
Pusdi Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad Dorong Riset Neurofisiologi dalam Komunikasi Digital
Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) menggelar seminar akademik tentang masa depan riset komunikasi digital berbasis neurofisiologi dan emosi. Kegiatan bertajuk “Masa Depan Riset Ilmu Komunikasi: Integrasi Neurofisiologi, Emosi, dalam Komunikasi Media Digital” ini berlangsung di Ruang Sidang Promosi Doktor Fikom Unpad, Rabu (20/5/2026).
Seminar tersebut menghadirkan Dr. Dewanto Putra Fajar, S.Sos., M.Si., akademisi Universitas Brawijaya sekaligus doktor lulusan Fikom Unpad. Dalam paparannya, Dewanto menekankan pentingnya pengembangan riset komunikasi yang tidak hanya melihat manusia sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai entitas biologis.
Menurutnya, penelitian komunikasi selama ini cenderung banyak bertumpu pada pendekatan survei dan perspektif ilmu sosial. Padahal, perilaku komunikasi manusia juga dipengaruhi oleh faktor biologis, termasuk kerja otak, sistem saraf, emosi, dan respons tubuh terhadap stimulus komunikasi.
“Aspek biologi menyediakan hardware seperti struktur otak dan neuron, sementara aspek sosial menyediakan software seperti kemampuan bahasa dan norma kesopanan,” ujar Dewanto.
Ia menjelaskan, integrasi antara aspek biologis dan sosial tersebut melahirkan perspektif communibiology atau biologi komunikasi. Paradigma ini memandang perilaku komunikasi manusia sebagai hasil interaksi antara proses biologis, psikologis, dan sosial.
Neurofisiologi sebagai Pendekatan Baru dalam Riset Komunikasi
Salah satu pembahasan utama dalam seminar ini adalah pemanfaatan perangkat diagnosis medis untuk mengamati respons tubuh ketika seseorang berinteraksi dengan stimulus komunikasi secara real-time. Dewanto memperkenalkan penggunaan beberapa alat, di antaranya Electroencephalograph (EEG) untuk membaca aktivitas gelombang otak dan Electrocardiograph (ECG) untuk memantau aktivitas jantung.
Pendekatan neurofisiologi dinilai dapat memperkaya metode penelitian komunikasi karena mampu menangkap respons fisiologis yang tidak selalu muncul melalui jawaban verbal atau kuesioner. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat bagaimana tubuh merespons pesan, media, atau pengalaman digital secara lebih langsung.
Dewanto menyampaikan bahwa metode tersebut dapat membantu mengurangi potensi bias sosial yang kerap muncul dalam kuesioner tradisional. Dalam banyak kasus, responden dapat memberikan jawaban yang dianggap paling benar secara sosial, tetapi tidak selalu sepenuhnya mencerminkan pengalaman emosi atau respons tubuh yang sebenarnya.
Sebagai contoh empiris, Dewanto memaparkan hasil riset disertasinya yang melibatkan anak-anak usia tujuh tahun di Kota Malang saat bermain video game. Dalam penelitian tersebut, permainan Crash Nitro Kart digunakan sebagai stimulus untuk mengamati respons neurologis dan fisiologis anak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas gelombang otak anak bergerak sangat dinamis. Kondisi ini menunjukkan adanya keterlibatan kognitif yang tinggi selama anak bermain. Namun, pada saat yang sama, denyut jantung mereka relatif stabil.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa interaksi anak dengan media digital tidak dapat dipahami hanya melalui satu indikator. Respons tubuh, ekspresi wajah, dan pengalaman subjektif perlu dibaca secara bersama-sama agar peneliti memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Model Koeksistensial Emosional dalam Komunikasi Digital
Dalam seminar tersebut, Dewanto juga memperkenalkan Model Koeksistensial Emosional, yaitu temuan yang menunjukkan adanya paradoks antara ekspresi wajah dan emosi yang dirasakan anak.
Melalui identifikasi Face Expression Recognition (FER), ekspresi wajah anak-anak saat bermain tampak serius, tegang, bahkan cenderung sedih ketika menghadapi tantangan permainan yang sulit. Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa anak-anak tersebut justru mengaku merasa senang.
“Apa yang tampak di wajah tidak selalu identik dengan apa yang dirasakan di dalam diri,” ungkap Dewanto.
Temuan ini menjadi penting dalam kajian komunikasi digital karena menunjukkan bahwa ekspresi yang terlihat secara kasat mata tidak selalu cukup untuk menjelaskan pengalaman emosi seseorang. Dalam konteks anak-anak dan media digital, pemahaman yang lebih utuh diperlukan agar orang tua, pendidik, maupun pembuat kebijakan tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari perilaku yang tampak di permukaan.
Dewanto juga menyampaikan bahwa pendekatan neurofisiologi memiliki peluang besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang riset komunikasi. Beberapa di antaranya adalah komunikasi kesehatan, efektivitas pesan iklan secara fisiologis, interaksi manusia dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), literasi media, hingga penanganan hoaks.
Menurutnya, pemahaman mengenai cara otak dan tubuh memproses stimulus media digital dapat menjadi landasan penting dalam menghadapi fenomena komunikasi kontemporer. Pendekatan ini juga dapat membantu orang tua dalam memahami pengalaman anak ketika berinteraksi dengan teknologi, termasuk video game dan platform digital lainnya.
Dorong Riset Komunikasi yang Lebih Interdisipliner
Kepala Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad, Dr. Yanti Setianti, M.Si., menyambut baik gagasan dan riset yang dikembangkan Dewanto. Menurutnya, penelitian tersebut memiliki nilai kebaruan yang kuat karena kajian tentang biologi komunikasi masih relatif jarang dilakukan, khususnya dalam lingkungan riset komunikasi di Indonesia.
“Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan, baik dari peserta yang hadir secara luring maupun daring. Paparan hari ini dapat memotivasi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian dengan menggunakan metode dan alat seperti yang digunakan oleh Dr. Dewanto,” ujar Yanti.
Yanti menilai, seminar ini menjadi ruang akademik yang penting untuk memperluas perspektif mahasiswa dan peneliti dalam melihat perkembangan ilmu komunikasi. Integrasi antara komunikasi, neurofisiologi, dan emosi membuka peluang bagi lahirnya penelitian-penelitian baru yang lebih kontekstual dengan perubahan masyarakat digital.
Seminar yang berlangsung selama dua jam ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi praktis, terutama bagi orang tua dan pengembang media digital. Dewanto menekankan pentingnya pendampingan yang komunikatif dan dialogis ketika anak berinteraksi dengan media digital.
Orang tua diharapkan tidak selalu berangkat dari prasangka negatif, tetapi berusaha memahami apa yang dirasakan dan dialami anak selama menggunakan media. Dengan demikian, interaksi anak dengan media digital dapat dilihat secara lebih proporsional, tidak hanya dari sisi risiko, tetapi juga dari sisi pengalaman, pembelajaran, dan perkembangan emosional.
Melalui seminar ini, Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad mendorong pengembangan riset komunikasi yang semakin terbuka terhadap pendekatan interdisipliner. Integrasi ilmu komunikasi dengan neurofisiologi diharapkan dapat memperkaya perspektif akademik sekaligus memberi kontribusi bagi pengembangan kebijakan publik, khususnya terkait perlindungan anak dan literasi media di era transformasi digital.
Penulis: Humas Fikom Unpad
Editor: Humas Fikom Unpad
Sumber: Siaran pers Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad
Foto: Dokumentasi Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad


