Petty S Fatimah, “Jangan Risau dengan Julukan Generasi Narsis”

 
Kuliah Umum Pemred Majalah Femina, Petty S Fatimah (Foto Suwito)

Kuliah Umum Pemred Majalah Femina, Petty S Fatimah (Foto Suwito)

JATINANGOR – Di tengah makin merebaknya media jejaring sosial dan penggunanya makin besar di Indonesia, menyebabkan generasi sekarang disebut sebagai “generasi narsis” yang dengan mudahnya mengekspose diri ke dunia luar. Namun julukan itu tak perlu dirisaukan, karena kenarsisan itu justru sangat bermanfaat untuk masa depan.

 
Pemimpin Redaksi, majalah Femina, Petty S Fatimah mengungkapkan hal itu dalam kuliah umum di Departemen Jurnalistik Fikom Unpad, Rabu (27/8) di kampus Fikom Unpad Jatinangor. Sebagai alumni Departemen Jurnalistik angkatan 1983, Petty berbagi pengalaman kepada para yuniornya. Menurutnya, justru dengan kenarsisan yang diunggah via media jejaring sosial, semakin banyak lembaga bisnis yang tertarik untuk menarik yang bersangkutan untuk bekerja di perusahaan tersebut.

 
Dicontohkannya, penyanyi Raisha, dia terus menerus mengunggah dirinya yang membawakan beberapa lagu ke YouTube. Lama kelamaan banyak orang yang melihat dan suka, produser pun meliriknya dan menawarinya untuk rekaman.
Lewat media lain, banyak anak-anak muda yang memamerkan karyanya, menulis bio datanya, menulis kehebatan dan keahliannya. Semua itu adalah sesungguhnya perilaku narsis, tetapi justru banyak diantara mereka yang kemudian ditawari oleh perusahaan besar karena melihat potensi yang begitu besar dalam dirinya.

 
Petty-2Menurut mantan aktivis Senat Mahasiswa Fikom Unpad ini, saat ini kita telah menjadi media itu sendiri. “You and me become a media. You are more influential than you realize” ungkap Petty mengutip pendapat seorang pakar komunikasi. Kenarsisan ini, sambung mantan Pemred Majalah Gadis yang juga mantan penyiar Radio Oz Bandung ini, kita bisa memasarkan diri kita sendiri. ”Istilahnya to market yourself” sambungnya.
Dari kenarsisan itu, lanjut Petty merupakan aktualisasi diri sehingga pada akhirnya menuju ke personal branding. “Tunjukan apa minat kita dan apa kemampuan kita”, paparnya.

 

Dikatakannya, mahasiswa jaman sekarang tidak cukup dengan IPK tinggi. IPK diatas 3 bukan jaminan bahwa mahasiswa itu memiliki kemampuan yang tinggi. Begitu pun bahasa, Bahasa Inggris bukan lagi persyaratan karena akan dianggap semua generasi sekarang mampu berbahasa Inggris. Tunjukan lewat media jejaring sosial bahwa kita bisa berbahasa Jerman atau Perancis.

 
Tentu saja kenarsisan itu, dengan menunjukan interest dan kemampuan kita yang positif, tidak asal mem-publish sesuatu yang tidak penting. Menurutnya generasi yang menguasai media jejaring sosial adalah generasi yang bakal bisa bersaing di dunia kerja. (AA)