Rahmat Budiman, Aktivis Masjid Kampus, Managing Editor Majalah HAI

 

Mate-3

SIAPA yang tidak mengenal majalah remaja HAI, majalah mingguan ini merupakan salah satu majalah favorit. Salah satu managing editor di majalah yang terbit pertama kali pada tahun 1977 ini adalah alumni Prodi Jurnalistik, Fikom Unpad. Rahmat Budiman, atau yang akrab dipanggil Mate adalah salah satu dari sekian banyak alumni yang dengan sukses meniti karirnya di bidang jurnalistik. Uniknya, Mate yang bergelut di dunia informasi hiburan remaja ini, dulu dikenal sebagai “aktivis masjid” di kampus Fikom Unpad.

Sejak masih di bangku kuliah, Mate mengakui sudah jatuh cinta dengan dunia jurnalistik. “Saya dari dulu suka sama Tintin dan Peter Parker (Spiderman), ini juga yang membuat saya masuk jurusan jurnalistik saat kuliah”. Kecintaannya itu yang membuat pria yang lulus dari  Prodi Jurnalistik pada tahun 2007 ini, bertahan di bidang tersebut sampai akhirnya ia dipercaya menjadi editor pada tahun 2011. Pria kelahiran Jakarta, 16 Mei 1984 ini mengaku sudah mempunyai jiwa menulis dari SMA ketika ia membuat bulletin. Kini, tidak hanya menjabat sebagai editor majalah, ia juga berprofesi sebagai fotografer di Toy Photography Indonesia.

Meski sekarang memegang jabatan di sebuah majalah yang dasarnya ditujukan untuk pria, anak muda, dan membicarakan seputar gaya hidup atau entertainment, 2 media tempat Mate bekerja sebelumnya sangat berbeda. Saat kuliah, Mate yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Biro Kerohanian Islam, sempat bekerja di tabloid Manajemen Qalbu. Setelah itu, Mate juga sempat bekerja di majalah Percikan Iman pada tahun 2006 – 2007. Tidak banyak yang menyangka, seseorang dengan latar belakang majalah kerohanian dan dikenal sebagai mahasiswa yang nyatri bisa menjabat sebagai editor di majalah seperti HAI.

Mate-2

Mate juga sempat bekerja sebagai illustrator di FIF Astra pada tahun 2007-2008. Akan tetapi, ia merasa tidak ada yang bisa mengalihkanya dari bidang jurnalistik. Tidak ada niatan dalam diri Mate secara khusus untuk melamar di majalah HAI. “Setelah bekerja di dua majalah sebelumnya di Bandung, saya pindah ke Jakarta dan sempat mencari kerja di tempat lain juga. Ya, pada akhirnya keterimanya di HAI¸walaupun dulu saya juga nggak tahu kalau ini HAI. Dulu melamarnya untuk menjadi wartawan di media musik”.

Seperti stereotip pada umunya, banyak orang yang menganggap pekerjaan di dunia jurnalistik atau wartawan bukanlah pekerjaan yang ideal. Mate mengakui, keluarganya pun sempat meragukan kejelasan profesi wartawan. Akan tetapi, semenjak kini Mate menjabat sebagai editor, ia bisa membuktikan bahwa menjadi wartawan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Mate-1

Menjadi alumni Jurnalistik, Fikom Unpad membawa keuntungan ketika ia berada di dunia kerja. Baik saat menjadi wartawan dahulu, ataupun kini menjabat sebagai editor, apa yang ia dapat saat berkuliah dahulu banyak yang terpakai saat di lapangan, meskipun tidak seluruhnya. “Apa yang didapat di kuliah jurusan jurnalistik, yang sampai saat ini masih diterapkan itu soul nya”.

Bagaimana mencari informasi dari source, bagaimana bersikap kritis, jujur, meliput cover both side. Apa yang didapat di jurusan jurnalistik yang lebih terpakai itu soal prinsip-prinsip dan idealisme. Dengan segala tantangan di lapangan dan persaingan media, prinsip dan idealisme yang selalu ditekankan di kelas menjadi pegangan kuat di dunia nyata. Jika nantinya Mate harus beralih profesi, ia mengaku tidak akan jauh-jauh dari bidang yang ia geluti kini, “Wartawan itu panggilan hati bukan profesi”. (Raissa Nathania)