“Pustakawan Belajar” dari SMAN 2 Sukabumi Kunjungi Fikom Unpad

 

SMA-Sukabumi-1-edit

JATINANGOR – Profesi pustakawan belakangan ini tengah naik daun. Pekerjaan pustakawan dinilai bukan sekadar menyusun buku atau menjaga keheningan di perpustakaan namun juga berkontribusi di bidang lain. Beberapa lulusan Prodi Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad sudah banyak meniti karir sebagai pustakawan di bidang penelitian dan pengembangan di pemerintahan, ahli informasi di media massa, serta peneliti di bidang perpustakaan dan informasi.

 
Hal inilah yang membuat “pustakawan belajar” dari SMAN 2 Sukabumi mengadakan kunjungan ke Fikom Unpad, Selasa (13/10). Sebanyak 20 siswa kelas X dan XI didampingi 3 orang guru ingin belajar bagaimana sistem perkuliahan di Prodi Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad dan bagaimana peluang siswa untuk berkuliah di Fikom Unpad.

 
Rombongan disambut di Ruang Oemi Abdurrachman Kampus Fikom Unpad Jatinangor, oleh Dr. H. Pawit M. Yusup (Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan), Dr. Edwin Rizal, M.Si. (Sekretaris Program D3 Kehumasan), dan Andri Yanto (Dosen Prodi Ilmu Perpustakaan).

 
Setelah memaparkan profil Fikom Unpad dan Prodi Ilmu Perpustakaan, Dr. Pawit menyampaikan prestasi-prestasi yang pernah diraih oleh Prodi Ilmu Perpustakaan. Prestasi terbaru adalah salah satu mahasiswi Prodi Ilmu Perpustakaan yang juga merupakan ketua kelompok Program Kreativitas Mahasiswa yang lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan berhasil meraih medali emas.

 
“Total peminat Prodi Ilmu Perpustakaan di penerimaan mahasiswa baru tahun lalu ada 2400-an tapi yang diterima hanya sekitar 100”, ungkap Dr. Pawit menerangkan betapa kompetitifnya persaingan untuk berkuliah di Prodi Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad.

 
Meskipun demikian, salah satu guru yang hadir mengaku bahwa minat siswa SMA untuk menjadi pustakawan saat ini dinilai belum terlalu besar. Hal ini disampaikan berdasarkan pengamatannya di SMAN 2 Sukabumi dan beberapa SMA lain di Sukabumi.

 
Untuk menanggapi pernyataan ini, Andrianto, salah seorang dosen Prodi Perpustakaan, menjelaskan, perlu adanya aktivitas yang menyertakan guru dan siswa secara aktif dalam proses belajar, yaitu literasi informasi. Misalnya, seorang guru meminta siswa mencari sendiri informasi perihal materi yang sedang dipelajari. Informasi itu bisa ditemukan di perpustakaan. Dengan mencari sendiri bahan pelajaran, siswa akan mandiri sekaligus dapat belajar literasi informasi.

 
“Literasi informasi erat kaitannya dengan perpustakaan. Target belajar saat ini kan bukan lagi teacher center learning tapi student center learning”, tutur Anto, Panggilan akrab Andriyanto. Masih menurut Anto, perpustakaan memiliki segudang fungsi yang harus digunakan secara maksimal. Sama seperti manusia, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan juga punya jantung, yakni perpustakaan. (Margaretha Sinaga)