansi yang digunakan masih berupa rujukan klasik, pesantren menjadi sumber penanaman ideologi gender yang timpang.

 
Bias gender dalam komunikasi di pesantren pun telah membatasi kesempatan, akses, partisipasi, kontrol perempuan dalam menerima manfaat yang sama dengan laki-laki dari berbagai fasilitas di lingkungan pesantren. (AA).