Prodi Televisi dan Film Fikom Unpad Diskusi dengan Alumni Fikom.

 

FGD-1

JAKARTA – Pengelolaan televisi siaran di Indonesia semakin berat. Pesaing media televisi bukan hanya sesama media televisi swasta, tetapi juga dengan media baru dan pola penggunaan media dari masyarakat Indonesia khususnya generasi muda yang terus berubah. Akibatnya penonton TV potensial cenderung menurun. Karena itu dibutuhkan SDM TV yang cerdas dan kreatif.

 
Demikian diungkapkan para alumni Fikom Unpad yang berkiprah di dunia televisi nasional. Mereka berkumpul dalam acara silaturahmi Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad dengan alumni yang berkiprah di dunia televisi dan film, Selasa malam (8/9) di RM Riung Sunda, Hotel Ibis, Jl Cikini Raya 75 Jakarta Pusat.

 
Diskusi yang dipandu oleh Ketua Prodi TV dan Film, Dr Aceng Abdullah,MSi ini dalam upaya menyerap permasalahan, gagasan, usulan dan kritikan para alumni dalam upaya untuk penyusunan kurikulum Prodi TVF yang baru menerima mahasiswa pada tahun akademik 2015 ini.

 
Dalam acara ini hadir sepuluh alumni yang berkiprah di dunia pertelevisian, diantaranya Effendi Soen (mantan reporter senior TVRI yang saat ini menjadi konsultan di MetroTV), Filriadi Kusmara (Manager Programming Acquisition RCTI), Velantin Valian (Jak TV), Andri Hariana (Regional News Gathering Indosiar/SCTV), Dede Ariwibowo (Suporting Manager Kompas TV), Ade S Pepe (Manager Produksi tvOne), Andri Susanto (Eksekutif Produser MNC), Abie Besman (Kompas TV), Wiendy (Production House). Hadir pula mantan broadcaster TV yang kini menjadi dosen di Universitas Pakuan Bogor Dini Valdiani dan Ferry.

 
Menurut Effendi Soen, arah pendidikan Prodi TVF ini harus jelas, lulusannya mau jadi apa. Hal senada diungkapkan Velantin, Filriady dan yang lainnya mengingat permasalahan pertelevisian di Indonasia amat kompleks dan membutuhkan spesialisasi untuk menjadi orang televisi.

 
Hampir senada, para alumni mengingatkan bahwa dunia telvisi merupakan perpaduan antara kemampuan ilmu, teknologi, seni dan kreativitas. Mahasiswa Prodi TVF harus dipupuk untuk menguasai empat hal itu. Keempatnya saling mempengaruhi, terlebih di era persaingan yang makin ketat. Andri Susanto mengingatkan, jika AFTA sudah diberlakukan awak televisi dari negara tetangga bisa menguasai televisi kita. Mereka profesional tetapi dibayar murah.

 
Saat ini pun stasiun TV terus memperkencang ikat pinggang. Biaya produksi harus seminimal mungkin. Satu berita harus bisa dikirimkan ke beberapa stasiun TV yang satu grup. Itu sebabnya awak televisi saat ini dan mendatang harus makin berkualitas, dan prodi TVF harus mampu melakukan itu.

 
Persaingan bukan hanya dengan sesama stasiun TV, tetapi juga dengan media baru (new media). Karena itulah penggunaan media pun berubah. Untuk mencari acara TV atau hiburan sekarang orang mencarinya via Youtube atau saluran lain di internet. Karena itulah, jika tidak mau tergilas, awak televisi harus makin cerdas dan kreatif serta kerja keras. (AA).

Profil Mahasiswa

Dewi Permata Sari, Omset Bisnisnya Ratusan Juta Rupiah per Bulan

January 6, 2017

Dewi Permata Sari, Omset Bisnisnya Ratusan Juta Rupiah per Bulan
“SEKECIL apapun usaha, setidaknya kita menjadi bos dari usaha tersebut daripada terjun dalam usaha yang besar, namun kita

Profil Dosen

Hadi Suprapto Arifin, Sukses Berawal dari Rumah

January 6, 2017

Hadi Suprapto Arifin, Sukses Berawal dari Rumah
DOSEN Fikom Unpad yang satu ini mudah dikenali dari gaya berpakaiannya yang lain dari yang lain. Pria kelahiran

Profil Alumni

Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting

January 19, 2017

Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting
SEORANG jurnalis investigasi hadir di tengah-tengah kehidupan jurnalisme bukan sekedar mengungkap kebenaran, tetapi juga sebagai bentuk advokasi. Jurnalis mampu