
Azka Agisna, Dari Sabuk Hitam hingga IPK Gemilang
Azka Agisna Alivia, mahasiswi Program Studi Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran angkatan 2023 yang juga seorang student athlete taekwondo. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan aktivitas organisasi, Azka tetap menjaga semangatnya dalam dunia olahraga yang telah ia tekuni sejak kecil. Lahir di Bandung pada 10 Agustus 2004 dan besar di kota yang sama, Azka tumbuh dalam lingkungan yang aktif secara fisik.
Dari Atlet ke Pelatih: Perjalanan di Dunia Taekwondo
Sejak kelas 1 SD, Azka sudah mengenal dunia taekwondo. Bermula dari rasa penasaran melihat sepupunya latihan menggunakan seragam taekwondo yang dianggapnya keren dan melakukan kegiatan yang terlihat seru. “Aku lihat saudara ikut ekskul taekwondo, bajunya keren, terus latihannya kayak sparring, tendang-tendangan.. aku langsung mikir, ‘aku harus ikut’” ujarnya sambil tertawa. Sejak saat itu, taekwondo menjadi bagian dari hidupnya. Tak hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai identitas.
Azka pernah aktif bertanding di berbagai kejuaraan hingga akhirnya kini berperan sebagai pelatih. Waktunya kini lebih banyak dihabiskan untuk melatih di klub taekwondo yang ia dan teman-temannya dirikan yaitu Dragon Eight Taekwondo Club. Sebuah klub yang lahir dari keinginan bersama untuk menciptakan tempat latihan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai dan semangat mereka.

Menjaga Keseimbangan: Mahasiswa dan Atlet
Menjalani peran sebagai mahasiswa dan atlet sekaligus bukan perkara mudah. Azka mengatur waktunya dengan cermat, kuliah di siang hingga sore hari, lalu latihan di malam hari. “Kalau kuliah nggak ada, aku langsung berangkat dari rumah ke tempat latihan. Intinya harus pintar-pintar bagi waktu, karena dua-duanya penting buat aku” jelasnya.
Namun, di balik semua rutinitas itu, ada momen-momen luar biasa yang membekas dalam ingatannya. Salah satunya adalah ketika ia menjalani ujian sabuk hitam strip tiga. Ujian tersebut tidak hanya soal teknik dan kekuatan, tetapi juga mental. “Waktu itu kita disuruh nyemplung ke kolam lumpur dulu subuh-subuh, terus merangkak, basah-basahan, lalu langsung naik ke bukit di Lembang. Dinginnya luar biasa, tapi kebersamaannya kerasa banget. Itu pengalaman yang nggak akan aku lupa.”
Di luar dunia taekwondo dan perkuliahan, Azka juga aktif di organisasi dan kepanitiaan. Ia ingin CV-nya terisi dengan pengalaman yang beragam. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat menjadi bagian dari BEM FIKOM di divisi KPSDM. “Temen-temennya suportif banget, kayak keluarga. Tempat aku pulang pas capek.”
Semangat Azka Bangkit dari Cedera dan Lelah Mental
Bagi Azka, semangatnya tetap menyala bukan hanya karena ingin menang, tetapi karena ia benar-benar menikmati prosesnya. Meskipun sempat mengalami cedera pada bagian tangan dan jarinya, juga merasa kelelahan akibat semester tiga perkuliahan, Azka bisa bangkit lagi berkat dukungan dari orang-orang terdekat dan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. “Aku biasanya ngabisin waktu bareng temen, jajan makanan enak, dan tidur seharian. Itu yang bikin aku semangat lagi,” ceritanya.
Mimpi dan Rencana Masa Depan
Meskipun sekarang sudah tidak lagi bertanding, Azka tetap menjadikan taekwondo sebagai bagian dari masa depannya. Ia berharap klub yang ia buat bisa terus berkembang dan dikenal banyak orang. Di sisi lain, Azka juga ingin berkarir di bidang kehumasan dan bercita-cita menjadi seorang social media specialist yang profesional.
“Apapun yang kamu jalanin, jangan biarkan itu jadi hambatan buat yang lain. Selama kamu bisa seimbangin dan bagi waktu, semua bisa kamu jalanin.” Kalimat itu jadi penutup dari seseorang yang membuktikan bahwa mimpi bisa dikejar dari dua arah lapangan tanding dan ruang kuliah. (ARJ)
