Wendiyanto Saputro, Pemred Bloomberg TV

 

Wendiyanto-1-edit

BAGI Wendiyanto Saputro, alumni program studi jurnalistik Fikom Unpad angkatan 1993, Menjadi wartawan adalah menjadi wakil masyarakat untuk mencari tahu berbagai informasi yang menyangkut kepentingan publik dan bisa menyuarakannya secara luas. Nilai yang diberikan dunia jurnalisme pada kehidupannya begitu dalam. Dengan pekerjaan ini ia merasa bisa belajar seutuhnya mengenai nilai keegaliteran, gagasan, dan hidup yang dinamis.

 
Pengetahuan Wendi di seputar dunia jurnalisme telah ia perdalam melalui pengalamannya bergelut di media massa cetak dan elektronik. Sempat menjadi reporter di Radio Mara Bandung di awal karirnnya. Media massa cetak menjadi batu loncatan karir selanjutnya. Empat tahun bergelut dengan media massa cetak ternyata belum membuatnya puas. Ia kemudian menjatuhkan pilihannya pada jurnalisme televisi.

 
Sejak tahun 2001 hingga kini televisi menjadi pilihan Wendiyanto untuk karir jurnalistiknya. Pada prinsipnya, segala kompleksitas yang ada di dalam kegiatan televisi menjadi salah satu alasan kuat ia bertahan. Bekerja di TV One dan Metro TV selama belasan tahun dan memberinya banyak pengetahuan. Kerja tim di TV juga lebih kompleks, sehingga cara berkomunikasi tidak hanya terkait pemberitaan tapi juga menyangkut komunikasi di dalam tim kerja. Alasan-alasan tersebut memberinya motivasi untuk terjun lebih dalam di bidang jurnalisme TV.

 
Wendiyanto-3-edit

Pengalaman kerja bagi Wendi sudah tak terhitung jumlahnya. Mulai dari reporter media cetak, reporter radio, news manager dan producer TV hingga kini menjadi pemimpin redaksi Bloomberg T. Namun dari segala pengalaman yang ia alami, tak ada yang buruk buatnya. Semua pengalaman merupakan pembelajaran yang selalu positif, sekalipun itu tidak mengenakkan baginya.

 
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi pria kelahiran 21 Mei ini adalah ketika mendapatkan berita eksklusif. Ketika menayangkan berita paling cepat dan juga ketika dapat melaporkan sebuah peristiwa paling lengkap. Beberapa peristiwa mengesankan yang pernah ia liput misalnya saat Presiden Abdurrahman Wahid dilengserkan, saat mengikuti kegiatan para Capres-Cawapres berkampanye (Pemilu 2004), juga saat menangani tayangan Pemilu 2009 yang penuh dinamika.

 
Ditanya mengenai kondisi pers Indonesia saat ini menurut Wendi sudah menunjukkan indikator kebebasan. Dalam artian, bebas dari intervensi penguasa dan regulasi yang membelenggu. Menurutnya tantangan terbesar kebebasan pers justru dari investor serta kalangan pekerja pers itu sendiri. Godaan yang lebih berat justru datang dari kalangan terdekat, ungkapnya.

 
Kondisi politik yang terkadang panas menjadi salah satu cobaan terberat dunia jurnalisme. Baik untuk pengelola maupun para kru pekerjanya. Intervensi yang muncul dari berbagai kalangan dapat menggoyahkan independensi seorang jurnalis yang harusnya mementingkan rakyat. Menurut Wendi, intervensi ini biasanya muncul pada beberapa program tayangan tidak pada seluruh kebijakan editorial. Ketika hal ini sudah terjadi, wartawan hanya bisa untuk tetap bekerja profesional, mengutamakan news judgement dan berargumentasi secara rasional dalam rapat redaksi.

 
Wendiyanto kini menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Bloomberg TV Indonesia. Kepercayaan ini ia peroleh sejak tahun 2012. Melalui debut karirnya kini ia berharap pers Indonesia semakin baik dan independen menyuarakan kepentingan masyarakat. Para pekerja pers-nya semakin profesional dan secara bisnis menguntungkan sehingga bisa memberi kesejahteraan kepada para pekerjanya. (Nila Kusumasari)