
Menimbang Kembali Identitas China
Perayaan Tahun Baru China (Imlek) sering diidentikkan dengan suasana gembira, warna merah semarak di mana-mana, lampion, nyala lilin, dodol China, dan pertunjukan barongsai. Warga China telah berabad-abad tinggal dan beranak cucu di Indonesia. Sebagian berjasa kepada negeri ini, terutama sebagai pahlawan olahraga, seperti Rudi Hartono, Susi Susanti, dan Alan Budikusumah. Sayangnya sebagian lagi masih dianggap warga kelas dua oleh warga lain yang menganggap diri pribumi. Pemerintah pun masih diskriminatif dengan tidak memberikan kewarganegaraan kepada mereka. Akar masalahnya adalah pandangan kita yang sempit mengenai identitas etnik.
Dua Perspektif tentang Identitas Etnik
Selama ini kita cenderung menganut pandangan objektif (struktural) mengenai identitas ke-China-an alih-alih pandangan subjektif (fenomenologis). Pandangan objektif memandang bahwa identitas etnik sebagai pasif dan statis, sebagai bawaan, nyata, dan berdasarkan kategori-kategori yang ditetapkan, misalnya bahasa, agama, atau asal-usul kebangsaan. Ciri-ciri fisik seperti warna kulit, bentuk mata, dan warna rambut, sering menjadi ukuran. Sekali seseorang itu dikategorikan China maka sampai kapanpun ia tetap China. Pandangan itu biased karena mengabaikan pengalaman otentik anggota etnik.
Kontras dengan perspektif objektif, perspektif subjektif memandang identitas etnik sebagai proses aktif dan dinamis yang dialami kelompok etnik bersangkutan dan diidentifikasi demikian oleh orang lain, dan karenanya menekankan kesadaran psikologis mereka. Menurut pandangan ini, justru kesadaranlah sebagai inti identitas etnik, bukan ciri-ciri fisik.Tidak salah jika seorang China yang lahir di Indonesia, bergaul dengan orang dari beragam etnik lainnya, berbicara bahasa Indonesia dan makan makanan Indonesia, merasa lebih sebagai orang Indonesia daripada sebagai orang China, meski nenek moyangnya lahir di daratan China. Jika kita setuju bahwa kesadaran adalah esensi identitas etnik atau kebangsaan seseorang, maka seorang China yang membela Indonesia di kancah olahraga internasional untuk mengharumkan nama Indonesia boleh jadi lebih nasionalis daripada orang Jawa atau orang Sunda yang menjual aset negara untuk kepentingan diri atau kelompoknya. Maka tidak adil untuk menyamaratakan identitas seseorang berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Pandangan ini sering kental dengan stereotip, yakni penyamarataan yang berlebihan atas sekelompok orang dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Stereotip sering destruktif. Kebencian terhadap seseorang dari suatu kelompok etnik sering menjadi kebencian terhadap kelompok etnik bersangkutan secara keseluruhan. Jika terjadi konflik antaretnik, orang-orang yang tidak bersalah pun menjadi sasaran. Ini sering terjadi di Indonesia.
Salah satu varian dari perspektif subjektif terhadap identitas etnik adalah pendekatan Fredrik Barth (1969). Bagi Barth identitas etnik itu cair, digunakan individu dalam interaksi dengan orang lain. Diasumsikan, para aktor berupaya mengeksploitasi simbol-simbol budaya dan menampilkan perilaku etnik tertentu. Seseorang dapat menjadi seorang China, seorang Indonesia, bahkan seorang manusia antarbudaya (warga dunia) bergantung dalam situasi apa, di mana, untuk tujuan apa, dan dengan siapa ia berinteraksi. Sisi “negatif” dari pendekatan ini adalah bahwa orang-orang boleh jadi memanipulasi identitas etnik mereka untuk memperoleh keuntungan pribadi, khususnya yang bersifat ekonomi dan politik. Namun upaya tersebut tidak selamanya berhasil karena kendala yang ada, misalnya karena ciri-ciri fisiknya atau bahasa (Indonesia) nya yang berlogat kedaerahan, mengingatkan orang pada kelompok etnik tertentu.
