Menkominfo: Media Mainstream Tak Akan Punah

BANDUNG – Kendati digempur oleh media baru, media mainstream tidak akan mati, asal saja pengelolanya masih tetap mengedepankan faktualitas, aktualitas, dan obyektivitas pemberitaannya. Karena media massa harus menjaga kualitas SDM-nya di tengah gempuran informasi melalui media sosial.
Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara mengungkapkan hal itu dalam sambutan pembukaan Konferensi Internasional “Media Massa di Persimpangan Jalan” (Media at Crossroads Conference, “Survival Between Technological Development and Cultural Chance) yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Selasa (6/12) di Hotel Trans Luxury Hotel Bandung. Sambutan Menkominfo dibacakan oleh Staf Ahli Menteri, Drs. Gun Gun Siswadi MM. Menkominfo Rudiantara urung hadir karena ada rapat kabinet bersama Presiden Jokowi.
Tampil pula dalam acara ini Michael Gill (Councelor of Dragoman, Pendiri Presiden UNICEF Australia), Prof. Sung Kyum Cho (Departemen Komunikasi Uniuversitas Chungnam Korea), Arielle Emmeth,PhD (Direktorat Data Bank Dunia), serta Prof. Deddy Mulyana MA, PhD (Pakar Komunikasi Fikom Unpad).
Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Ahmad juga mengungkapkan peranan media massa dalam kehidupan massa kini khususnya dalam dunia pendidikan tinggi. Di tengah persaingan yang sengit, menurut Rektor Unpad, media massa arus atas harus mampu lebih meningkatkan kualitas pemberitaannya. Fikom Unpad sebagai fakultas yang mencetak calon pengelola media massa harus mampu lebih berperan lagi.
Menurut Rudiantara, gempuran media baru yang memanfaatkan teknologi internet ini telah menurunkan tiras media cetak di AS, Eropa dan negara maju di belahan yang lain. Hampir setengah pendapatan iklan media cetak di negara-negara tersebut sudah beralih ke media lain karena telah terjadi penurunan pelanggan media cetak.
Kecepatan media baru, khususnya media sosial, menurut Rudiantara telah mengalahkan media massa. Insiden Bom di Inggris beberapa waktu lalu, jutsru pertama kali disiarkan melalui video amatir yang dibuat oleh warga London yang kemudian menyebar ke seluruh dunia mengalahkan media massa mainstream.
Kendati dari segi aktualitas, media baru lebih unggul, namun dari sisi faktualitas dan etika pemberitaan, media sosial masih dikeluhkan oleh banyak pihak. Informasi melalui media sosial acapkali melabrak batas-batas etika dan kaidah-kaidah jurnalisme. Karena itu, masyarakat sebetulnya masih mempercayai media massa mainstream karena media massa konvensional ini masih teguh memegang etika dan profesionalisme pemberitaan. Karena itulah, media massa tidak akan punah.
Karena itu pula, lanjut Menteri Kominfo media mainstream harus lebih meningkatkan lagi kualitas SDM-nya. Jika tidak, dia bakal tergilas oleh media sosial. (AA)
