
Dari Humas Fikom Unpad ke Vidio Sports: Perjalanan Dioma Asatsuku di Industri Sports Entertainment dan Musik
Latar belakang pendidikan Hubungan Masyarakat tidak hanya membuka peluang karier di bidang public relations, tetapi juga dapat berkembang ke berbagai industri kreatif dan digital. Hal ini terlihat dari perjalanan karir Dioma Asatsuku, alumni Program Studi Hubungan Masyarakat FIKOM Unpad, yang kini berkarier sebagai Head of Sports Marketing Vidio sekaligus aktif sebagai drummer band Purpla.
Dioma merupakan alumni FIKOM Unpad angkatan 2010. Setelah menyelesaikan studi pada tahun 2014, ia memulai perjalanan profesionalnya di bidang corporate communications, kemudian melanjutkan karier ke industri e-commerce, artificial intelligence, hingga media digital dan sports entertainment.
Dalam wawancara ini, Dioma berbagi cerita tentang perjalanan kariernya, pengalaman bekerja di industri OTT, peran musik dalam kehidupannya, serta pesan bagi mahasiswa Fikom Unpad yang sedang mencari arah karir setelah lulus nanti.
Bagaimana perjalanan Kak Dioma sejak lulus dari Fikom Unpad hingga berada di posisi saat ini?
Saya masuk Fikom Unpad pada tahun 2010. Saat itu, mahasiswa masih mempelajari mata kuliah komunikasi secara umum selama dua semester pertama sebelum memilih jurusan di semester tiga. Setelah mempelajari berbagai mata kuliah bidang komunikasi, saya akhirnya memilih Public Relations karena merasa bidang tersebut paling sesuai dengan minat saya. Setelah lulus pada tahun 2014. saya memulai karier di Asuransi Astra di bawah divisi Corporate Communications. Meskipun tidak sepenuhnya berkaitan dengan PR, pekerjaan tersebut masih memiliki elemen-elemen yang berkaitan dengan PR, seperti branding dan promosi perusahaan.
Selanjutnya, dari Astra, saya bergabung dengan Shopee selama sekitar 2,5 tahun dan mulai terjun ke industri e-commerce yang saat itu berkembang sangat cepat, terutama saat pandemi. Setelah itu, saya sempat bekerja sebagai Event dan PR Manager di salah satu perusahaan artificial intelligence (AI) yang bergerak dalam pengembangan bot untuk layanan pelanggan, sebelum akhirnya bergabung dengan Vidio pada tahun 2022 hingga sekarang.
Saat ini Kak Dioma berkarier di Vidio Sports sekaligus menjadi drummer band Purpla. Bisa diceritakan tentang dua peran tersebut?
Saat ini saya sedang bekerja di industri media, khususnya dalam lini bisnis OTT yang bernama Vidio. Sebagai Head of Sports Marketing Vidio, saya menjalankan berbagai strategi marketing untuk seluruh konten olahraga di platform Vidio. Di perusahaan ini, industri sports menjadi salah satu fokus utama bisnis sehingga memang dibutuhkan tim khusus yang memahami dunia olahraga sekaligus marketing.
Selain itu, saya juga aktif sebagai drummer di band Purpla. Ketertarikan saya terhadap musik sebenarnya sudah ada sejak lama, yaitu dari tahun 2017. Seiring berjalannya waktu, saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat serupa, yang menjadi titik awal kami membentuk band Purpla secara serius. Bagi saya, musik juga menjadi media untuk menyalurkan emosi dan kreativitas di tengah tekanan pekerjaan profesional. Melalui Purpla, kami banyak mengangkat tema-tema urban yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti isu sosial dan berbagai konflik yang terjadi di lingkungan sehari-hari.
Apakah ada titik balik yang membuat Kak Dioma memilih dan bertahan di jalur karier ini?
Saya melihat masyarakat saat ini sudah semakin familiar dengan bisnis OTT, terutama gen Z yang banyak menggunakan internet untuk mencari informasi, hiburan, hingga mengakses berita. Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah saat mengerjakan projek untuk Piala Dunia 2022 di Qatar bersama Vidio. Saat itu, industri OTT di Indonesia memiliki banyak pesaing global seperti Netflix, HBO, dan Prime Video. Namun, Vidio berhasil bertahan dan berkembang melalui berbagai strategi yang relevan dengan pasar Indonesia. Menurut saya, pencapaian terbesarnya adalah ketika masyarakat Indonesia mulai terbiasa menikmati konten olahraga dan hiburan melalui layanan streaming digital.
Saya melihat perubahan perilaku masyarakat juga menjadi titik penting. Dulu, banyak orang belum terbiasa membayar untuk menonton olahraga melalui platform streaming. Namun, seiring meningkatnya awareness terhadap OTT, masyarakat mulai menerima model tersebut. Salah satu milestone terbesar bagi saya adalah ketika Vidio berhasil mencapai satu juta subscriber pada masa transisi 2023 ke 2024.
Apa tantangan terbesar yang pernah Kak Dioma hadapi, baik di dunia profesional maupun di bidang musik, dan bagaimana cara menghadapinya?
Menurut saya, tantangan terbesar adalah bagaimana menyampaikan sesuatu yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami masyarakat. Salah satu contohnya ketika tim Vidio Sports harus menyederhanakan sekitar 10 hingga 12 paket langganan menjadi hanya tiga paket utama. Proses tersebut cukup menantang karena berkaitan langsung dengan strategi bisnis perusahaan. Untuk mengatasinya, kami harus bekerja sama lintas divisi, mulai dari tim product, growth, engineer, PR, brand, hingga social media agar komunikasi yang disampaikan kepada publik tetap jelas dan mudah dipahami.
