Pameran Dokumentasi Budaya Mahasiswa DIIP Fikom Unpad

 

Agenda

Padjadjaran Ramadhan Night Festival 2018

Date: May 24, 2018

Time: 12:00-21:00

Padjadjaran Ramadhan Night Festival
Batalyon UKM Barat Unpad Jatinangor | Kamis, 24 Mei 2018 pkl 12:00 – 21:00

Tausiyah bersama Ust. Nur Ihsan Jundullah
Masjid Raya Unpad | Kamis, 24 Mei 2018 pkl 15:00 – 18:00

Contact Person :
Inayah Zahra Zahirah
WA : 081394592351
Instagram : @prfest18
Line@ : @zgs4110d

JATINANGOR – Mahasiswa Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan (DIIP) Fikom Unpad menggelar pameran kebudayaan Sunda di selasar Gedung 2 Fikom Unpad, Rabu (10/06). Foto, booklet, dan poster dengan informasi menarik mengenai budaya Sunda tampak menghiasi dinding dan meja yang disediakan. Kegiatan ini merupakan pemenuhan tugas akhir mata kuliah Dokumentasi Budaya.

 
Pelaksanaan pameran budaya seperti ini merupakan kegiatan tahunan DIIP yang sekarang memasuki tahun ketiga. Sebanyak 116 mahasiswa DIIP semester 4 pada tahun ini mengabadikan kebudayaan Sunda yang mereka saksikan di Desa Harumansari, Kab. Garut, Jabar beberapa waktu lalu. Mahasiswa DIIP datang ke desa untuk meliput sebuah hajatan berbalut adat Sunda yang diadakan di desa Harumansari. Banyak kesenian Sunda yang ditampilkan, seperti wayang, pencak silat, benjang, rajawali, jaipong dangdut, dan tembang Cianjuran.

 
Semua mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini sebelumnya sudah dibekali dengan matang dalam materi perkuliahan di kelas. Mereka dibina oleh Wina Erwina, Dra., M.A. pada materi tentang booklet, dibimbing pula oleh Kusnandar, S.Sos., M.Si. pada materi pameran, dan dibina oleh Sukaesih, Dra., M.Si. serta Samson CMS, S.Sos., M.Ikom. pada materi mengenai poster.

 
Sebagai bentuk apresiasi akan kerja keras yang telah dilakukan oleh semua mahasiswa dalam penyuksesan acara ini, mereka diberikan sertifikat yang langsung ditandatangani oleh Dekan Fikom Unpad, Prof. H. Deddy Mulyana, M.A, Ph.D.

 
Kusnandar, dosen pengampu mata kuliah ini, menyatakan harapannya agar mahasiswa Fikom memiliki kesadaran akan jati diri bangsa sehingga tidak kalah oleh kebudayaan lain.

 
“Eksitensi kebangsaan menjadi penting dalam kancah globalisasi. Kalau kita jualan gitar di Eropa mungkin tidak akan laku, tapi kalau kita jualan kecapi suling di Eropa pasti akan laku karena kita berbeda”, ujar Kusnandar.(Margaretha Sinaga).