Peran dan Fungsi Abdi Dalem Sangat Strategis.

 

Doktor-Maman-1-edit

BANDUNG – Peran dan fungsi abdi dalem Keraton Kasepuhan Cirebon sangat strategis dalam konteks pelestraian budaya saat ini. Dedikasi dan loyalitas mereka telah teruji. Mereka tidak melihat besaran imbalan yang diterimanya. Mereka hanya menerima upah yang disebut paringan.

 
Maman Suherman (55), dosen Fikom Universitas Islam Bandung (Unisba), mengungkapkan hal itu dalam disertasi yang dipertahankannya dalam sidang terbuka promosi doktor komunikasi, di Gedung Pascasarjana Unpad Bandung, Jumat (14/8). Maman dipromotori oleh Prof.Dr. Engkus Kuswarno,MS, Prof.Dr.Mien Hidayat, MS dan Dr.Betty RFS Soemirat, MS (Alm). Bertindak sebagai Tim oponen ahli adalah Prof.Dr.Haryo S Martodirdjo, Prof. Deddy Mulyana,MA,PhD dan Dr.Atwar Bajari MSi. Sedangkan representasi guru besar adalah Prof,Dr, Dadang Suganda,M.Hum.

 
Menurut Maman, kesetiaan para abdi dalem Keraton Kasepuhan Cirebon ditunjukkan dengan bekerja sungguh-sungguh sesuai ketentuan keraton kendati upah (paringan) yang diterima amat kecil. Fungsi Keraton Cirebon sendiri saat ini sudah berubah. Saat ini keraton Cirebon menjadi salah satu cagar budaya dan obyek wisata.

 
Pada sisi kehidupan sosial lainnya, ungkap Maman lingkungan Keraton Cirebon menjadi masyarakat khusus dengan budaya dan tradisi yang khusus pula. Begitu pun dalam konteks komunikasi, dalam berkomunikasi dalam bahasa Cirebon, masih mempertahankan strata bahasa sesuai strata sosial penggunanya.

 
Motif untuk menjadi abdi dalem selain karena tidak memiliki pekerjaan lain, ada pula motif keinginan untuk mengabdi kepada keraton, dan ingin memelihara tradisi. Beberapa abdi dalem bahkan berkeinginan posisinya sebagai abadi dalem jika dia meninggal dunia bisa digantikan oleh anaknya. Namun diantara anak mereka banyak yang menolak untuk menjadi abdi dalem dengan berbagai alasan logis.

 
Umumnya mereka bangga dengan sebutan “abdi dalem”. Meski demikian ada juga yang lebih suka disebut sebagai “pegawai keraton”. Namun apa pun namanya ketika berkomunikasi dengan Sultan, para abdi dalem umumnya ketika komunikasi tatap muka memilih untuk duduk di lantai sementara Sultan duduk di kursi. Padahal Sultan acapkali menyuruh seorang abdi dalem duduk di kursi ketika berkomunikasi secara tatap muka. (AA).