Membumikan Identitas China
Istilah prbumi dan nonpribumi sudah kadaluarsa, sebagaimana istilah Indonesia asli dan bukan asli. Kita semua, apapun etnik kita, adalah keturunan Nabi Adam yang dulu hidup di luar bumi Indonesia. Marilah kita bersatu demi memajukan Indonesia. Sejak awal masa reformasi (1998), warga China tampaknya semakin teintegrasi dengan orang-orang Indonesia lainnya, termasuk yang selama ini disebut rumpun Melayu. Kini kita memiliki pejabat setingkat menteri yang orang China. Jika pada masa lalu, orang-orang China dominan sebagai pemain bulutangkis papan atas, kini sejumlah penyanyi, pemain sinetron, atau presenter TV pun orang China, seperti Agnes Monica, Delon, Ferry Salim, dan Roger Danuarta. Sayangnya, buku-buku mengenai kehidupan orang China di Indonesia masih sedikit, terutama yang bersumber dari hasil-hasil penelitian yang menggunakan perspektif fenomenologis. Tampaknya orang-orang China-lah yang sebaiknya memperbanyak penelitian tentang kelompok mereka karena hal itu lebih mudah dilakukan. Ada baiknya orang-orang China di Indonesia meniru orang-orang Belanda yang meneliti kehidupan bangsa mereka di Indonesia pada zaman kolonial, dan menerbitkannya dalam ribuan judul buku.
Acara-acara TV kita dewasa ini juga masih kurang mengeksplorasi kehidupan orang-orang China. Kalaupun ada, acara-acara seperti itu bersifat musiman, seperti sekitar Tahun Baru Imlek, atau sekadar guyonan dan parodi, seperti dalam acara Ekstravaganza Trans TV. Bila televisi lazim menayangkan budaya Jawa, Sunda, Minangkabau, Batak, Bali, dsb. budaya China pun tak perlu dikucilkan? Suatu acara TV yang menarik, sinetron misalnya, dapat menayangkan konflik dan solusinya antara orang Sunda atau orang Jawa dengan orang China, secara santun, kreatif dan jenaka, di lingkungan tetangga, sekolah ataupun pekerjaan. Seperti opera sabun Amerika yang klasik dan sukses, All in the Family, dengan tokohnya Archie Bunker yang menyebalkan dan rasis terhadap orang Amerika non-kulit putih, namun juga jenaka. Tema-tema antaretnik ini (termasuk antara orang Melayu dan orang India atau orang Arab) sebenarnya melimpah dan tidak akan pernah kering. Namun etika bersama harus kita jaga. Misalnya, acara tersebut tidak boleh melecehkan ajaran suatu agama yang dianut masyarakat kita.
Selain acara TV, film layar lebar juga, dapat digunakan untuk mengeksplorasi seluk beluk budaya China dan perubahan identitas China dari masa ke masa. Film Chau Bau Kan dan Gie, adalah dua contoh film yang bagus mengenai hal ini. Tidak kurang pentingnya adalah pelajaran di sekolah atau mata kuliah yang menyentuh pentingnya saling pengertian antara berbagai etnik di Indonesia, seperti Antropologi Budaya, Bahasa Mandarin, Psikologi Antarbudaya, Komunikasi Antaretnik atau Komunikasi Lintasbudaya. Last but not least, pemerintah seyogianya membuka pintu lebih lebar kepada warga China untuk menjadi PNS dan TNI. Berkat keanekaragaman etnik dan saling pengertian antaretnik inilah kita akan menjadi bangsa yang besar. Gong Xi Fat Chai! (DM).
Catatan Redaksi :
Artikel ini merupakan tulisan Prof. Deddy Mulyana yang pertama kali dipublikasikan di Koran Seputar Indonesia, Kamis, 7 Februari 2008.
