Rinduku, Ramadhanku

 

JATINANGOR – Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan segala nafsu karena ridlo Allah SWT, serta sebagai ajang untuk menghindari dari aneka sifat dan perilaku buruk yang tidak disukai oleh Allah SWT.

 
Ustad Ahmad Humaedi MSi mengungkapkan hal itu dalam tausiah bulanan di kampus Fikom Unpad, Senin (15/6). Tausyiah kali ini sekaligus merupakan acara “Munggahan” menjelang datangnya bulan Ramadhan. Acara dihadiri oleh Dekan Fikom Unpad, Prof.Deddy Mulyana MA,PhD serta jajaran pimpinan Fikom Unpad, para dosen dan tenaga kependidikan.

 
Menurut Ustad Ahum, panggilan akrab Ahmad Humaedi, selain menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri demi ridlo Allah Ta’ala, orang yang berpuasa juga harus mampu menghargai orang yang tidak berpuasa.

 
Namun, dalam keseharian di lingkungan masyarakat, lanjut Ahum, acapkali salah menafsirkan hal ihwal puasa. “Misalkan ada ulama yang menyatakan, batal hukumnya apabila seseorang ‘memasukan anggota badan ke dalam badan yang lain’ sehingga ditafsirkan orang yang ngorong (mengupil, memasukan jari ke hidung) masuk kategori batal puasa” ujar Ustad Ahum yang disambut gelak tawa hadirin.

 
Bagi seorang dosen, papar Ustad Ahum, malas mengajar, menganiaya mahasiswa, menganiaya anggota keluarga, berdusta, marah-marah apalagi menipu, semua itu bisa mengurangi nilai ibadah puasa. Karena perbuatan itu tidak disukai oleh Allah SWT.

 
Puasa juga merupakan media pembersihan diri dari segala dosa. Puasa juga merupakan ajang menahan aneka godaan, dan Puasa juga memiliki hikmah sosial, “Dan puasa akan memberikan kebahagiaan. Minimal saat waktu berbuka” ujarnya. (AA).