
Ketika Prestasi Tak Lagi Soal Sertifikat: Cerita Rafi Ahmad Zaidan
“Prestasi bukan lagi soal sertifikat atau pengakuan semata, tapi tentang seberapa besar kita bisa hadir dan memberi dampak kepada lingkungan sekitar,” ungkap Rafi Ahmad Zaidan, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Universitas Padjadjaran 2026, cara memandang prestasi baginya telah banyak berubah sejak pertama kali ia menginjak bangku kuliah.
Berawal dari Lingkungan
Motivasi Zaidan tidak hanya datang dari satu sumber. Lingkungan Fikom Unpad yang dipenuhi dengan individu aktif dan terus berkembang menjadi pemicu awal dirinya untuk terus berproses. Baginya, dengan dikelilingi oleh orang-orang yang selalu bergerak dan berkarya, ia merasa terdorong untuk tidak tertinggal.
Namun di balik itu, adanya dorongan personal yang lebih dalam, membuat Zaidan menyadari bahwa masa muda tidak berlangsung lama, di mana waktu emas inilah yang ia jadikan sebagai batu loncatannya. Baginya, lebih baik mencoba dengan risiko gagal daripada tidak mencoba sama sekali dan berujung penyesalan.
Tetap Melangkah Meski Tak Sepenuhnya Siap
Menariknya, perjalanan Zaidan menuju Mahasiswa Berprestasi tidak dibangun dari persiapan panjang yang matang. Ia justru mengakui bahwa prosesnya terjadi dalam waktu yang cukup terbatas. Sosialisasi yang singkat membuatnya tidak memiliki waktu sebanyak peserta lain dalam mempersiapkan gagasan kreatif.
Alih-alih memaksakan diri mengejar hal yang tidak sempat ia maksimalkan, Zaidan memilih untuk fokus pada kekuatannya. Sebagai mahasiswa Fikom, kemampuan komunikasi menjadi senjata utama yang ia gunakan. Ia berusaha menyampaikan ide dengan sebaik mungkin, sehingga bisa tersampaikan dengan baik saat mempresentasikannya.
“Saat itu aku cuma mikir, aku mapres Fikom. Aku akan jadi mapres Unpad. So, I fake it until I make it.” Ujar Zaidan. Dengan pendekatan tersebut, ia mampu tetap percaya diri tanpa terbebani tekanan berlebih.
Tidak Berhenti di Tengah Tengah Proses
Salah satu prinsip yang dipegang Zaidan adalah pepatah Sunda yaitu, “Ulah kumeok memeh dipacok,” (jangan menyerah sebelum mencoba). Prinsip ini menjadi landasan dalam setiap proses yang ia jalani, baik dalam ajang Putra Putri Padjadjaran maupun Mahasiswa Berprestasi. Karena baginya, yang terpenting bukanlah ketika mencoba langsung berhasil, melainkan tidak berhenti di tengah jalan sebelum mengetahui hasil akhirnya.
Yang Tak Terlihat dari Sebuah Pencapaian
Zaidan tidak menutup mata bahwa dalam perjalanannya, ia juga pernah mengambil keputusan yang tidak berjalan sesuai harapan. Namun dengan adanya pengalaman tersebut, kegagalan adalah bagian yang memang harus dialami, terutama di usia muda.
Ia percaya bahwa kegagalan justru menjadi ruang belajar sebelum menghadapi tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. Terutama setelah ia meraih gelar Mahasiswa Berprestasi, tantangan baru pun muncul.
Ia merasakan adanya ekspektasi untuk tetap menjaga performa, baik secara akademik maupun non-akademik. Meski begitu, ia menganggap tekanan tersebut masih dalam batas yang sehat dan justru menjadi dorongan bagi dirinya untuk terus berkembang.
Banyak Peran di Balik Pencapaian
Zaidan menyadari bahwa pencapaian yang ia dapatkan selama ini tidak lepas dari peran lingkungan. Kesempatannya menjadi Putra Padjadjaran hingga mengikuti ajang Mahasiswa Berprestasi membawanya bertemu dengan banyak individu inspiratif dari berbagai fakultas.
Baginya, relasi dan lingkungan tersebut menjadi “batu loncatan” yang penting dalam setiap perjalanannya hingga bisa berada di titik saat ini. Ia juga menegaskan bahwa terlalu sederhana jika semua pencapaian ini dianggap hanya hasil usaha pribadi semata, karena lingkungannya di Himpunan, Bem, Dosen, hingga teman-temannya juga menjadi dukungan untuknya.
Menjaga yang Sudah Dicapai
Zaidan mengatakan bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih menantang, daripada mendapatkan prestasi, karena melakukan sesuatu dengan baik memang tidak mudah, namun melakukannya secara konsisten dalam jangka panjang adalah tantangan yang lebih besar.
Refleksi dari Proses yang Telah Dilalui
Jika diberi kesempatan untuk kembali ke awal masa kuliah, Zaidan ingin lebih banyak mempersiapkan dirinya dari segi keilmuan dan kesiapan. Karena ia percaya dengan persiapan yang seadanya selama ini bisa menghasilkan dirinya yang saat ini, namun jika ia bisa mempersiapkannya lebih matang, hasilnya akan lebih maksimal juga.
Zaidan juga menyampaikan bahwa selama ini ia sering belajar di tengah proses, namun ia berpikir bahwa akan lebih menyenangkan dan lebih baik hasil yang ia dapatkan jika sebelumnya ia bisa membekali dirinya dengan berbagai hal yang ia perlukan.
Di akhir, ia menyampaikan pesan untuk dirinya di masa lalu, bahwa tetaplah memiliki rasa penasaran, jangan takut menghadapi apa yang ada di depan, dan jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Karena bagi Zaidan, berada di titik sekarang adalah sesuatu yang dulu mungkin hanya menjadi mimpi.
Untuk Mahasiswa yang Sedang Berproses: Manfaatkan Kesempatan yang Ada
Dari banyaknya kesempatan dan pengalaman yang sudah ia coba, jalani, dan masih ditekuninya hingga saat ini. Zaidan menyampaikan pesan untuk mahasiswa yang sedang berproses juga, “Tolong percaya bahwa posisi kamu yang saat ini, berada di Fikom Unpad adalah mimpi dari jutaan orang di luar sana. Jadi manfaatkanlah kesempatannya, jangan menyia-nyiakan masa ini, karena empat tahun berada di Fikom bukanlah waktu yang lama. Ini adalah masa-masa yang seharusnya bisa menjadi titik balik kita dengan versi yang terbaik setelah menyelesaikan studi di Fikom Unpad.”
Rafi Ahmad Zaidan sebagai Top 5 Mahasiswa Berprestasi Universitas Padjadjaran dari Prodi Ilmu Komunikasi.
Aulia Nur Ghaida
(+62) 812-6658-7928



