Yasir, Raih Gelar Doktor dengan Disertasi “Sinetron Tukang Bubur Naik Haji”

 
Dr.Yasir,MSi bersama keluarga. (Foto Koleksi Pribadi).

Dr.Yasir,MSi bersama keluarga. (Foto Koleksi Pribadi).

BANDUNG – Dosen Universitas Riau, Yasir, belum lama ini berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Eksploitasi Simbol Agama dan Budaya dalam Industri Televisi (Kajian Ekonomi Politik Komunikasi dan Analisis Wacana Kritis pada Program Sinetron Tukang Bubur Naik Haji di RCTI)”. Di hadapan penguji Program Doktor Komunikasi Fikom Unpad di Gedung Pasca Sarjana Kampus Unpad Bandung.

 
Yasir dipromotori oleh Prof. Deddy Mulyana, MA,Ph.D, Dr.Dadang Rahmat Hidayat,S.Sos,SH, MSi dan Dr.Siti Karlinah MSi. Sedangkan bertindak sebagai tim oponen ahli adalah Prof.Dr. Atie Rachmiati, MSi, Dr. Atwar Bajari, MSi, dan Dr. Eni Maryani, MSi. Yasir berusaha membongkar bentuk eksploitasi simbol agama Islam dan budaya Betawi dan pengaburan makna yang terjadi dalam teks, mekanisme produksi, distribusi, dan konsumsi sinetron, dan mengungkap praktik sosiokultural pada sinetron religi Tukang Bubur Naik Haji.

 
Dalam disertasinya, Yasir mengungkap, simbol agama Islam dan budaya Betawi telah dieksploitasi sebagai komoditas untuk diperjualbelikan dan maknanya dikaburkan. Simbol tersebut dikomersialkan, melalui penggunaan kata-kata dan kalimat yang sensasional, provokatif dan hiperbola agar menghibur khalayak dan menarik pengiklan.

 
“Sinetron diproduksi dan dikonsumsi dalam sebuah kerangka sistem kapitalis. Pekerja sinetron dan khalayaknya telah dieksploitasi secara berlebihan tanpa disadari oleh pekerja itu sendiri,” papar Yasir dalam abstrak disertasinya.

 
Masyarakat Indonesia sudah menyaksikan sinetron Tukang Bubur Naik Haji sejak 28 Mei 2012 hingga saat ini telah memasuki 1600 episode. Pencapaian ini mengangkat sinetron ini pada posisi nomor satu untuk sinetron terpanjang, dibandingkan sebelumnya sinetron Cinta Fitri yang bertahan hanya sampai episode ke 1007. Sinetron TBNH ini diklaim oleh produser, sutradara, dan bahkan pemainnya sebagi sebuah gambaran dari apa yang terjadi sehari-hari di masyarakat. Tokoh-tokoh yang ada di sinetron tersebut juga sangat dekat dengan penonton, bahkan Haji Muhidin yang memerankan tokoh antagonis sangat menarik emosi pemirsa akibat kelakuannya.

 
Banyak hal yang merepresentasikan simbol Islam dan Betawi serta pengaburan makna pada adegan-adegan sinetron TBNH ini. Seringnya berlatar tempat di mesjid adalah salah satu contoh manipulasi sebuah tempat ibadah menjadi tempat dialog yang berunsur konflik dan kepentingan komersial untuk mendapatkan perhatian pemirsa (rating) dan pengiklan.

 
Selain itu, pemakaian bahasa atau dialeg/aksen Betawi seperti; lu, aye, mpok, encing, kagak, dan sebagainya dimaknai sebagai bahasa gaul yang populer, namun juga memiliki makna hedonis, yang melekat sebagai budaya orang Jakarta yang feodalistik atau mengabaikan budaya lain yang ada di daerah.

 
Yasir pun juga menegaskan bentuk eksploitasi agama dan budaya ini adalah hilir dari permasalahan yang ada di hulu yaitu yang terkait dengan regulasi pertelevisian, sistem politik dan perekonomian di Indonesia. Wacana Islam dan budaya etnis Betawi menjadi bagian dari wacana industri budaya populer yang akan terus diproduksi yang memunculkan budaya populer di masyarakat. Konstruksi budaya televisi ini tidak terlepas dari kekuasaan konglomerasi dan pemusatan kepemilikan media.

 

 

“Ini adalah akibat kurangnya kontrol dari pemerintah dan pelaksanaan undang-undang serta penegakan hukum yang lemah,” tambahnya. (Evelynd)