Tantangan Media di Era Transformasi Media Digital, Kuliah Umum Guru Besar HC Dahlan Iskan di Fikom Unpad
JATINANGOR – Mantan Menteri Menteri Badan Usaha Milik Negara (Menteri BUMN) Prof. Dr (HC) Dahlan Iskan, CEO Media Jawa Pos, menyampaikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 Fikom Unpad selama tiga jam pada Senin (2/4/2018) pagi di auditorium pascasarjana Fikom Unpad. Kuliah yang digagas Program Doktor (S-3) ini, mengambil topik “Tantangan Media di Era Transformasi Digital.” Paparan Dahlan dimulai dengan cerita pengalamannya selama perjalanan ke China, di mana Dahlan mendapatkan pengalaman lifestyle di China yang sudah serba digital. Tampil dengan gaya santai, Dahlan bercerita bahwa saat ini di Negara tirai bamboo tersebut, di manapun transaksi berlangsung, baik di warung ataupun toko, dilakukan dengan scaning gadget secara on-line. Juga, selama perjalanan menaiki angkutan umum semua pembayaran berbasiskan on-line. Hal itu sudah dimulai selama beberapa tahun berjalan.

Selanjutnya, Dahlan Iskan juga mengatakan bahwa delapan tahun ke depan, para pengajar seperti dosen akan digantikan oleh super komputer yang sudah memiliki sensitifitas emosi di samping kecerdasan yang sangat tinggi. Komputer itu sudah mampu membaca suasana hati setiap mahasiswa secara personal. Bandingkan dengan para dosen saat ini yang hanya membaca suasana hati mahasiswa secara kolektif, sehingga tidak mampu melayani dan memotivasi mereka untuk meningkatkan kapasitasnya. Super komputer dengan artificial intelligent itu mampu mengolah data yang besar dengan memahami garak dan ekspresi wajah setiap peserta didik setiap saat, sehingga layanan pembelajaran lebih personal. Artinya, profesi dosen delapan tahun ke depan terancam, begitu selorohnya dengan gaya yang ringan.
Dalam era transformasi digital, ancaman bukan hanya bagi pengelolaan media. Semua aspek kehidupan manusia akan tergantikan dengan kehadiran teknologi tersebut. Demikian tentunya media seperti televisi, surat kabar, dan radio. Namun Dahlan tidak pesimis bahwa, tranformasi ke era digital atau media on-line tidak akan mematikan media yang sudah ada. Tidak ada cerita dalam sejarah bahwa media baru akan membunuh media sebelumnya. Surat kabar dan media cetak tidak mati karena kehadiran radio, juga radio tidak mati ketika televisi hadir dengan menambahkan fasilitas visual selain audio. Seluruh media tersebut saat ini hidup semakin baik kemampuannya. Sehingga Dahlan yakin bahwa bisnis surat kabar seperti Jawa Pos yang dia pimpin, akan tetap dibutuhkan. Strateginya adalah, tergantung pada bagaimana mengelola media itu. Selama media itu dikelola secara sehat, kredibilitas media akan terjaga dan tetap menjadi rujukan pembaca serta iklan tetap masuk. Kasus kematian surat kabar di Indonesia, bukan karena media digital atau on-line, tetapi karena mis-manajemen pengelola dan tidak menyesuaikan dengan kebutuhan saat ini, tandasnya.

Penyampaian bahan kuliah yang kurang dari satu jam dari Dahlan Iskan, menarik perhatian sesi diskusi panjang lebar dengan para mahasiswa dan dosen. Dengan diselingi gaya kocak ala Dahlan dan selalu jujur bilang “tidak tau” jika pertanyaan sulit untuk dijawab. Kegiatan kuliah berlangsung hampir tiga jam, dan pada diskusi penutup Dahlan berpesan kepada mahasiswa, jika mau menggeluti profesi tertentu, lakukan yang terbaik sesuai kemauan serta selalu berpikir ”what its mean to me” tentang semua yang dipilih itu. (Atwar Bajari**)
