Sofyana Ali Bindiar, Jagonya Festival Film Pendek

 
Sofyana Alie Bindiar dan Penghargaan sebuah festival. (Foto koleksi pribadi).

Sofyana Alie Bindiar dan Penghargaan sebuah festival. (Foto koleksi pribadi).

MENARIK jika melihat awal ketertarikannya di dunia film. Dulu, ia pernah membuat film pendek secara mandiri bersama warga kampung di sekitar rumahnya. Lalu filmnya sangat diapresiasi oleh warga sekitarnya saat diputar di suatu tanah lapang. Kejadian itu terjadi saat acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Acara tersebut, film yang ia buat, serta apresiasi yang diperoleh, membuatnya bercokol di dunia film sampai sekarang.

 

Itulah Sofyana Ali Bindiar, alumni Prodi Mankom angkatan 2005. Soal prestasi, banyak penghargaan yang sudah diperolehnya. Banyak film pendek yang sudah digarap dan mendapat prestasi, banyak pula posisi yang ia pegang saat penggarapannya. Dia pernah menjadi sutradara, editor, penulis naskah, produser, serta eksekutif produser.

 

Film yang pernah ia garap di antaranya adalah It’s Your Wedding Day (2011) sebagai sutradara dan scriptwriter, Sketch (2011) sebagai editor, Pencuri Sejarah – The Intruder (2012) sebagai penulis, produser, dan editor, Lembar Jawaban Kita – The Exam (2013) sebagai sutradara, Percaya (2013) sebagai sutradara, dan Urgen (2013) sebagai eksekutif produser.

 

Dia pernah memperoleh penghargaan di Jogja Asian Film Frestival, Festival Sinema Prancis, Indonesian Motion Pictures Association, Good Day Short Movie Competition-Rasa In Action, dan L.A.Lights Indie Movie Love Story Competition. Selama menjadi mahasiswa Prodi Manajemen Komunikasi, Fikom Unpad (angkatan 2005), kegiatannya juga tak jauh dari dunia film. Film-film pendek yang pernah ia buat antara lain Secercah Harapan Tuk Kampungku, Gancu, Surya di Padjadjaran, dan It’s Your Wedding Day.

 

Sofyana Alie Bindiar (Foto Koleksi Pribadi)

Sofyana Alie Bindiar (Foto Koleksi Pribadi)

Pria kelahiran Bandung yang menyukai cara bertutur berbentuk puisi dalam film Cinta Dalam Sepotong Roti garapan Garin Nugroho ini, mengakui sulit menggeneralisir soal apresiasi masyarakat Indonesia terhadap film Indonesia, karena patokannya hanya jumlah penonton. Sedangkan jumlah layar bioskop dan keberadaan bioskop di Indonesia masih terbatas. Dia hanya bisa melihat apresiasi masyarakat Indonesia terhadap film tanah negeri di kota-kota besar.

 

“Masyarakat kita masih kurang mengapresiasi produk-produk kesenian. Sama halnya dengan film. Bila patokannya jumlah penonton, bisa dicek di website yang membahas tentang film Indonesia, berapa banyak masyarakat kita yang menonton di bioskop dibandingkan dengan total masyarakat Indonesia,” ujarnya saat diwawancarai via instant messenger.

 

Dia berpendapat film Indonesia harus memunculkan ciri khas dari budaya Indonesia sendiri. Indonesia harus mencari jati diri dan menemukan identitasnya. Seperti film-film Hollywood, India, serta korea, mereka mampu memunculkan identitas budayanya yang merepresentasikan negara itu sendiri. Mereka dapat menawarkan budaya mereka dan menunjukkannya pada dunia.

 

Film Indonesia sedang membangun identitas budaya tersebut, tidak secara lokal tapi juga internasional. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa film Indonesia yang menang di festival film internasional. “Industri akan terbangun, hal itu ditentukan dengan komitmen kita sebagai film maker untuk memberikan sajian apik dan menarik, namun sarat nilai,” ujarnya. Dia juga berharap film dalam negeri bisa menawarkan cara pandang baru dalam melihat dunia. Masa-masa indah perfilman Indonesia akan dirasakan sebentar lagi, “ke depan, saya yakin perfilman kita akan membangun industrinya sendiri,” tutupnya saat diwawancara. (Endi Trianto)