
Bedah Buku Fans Politik, Bukan Pemilih di Fikom Unpad Bahas Demokrasi di Era Fandom Digital
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menggelar bedah buku Fans Politik, Bukan Pemilih: Membaca Politik Digital sebagai Kultur Fandom, Afeksi, Simbol, Algoritma, dan Kewarganegaraan Digital di Ruang Oemi Abdurrahman FIKOM Unpad, Rabu (13/5/2026).
Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Suwandi Sumartias, M.Si., Garry Brumadyadisty, S.S., M.M., serta Dr. Siska Armawati Sufa, S.Sos., M.I.Kom. Melalui buku tersebut, para penulis mengajak pembaca melihat perubahan budaya politik di Indonesia, terutama ketika perilaku politik masyarakat di ruang digital mulai menyerupai kultur fandom.
Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dipandu oleh Ronal Sunandar, S.Sos., M.I.Kom. Diskusi juga menghadirkan Dr. Evie Ariadne Shinta Dewi, M.Pd., dosen Komunikasi Politik Fikom Unpad, sebagai pembahas yang memberikan sudut pandang kritis mengenai relasi antara politik, budaya populer, algoritma, dan partisipasi warga di era digital.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Suwandi Sumartias, M.Si., menjelaskan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan terhadap praktik politik yang semakin bergerak mengikuti pola industri hiburan. Figur politik, menurutnya, kini kerap diposisikan layaknya idola. Kampanye politik juga semakin banyak dikemas sebagai konten digital yang menekankan kedekatan emosional, simbol, dan popularitas.
Ia menilai perubahan ini perlu dicermati karena dapat berdampak pada kualitas nalar publik. Ketika pilihan politik lebih banyak digerakkan oleh emosi dan loyalitas kelompok, ruang diskusi publik berpotensi semakin terpolarisasi.
“Yang berbahaya itu ketika netizen ini terpolarisasi, jadi semoga pelajar menengah ke atas tidak terjebak,” ujar Prof. Suwandi.
Ia juga menyoroti peran algoritma media sosial yang dapat membentuk filter bubble dan membuat pengguna terjebak dalam ruang gema kelompoknya masing-masing. Kondisi ini membuat masyarakat lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri, sementara pandangan berbeda semakin sulit diterima.
Sementara itu, Garry Brumadyadisty, S.S., M.M., menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan figur politik membangun citra yang lebih personal, akrab, dan dekat dengan audiens. Kedekatan semacam ini menjadi salah satu ciri kuat dalam kultur fandom digital, ketika relasi antara publik dan figur politik tidak hanya dibangun melalui gagasan, tetapi juga melalui afeksi.
Meski demikian, Garry menekankan pentingnya menjaga nalar kritis agar politik tidak sepenuhnya digerakkan oleh emosi.
“Kita perlu tetap menjaga akar rasional dan nalar kita. Jangan sampai semuanya tergantikan oleh sisi emosional yang akhirnya membuat politik tidak lagi bersifat objektif, melainkan menjadi subjektif,” tegas Garry.
Ia juga menyampaikan optimismenya terhadap Generasi Z. Menurutnya, generasi muda tetap memiliki kapasitas berpikir kritis selama ruang refleksi, diskusi rasional, dan literasi digital terus dipelihara.
Sebagai pembahas, Dr. Evie Ariadne Shinta Dewi, M.Pd., memaparkan analisis bertajuk “Demokrasi di Era Fandom: Ketika Politik Menjadi Pop Culture”. Ia menjelaskan bahwa komunikasi politik saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada rasionalitas warga negara, tetapi juga semakin dipengaruhi oleh keterikatan emosional sebagaimana yang terjadi dalam budaya fandom.
Menurut Dr. Evie, logika fandom dapat menggeser posisi warga negara dari pemilih rasional menjadi publik afektif yang lebih mengutamakan kedekatan emosional dibandingkan evaluasi terhadap gagasan, program, dan kebijakan. Ia juga menyoroti semakin sempitnya ruang kritik di ruang publik ketika loyalitas terhadap figur politik membuat perbedaan pandangan mudah dianggap sebagai serangan.
Dalam paparannya, Dr. Evie turut membahas sejumlah konsep penting dalam politik digital, seperti fan labor, yaitu aktivitas sukarela pendukung di media sosial melalui pembuatan meme, perang tagar, produksi konten, hingga upaya menjaga keterlibatan daring. Ia juga menyinggung fenomena echo chamber dan rekayasa afeksi yang dibentuk oleh algoritma platform digital.
Di akhir pemaparannya, Dr. Evie mengajak publik untuk membangun demokrasi afektif yang tetap kritis. Dalam konteks ini, energi fandom tidak harus ditekan, tetapi perlu diarahkan menjadi partisipasi politik yang reflektif, sadar, dan bertanggung jawab.
Ronal Sunandar, S.Sos., M.I.Kom., selaku moderator, turut menyampaikan bahwa buku ini dapat menjadi bacaan penting untuk memahami dinamika politik digital hari ini.
“Ini buku yang menarik. Kalau dibaca, dapat membuka wawasan kita lebih dalam, dan semuanya bisa dijelaskan dengan mudah untuk dipahami,” ungkapnya.
Kegiatan bedah buku ini ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung aktif. Melalui diskusi tersebut, buku Fans Politik, Bukan Pemilih menghadirkan refleksi penting tentang arah demokrasi digital Indonesia: apakah masyarakat masih ingin menjadi pemilih yang kritis, atau justru semakin nyaman menjadi fans politik yang loyal terhadap figur tertentu.
Penulis : Aulia Nur Ghaida
Editor : Humas Fikom Unpad
Foto : Humas Fikom Unpad