Selain itu, di bulan Juli-Agustus juga menjadi momen penting bagi Vidio Sports karena sebagian besar kompetisi sepak bola global mulai berlangsung pada periode itu. Hal ini membuat kebutuhan informasi yang terkoordinasi antar tim juga sangat penting untuk mendukung strategi promosi dan meningkatkan jumlah subscriber.
Purpla dikenal sebagai band yang menggabungkan musik dengan tema sepak bola. Dari mana ide tersebut berasal, dan bagaimana proses kreatif di baliknya?
Kami berempat memang sama-sama menyukai sepak bola, tetapi liga favoritnya berbeda-beda. Karena setiap kali berkumpul kami selalu membahas sepak bola, akhirnya tema tersebut terbawa ke dalam musik yang kami buat. Dalam proses kreatifnya, kami juga terinspirasi dari soundtrack game sepak bola seperti FIFA. Dari situ, kami mencoba menciptakan musik dengan nuansa serupa namun tetap menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Tema lagu Purpla pun beragam yang disesuaikan dengan tema sepak bola, mulai dari euforia kemenangan hingga rasa kecewa ketika tim sepak bola mengalami kekalahan.
Bagaimana cara Kak Dioma membagi waktu dan menjaga fokus antara pekerjaan profesional dan passion di bidang musik?
Menurut saya, kuncinya adalah membagi waktu secara adil dan fleksibel sesuai kebutuhan. Saat ada pekerjaan yang harus diprioritaskan, saya akan fokus terlebih dahulu pada hal tersebut, begitu juga sebaliknya dengan aktivitas bermusik. Lagipula, perkembangan teknologi saat ini juga sangat membantu proses kerja, termasuk dalam kegiatan bermusik. Banyak proses diskusi maupun workshop yang bisa saya lakukan secara online sehingga lebih efisien. Di Purpla sendiri, saya juga tidak berperan sebagai songwriter utama sehingga proses pembagian tugas di dalam band menjadi lebih seimbang.
Apakah ada ilmu atau pengalaman selama kuliah di Fikom Unpad yang paling bermanfaat dalam karier Kak Dioma?
Salah satu mata kuliah yang paling berkesan bagi saya adalah PR Event karena saya memang menyukai kegiatan yang berkaitan dengan event, baik di dalam maupun di luar kampus. Bahkan, saat kuliah saya sempat menjadi ketua dalam projek mata kuliah tersebut. Selain itu, mata kuliah Media Relations juga menjadi salah satu ilmu yang paling terasa manfaatnya dalam menjalani karier setelah saya lulus. Menurut saya, kemampuan membangun relasi dengan media tetap relevan meskipun perkembangan teknologi dan industri berlangsung sangat cepat.
Apakah ada prinsip atau nilai tertentu yang selalu Kak Dioma pegang dalam menjalani karier?
“Never Do It for Free”. Saya percaya bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan value yang kita miliki. Jadi, sangat penting untuk memahami apa yang benar-benar kita sukai dan tekuni. Selain itu “Be Bold with Your Statement”, juga menjadi prinsip saya dalam menjalani karier. Saya juga selalu berusaha untuk berani menyampaikan pendapat dan memberikan kontribusi terbaik sesuai dengan kemampuan yang saya miliki.
Apa pesan Kak Dioma untuk mahasiswa Fikom yang mungkin masih bingung menentukan arah kariernya?
Menurut saya, setiap orang memiliki jalan dan pandangannya masing-masing. Hal yang paling penting adalah memahami bidang atau industri yang benar-benar disukai. Ide bisa dimiliki banyak orang, tetapi eksekusi adalah hal yang paling menentukan dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Karena itu, mahasiswa harus berani mencoba, mengenali minatnya, dan mulai mengambil langkah kecil untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Menurut Kak Dioma, hal apa yang sebaiknya mulai dipersiapkan sejak masa kuliah, khususnya bagi mahasiswa yang ingin terjun ke media entertainment atau industri olahraga seperti Kakak?
Menurut saya, networking menjadi hal yang sangat penting untuk dipersiapkan sejak masa kuliah. Mahasiswa perlu memperluas relasi, menjaga silaturahmi, dan membangun hubungan baik dengan banyak orang. Selain itu, mahasiswa juga harus selalu memegang prinsip “Always Do Your Best”, dengan berusaha memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan, karena pada akhirnya, relasi dan reputasi yang baik akan membuka banyak peluang karier di masa depan.
Perjalanan Dioma menunjukkan bahwa ilmu komunikasi, khususnya Hubungan Masyarakat, memiliki ruang penerapan yang luas di berbagai industri. Dari corporate communications, e-commerce, teknologi, hingga sports entertainment, kompetensi komunikasi tetap menjadi fondasi penting dalam membangun strategi, menyampaikan pesan, mengelola relasi, dan memahami kebutuhan publik. Bagi teman teman mahasiswa Fikom Unpad, kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa karir tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Minat, pengalaman, jejaring, keberanian mencoba, dan konsistensi untuk memberikan yang terbaik dapat membuka banyak kemungkinan baru di masa depan.
Wawancara dan penulisan: Nayvashila Audyna
Editor: Tim Humas Fikom Unpad
Foto: Dokumentasi pribadi Dioma Asatsuku



