Yudiana Indriastuti, Raih Doktor melalui Penelitian Politisi Perempuan di Jatim.

 

DSC02969

BANDUNG – Keterlibatan politisi perempuan dalam politik di Jawa Timur masih belum mencerminkan kemampuan diri sendiri. Kemampuannya masih didasarkan pada dukungan suami dan keluarga besar.

 
Politisi perempuan yang berhasil adalah mereka yang mempunyai keyakinan kuat dan mampu menempatkan dirinya setara dengan politisi laki-laki. Kesadaran perempuan dalam berpolitik pun mendorong perempuan untuk berani mengambil peran kelas menengah progresif seperti menjadi aktivis LSM, wartawan, pengusaha, sehingga akses politis itu terbuka dan diperhitungkan.

 
Dosen UPN Jatim, Yudiana Indriastuti mengungkapkan hal itu dalam disertasinya berjudul Manajemen Komunikasi Politik Politisi Perempuan (Studi Kasus Manajemen Komunikasi Politik Politisi Perempuan dalam Kehidupan Berpolitik di Jawa Timur) yang dipertahankannya dalam sidang terbuka di Program Doktor Ilmu Komunikasi Fikom Unpad, belum lama ini di Bandung. Yudiana dipromotori oleh Prof.Dr. Engkus Kuswarno, Dr.Eni Maryani,MSi dan Dr.Suwandi Sumartias,MSi. Penelitiannya dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk mengkaji lebih komprehensif tentang kompetensi komunikasi politik politisi perempuan di Jawa Timur, Yudiana menggunakan pendekatan model manajemen komunikasi Michael Kaye.

 
Yudiana menemukan beberapa hasil dari penelitiannya, diantaranya, kompetensi komunikasi interpersonal politisi perempuan dilihat dari aspek kognitif dan aspek adaptasi terlihat lemah. Faktor kepemimpinan yang saat ini dimiliki oleh para politisi perempuan memberikan kontribusi dalam membangun kompetensi komunikasi politisi perempuan meskipun tidak besar. Kontribusi tersebut semakin nyata ketika politisi perempuan menjadi orang nomor satu di sebuah daerah.

 
Temuan terpenting lainnya adalah politisi perempuan cenderung mengabaikan media massa sebagai saluran komunikasi politik untuk menunjukkan jati diri sebagai politisi perempuan yang handal. . “Pendidikan politik untuk perempuan pun dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai lembaga kemasyarakatan dan media massa,” tambah Yudiana.

 
Yudiana juga menegaskan, sebetulnya media massa dapat dimanfaatkan sebagai saluran komunikasi politik dan  sebagai sarana investasi politik. “Media massa diharapkan memberikan ruang yang cukup bagi politisi perempuan untuk menunjukkan kompetensi komunikasi politiknya,” tegas Yudiana.

 
Yudiana menambahkan, “Komunikator politik dituntut untuk dapat mengelola pesan dan menyatakan sikap politiknya dengan tegas. Komunikator politik yang mampu menjembatani aspirasi publik lebih berpeluang untuk meraih simpati massa dan konstituennya.” ujar Yudiana. (Evelynd)