Teliti “Komunikasi Dosen” Citra Rosalyn Anwar Raih Gelar Doktor.

 

DSC02984

BANDUNG – Kemampuan seorang dosen sebagai pendidik dan ilmuwan dalam berkomunikasi tidak hanya bergantung pada gelar atau pun profesi. Penampilan (appeareance) pun merupakan bagian dari komunikasi non-verbal yang belum disadari pentingnya oleh seorang dosen sebagai pendidik.

 

Dosen Universitas Negeri Makasar, Citra Rosalyn Anwar mengungkapkan hal itu dalam disertasinya yang berjudul Komunikasi Dosen (Suatu Studi Fenomenologi di Makassar) yang dipertahankannya belum lama ini di hadapan penguji Sidang Promosi Doktor, Program Doktor Ilmu Komunikasi Fikom Unpad. Citra dipromotori oleh Prof . Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., Prof. Soleh Sumirat, MS dan Dr. Antar Venus,MA.Comm

 
Penelitiannya dilatarbelakangi oleh fenomena dosen yang menurut Citra bukan sekedar pengajar di kelas namun juga memiliki peranan lain, Citra membongkar permasalahan yang terjadi di pendidikan tinggi di Makassar yang dinilai kerap kali terjadi miscommunication antara mahasiswa dan dosen.

 
“Aktivitas dosen di Makassar tidak banyak didengar kiprahnya dan penelitian pun belum banyak mendapat sorotan,” papar Citra tentang alasannya mengungkap fenomena tersebut.

 

Menurut Citra, budaya lokal yang sangat kuat di Makassar mempengaruhi komunikasi yang dilakukan oleh dosen. Kondisi kampus dan kebijakan yang berubah-ubah membuat dosen di Makassar berhadapan dengan permasalahan komunikasi, kebijakan, sosial, dan budaya yang seringkali disikapi secara berbeda-beda,”

 
Fenomena yang dihadapi dosen, lanjutnya antara lain motivasi yang mendasari profesi sebagai dosen, pengalaman komunikasi sebagai dosen, motivasi dosen berkomunikasi, komunikasi dosen di dalam kampus, di kelas, maupun di luar kelas. Selain itu, komunikasi dosen di luar kampus serta budaya kampus memengaruhi tindakan komunikasi yang dilakukannya demi memenuhi berbagai peran dan tanggungjawab komunikasi.

 
“Seorang pendidik dan ilmuwan bukanlah mereka yang serba tahu akan tetapi harus konsisten pada bidang keahliannya,” tambah Citra.

 
Citra mengkategorikan komunikasi dosen di dalam kelas. Menurutnya ada dosen pemaksa, dosen pencerita, dosen humoris, dosen pembimbing, dan dosen motivator. Sedangkan komunikasi dosen di luar kampus terbagi menjadi dosen pengajar, dosen pesohor, dosen pekerja, dan dosen pejabat. Secara garis besar, temuan penelitian ini menghasilkan dosen intra, dosen ekstra, dan dosen integrasi. Budaya setiap kampus memengaruhi sumber daya pendidiknya, baik dari proses perekrutan, karakter mengajar hingga gaya berkomunikasi.

 
Citra pun juga menegaskan komunikasi sebagai ilmu harus diajarkan di berbagai bidang pendidikan sebab sebagai salah satu kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia pendidikan, komunikasi sangat diperlukan dalam berbagai profesi. “Penampilan (appearance) adalah bagian dari komunikasi nonverbal yang belum disadari pentingnya oleh dosen sebagai pendidik dan ilmuwan di Makassar” tambahnya.

 
“Sistem pendidikan tinggi yang melibatkan banyak pihak dan cepatnya perubahan kebijakan di Indonesia saat ini cenderung hanya menghasilkan sarjana bukan ilmuwan,” ujar Citra. (Evelynd)