
Alarm Nasional Gangguan Kesehatan Mental Gen Z
Semakin hari, semakin nyaring. Ini bukan isu kesehatan biasa, tetapi merupakan krisis sosial, krisis pendidikan, dan krisis kebijakan publik.
Laporan Depkes RI 2026 tentang krisis kesehatan mental di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 34,5% remaja/Gen Z mengalami gangguan kesehatan mental, bahkan ada indikasi peningkatan hingga hampir 40%.
Faktor penyebab utamanya antara lain tekanan media sosial dan digital, pengaruh budaya, serta standar hidup yang tidak realistis yang memicu kecemasan dan rendah diri. Maraknya cyberbullying, tuntutan prestasi yang tinggi, kurangnya dukungan dari keluarga, konflik keluarga, serta gaya hidup yang tidak sehat seperti sering begadang dan minim aktivitas fisik, semakin memperburuk kondisi tersebut.
Masalah gangguan kesehatan mental biasanya muncul dalam bentuk stres, depresi, kecemasan, gangguan perilaku, eating disorder, self-harm, bahkan hingga munculnya ide bunuh diri. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada penurunan prestasi akademik, gangguan relasi sosial, menurunnya produktivitas, serta berisiko pada kecanduan obat terlarang, alkohol, dan sejenisnya.
Tantangan utama dalam penanganannya adalah menghilangkan stigma terhadap “gangguan mental”, keterbatasan akses layanan psikologis, serta kurangnya saluran komunikasi. Kondisi ini membuat informasi dari internet sering dijadikan rujukan untuk self-diagnosis akibat rendahnya literasi kesehatan mental.
Solusi strategis dalam penanganan gangguan kesehatan mental perlu dilakukan secara berjenjang. Dimulai dari individu melalui peningkatan literasi kesehatan, manajemen stres, dan digital detox. Di tingkat keluarga, diperlukan keterbukaan komunikasi dan dukungan emosional. Dari pihak sekolah, perlu tersedia pusat konseling dan edukasi kesehatan mental. Sementara itu, pemerintah berperan melalui kampanye kesehatan mental dan penyediaan layanan psikologis hingga jenjang puskesmas.
Gangguan kesehatan mental merupakan silent crisis yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital, perubahan gaya hidup, dan tekanan sosial yang berpotensi melemahkan kualitas generasi mendatang.
Urie Bronfenbrenner menekankan bahwa perkembangan remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang mencakup keluarga, sekolah, dan media, bukan semata masalah personal, sebagaimana disampaikan dalam Ecology of the Family as a Context for Human Development (2005).
Namun, dengan intervensi yang tepat, melalui edukasi, dukungan sosial, serta kebijakan pemerintah yang inklusif krisis tersebut dapat dikendalikan. Semoga.(SD)
Artikel ini merupakan Refleksi Hari Kesehatan Internasional 2026 Oleh :
Prof. Dr. Susanne Dida, M.M.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad
Peneliti Pusat Studi Komunikasi Kesehatan
