
Fikom Unpad Gelar Workshop Metodologi Penelitian Lingkungan, Tekankan Peran Komunikasi
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran melalui Pusat Studi Komunikasi Lingkungan (Pusdikomling) menggelar workshop bertajuk “Pematerian Metodologi Penelitian Lingkungan” pada Senin (20/4/2026). Kegiatan ini menegaskan bahwa krisis lingkungan yang dihadapi saat ini tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga merupakan krisis komunikasi.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Oemi Abdurahman, Gedung 1 Fikom Unpad ini menghadirkan tiga pakar komunikasi, yakni Prof. Dr. Atwar Bajari, M.Si., yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Profesor Unpad dan Ketua ISKI Pusat, Dr. Herlina Agustin, S.Sos., M.T., selaku Ketua Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Unpad, serta Dr. Gema Nusantara Bakry, M.I.Kom, dosen Unpad. Ketiganya membahas berbagai pendekatan metodologis dalam riset lingkungan, mulai dari perspektif kuantitatif hingga kualitatif, serta relevansinya di era digital.
Lingkungan dan Komunikasi
Kepala Pusdikomling Fikom Unpad, Dr. Herlina Agustin, menekankan bahwa keberhasilan kebijakan lingkungan sangat bergantung pada bagaimana pesan disampaikan dan dipahami oleh publik. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan lingkungan.
“Perubahan perilaku itu terjadi melalui tiga hal: pembelajaran individu, meniru perilaku orang lain, serta sistem punishment dan reward,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa isu lingkungan sering kali bersinggungan dengan aspek sosial yang sensitif, sehingga membutuhkan pendekatan komunikasi yang tepat. Dalam konteks kebencanaan, ia menegaskan bahwa faktor manusia tidak dapat dilepaskan dari dinamika lingkungan.
“Bencana bukan semata-mata faktor alam, melainkan karena manusia berada di wilayah yang menjadi jalur pergerakan alam tersebut,” tambahnya.
Metodologi dan Tantangan Riset
Dalam sesi berikutnya, Dr. Gema Nusantara Bakry menyoroti pentingnya metode kuantitatif dalam mengukur efektivitas komunikasi lingkungan, khususnya di ruang digital. Ia menekankan bahwa penelitian harus disusun dengan variabel yang jelas dan terukur.
“Isu lingkungan seperti perubahan iklim dan sampah plastik bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan komunikasi,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan seperti Social Network Analysis (SNA) dapat membantu mengidentifikasi aktor kunci dalam penyebaran isu lingkungan, sehingga strategi komunikasi dapat dirancang lebih efektif.
Sementara itu, Prof. Atwar Bajari menegaskan bahwa pendekatan kualitatif tetap memiliki peran penting dalam memahami makna di balik fenomena lingkungan.
“Pendekatan kualitatif menjelaskan makna di balik data yang tidak dapat ditangkap oleh angka,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap lingkungan perlu melihat pengalaman manusia sebagai bagian dari realitas sosial yang lebih luas.
Etika dan Arah Pengembangan Riset
Selain metodologi, workshop ini juga menitikberatkan pentingnya etika dalam penelitian, terutama di tengah perkembangan riset digital. Integritas data, transparansi, serta perlindungan privasi responden menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.
Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga dipandang sebagai peluang dalam pengolahan data berskala besar, meskipun tetap memerlukan kontrol manusia dalam proses interpretasi.
Workshop yang diselenggarakan secara hybrid ini diikuti oleh mahasiswa, akademisi, dan praktisi dari berbagai daerah. Format ini membuka ruang partisipasi yang lebih luas sekaligus memperkuat jejaring pembelajaran di bidang komunikasi lingkungan.
Melalui pendekatan metodologis yang kuat, Fikom Unpad menempatkan komunikasi sebagai salah satu kunci dalam menjembatani pemahaman publik terhadap isu lingkungan yang semakin kompleks. (DM)




