Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting

 

SEORANG jurnalis investigasi hadir di tengah-tengah kehidupan jurnalisme bukan sekedar mengungkap kebenaran, tetapi juga sebagai bentuk advokasi. Jurnalis mampu berpihak, tentu saja pada kebenaran. Aksi jurnalis investigasi bisa menjadi pelopor terjadinya perubahan ke arah lebih baik di bidang-bidang tertentu yang berusaha mereka ungkap tabirnya.

Hal inilah yang berusaha diungkapkan oleh Riki Dhanu, alumni Prodi Jurnalistik yang malang melintang di liputan investigasi dan plaporan mendalam di beberapa stasiun TV nasional.

Riki pernah menjadi produser program investigasi “Telusur”di tvOne dari 2007. Lalu 2015 pindah ke CNN, dan 2016 hijrah lagi ke liputan6.com Semua garapannya berupa depth reporting menjurus ke investigasi. Baginya, “Investigative journalism, is also an act of heroism”. Kata-kata mutiara tersebut adalah bentuk dari refleksi dan keyakinannya terhadap pekerjaannya saat ini.

Pria kelahiran 5 Juli 198 ini adalah lulusan dari Prodi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad).Ia tercatat sebagai bagian dari angkatan 1999 dan lulus pada 2005.

Ketertarikannya di dunia jurnalistik tumbuh sejak ia bersekolah di SMPN 1 Medan. Ia memiliki minat tinggi untuk mengisi majalah dinding sekolah.Masa reformasi Mei 1998 yang berlangsung saat ia duduk di bangku SMA juga memperlihatkan padanya, bagaimana media memiliki peran yang sangat masif dalam mendorong pergerakan mahasiswa serta aktivis untuk melakukan hal-hal yang “luarbiasa”. Di masa ini pula, Soeharto turun dari kekuasaannya. Semangat Riki semakin kuat untuk bergabung bersama media, menjadi seorang wartawan.

Ia bergabung dengan tvOne pada 1 November 2007.Ia bekerja menjadi seorang wartawan yang gigih sebagai bentuk pemenuhan jati dirinya. Hingga akhirnya,ia menjadi angkatan pertama yang membentuk sebuah program investigasi bertajuk “ZonaMerah” di tahun 2009, bersama dua rekannya yang juga lulusan Jurnalistik Fikom Unpad, Galuh Pangestu (2001) dan Ike Agestu (2001). “Zona Merah” menjadi batu loncatan bagi kariernya hingga saat ini. Setelah program ini berakhir, ia beralih ke program “Telusur”.

Kecintaannya terhadap pelaporan mendalam dan investigasi mulai di bangku kuliah.Saat itu, ia mengikuti mata kuliah pelaporan mendalam yang diampu oleh Sahat Sahala Tua Saragih. Pak Sahala, begitu ia memanggilnya, pernah berkata, “Secara tak tertulis, wartawan punya kasta, dan kasta tertinggi adalah wartawan investigasi.” Hingga saat ini pun, pria yang berperawakan tinggi dan kurus ini masih merinding ketika mengingatnya.

Saat pertama kali terjun ke dunia investigasi, orang-orang terdekatnya sangat khawatir karena memang penuh tantangan dan bahaya. Ia juga mengakui, kesulitan utamanya tentu saat mengumpulkan keberanian. Ia merasa semua hal di sekelilingnya mampu mengancam keselamatan. Namun, semakin lama terjun dan belajar, ia merasa investigasi sebagai makanan sehari-hari. “Lama-lama jadi terbiasa. Semakin lama, kita jadi semakin belajar menghitung resiko dan membuat skenario yang baik, terutama ketika melakukan penyamaran,” katanya.

Ancaman dan kecaman dari pihak tertentu tentu pernah ia rasakan saat menjadi wartawan investigasi. Salah satu pengalamannya adalah saat ia mendapat laporan keberatan terhadap tayangan “Telusur” yang mengungkap pembocoran kunci jawaban UN di salah satu SMP di Tangerang. Kasus ini dibawa ke Dewan Pers. Untungnya, setelah melakukan beberapa penyelidikan, Dewan Pers tidak menyalahkan “Telusur”. “Sampai saat ini kami masih bisa lolos dengan baik,” tambahnya.

Dalam menjalani kariernya, Riki memiliki beberapa tokoh jurnalis sekaligus penulis bergenre sastra seperti Asne Seierstaad, Bryan Mealer, dan Tom Wolfe.Ia juga memiliki ketertarikan dalam dunia fotografi dan sering mengunggah karyanya di Facebook pribadinya.

Baginya, pendidikan jurnalistik harus semakin ditingkatkan. “Masih ada gap antara apa yang dipelajari di bangku kuliah dengan realitas yang saya alami di dunia kerja,” tuturnya. Untuk jurnalis yang ingin terjun di dunia jurnalistik, hal pertama tentu harus memiliki cerita yang kuat. Meskipun dalam ranah investigasi, Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sebisa mungkin harus diamalkan, sehingga bukan hasil yang wah yang ia hasilkan, tetapi juga yang beretika.

“Investigasi itu bukan sekedar pamer nyali dan umbar kamera tersembunyi,” katanya. Ia juga menambahkan, jurnalis tak boleh merasa bosan dengan isu dan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang.

Selama menjadi produser “Telusur”, program ini berhasil memenangkan Panasonic Gobel Award 2013, KPI Award 2009 dan 2011, dan menjadi nominator berbagai penghargaan lainnya, seperti Muchtar Lubis Award dan Anugerah  Adiwarta. Baginya, penghargaan ini tentu menjadi tambahan semangat untuk terus berkarya di bidang investigasi.(Chiquita Olivia Riama Hutauruk)