
Bincang Asik Bareng Angkatan 93 “Dari Kampus ke Karier: Tantangan Mental dan Peluang di Era Digital”.
Ikatan Alumni Fikom Unpad menyelenggarakan Talkshow Bincang Asik Bareng Angkatan 93 (Bisikan 93) dengan tema “Dari Kampus ke Karier: Tantangan Mental dan Peluang di Era Digital” pada hari Jumat tanggal 13 Juni 2025 pukul 08.00-11.00 WIB di Ruang Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Acara ini menghadirkan pemateri Hera Laxmi Devi Septiani, Ahmad Nada Kusnendar, Yovineda Brilliano dan Asep Budiman yang dimoderatori oleh Fachrudin Ali Ahmad dan Dandi Supriadi serta dihadiri mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Acara diawali dengan sambutan Ketua Angkatan Fikom 93 Rachmat Tauhid Uno, beliau menyampaikan bahwa you are in the right place on the right track, Fikom Unpad tempat kuliah yang memiliki kualitas pendidikan yang sangat bagus akan bisa memberikan contoh dan memberikan manfaat yang baik dari apa yang kita dapatkan.
Selanjutnya sambutan Dekan Fikom Unpad Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S. Sos., SH., M. Si menyampaikan bahwa dengan spirit dan bekal pengalaman di lapangan, di dunia kerja sangat penting dan dengan semangat dan kualitas mahasiswa sekarang yang semakin bagus maka harus makin kompetitif.

Pembicara pertama, Hera Laxmi Devi Septiani atau yang akrab disapa teh Devi. Menurut teh Devi “Bagaimana menjaga kesehatan mental di tengah overstimulasi digital? Setelah pandemic covid-19, ada pandemic yang baru tanpa kita sadari yang menjadi faktor utama krisis mental health, faktor utama kecemasan, depresi bahkan di Amerika menjadi faktor utama bunuh diri dan kecelakaan lalu lintas. Pandemi Screen Addiction (Kecanduan terhadap layar perangkat digital)” tutur teh Devi. Menurut teh Devi Fakta di Indonesia pada tahun 2025 jumlah pecandu rokok lebih sedikit dibanding pecandu smartphone. Menurut teh Devi juga “Screen addiction is the number one most pervasive addiction” yaitu kecanduan smartphone adalah kecanduan paling menyebar luas dan paling cepat pada saat ini. Indonesia merupakan pengguna smartphone terlama dalam menghabiskan waktu di depan layar. “Overstimulasi digital adalah suatu kondisi ketika seseorang menerima terlalu banyak rangsangan dari perangkat digital dalam waktu yang sering atau terus menerus, sehingga otak menjadi kelelahan dan sulit berfungsi secara optimal. Dampak dari overstimulasi gangguan konsentrasi dan memori, Insomnia, mood swing, kecemasan, Burnout digital, Impostor syndrome, FOMO, poor body image” Tuturnya. Teh Devi juga mengatakan bahwa digital Detox adalah proses mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan perangkat digital seperti smartphone, computer, tablet, dan media sosial, dengan tujuan untuk: 1. Mengurangi stress dan kecemasan, 2. Meningkatkan kualitas tidur, 3. Memperbaiki konsentrasi dan produktivitas, 4. Memperkuat hubungan social di dunia nyata, 5. Mengembalikan keseimbangan hidup antara dunia digital dan nyata.

Selanjutnya pembicara kedua, Ahmad Nada Kusnendar atau yang akrab disapa kang Nada. Menurut kang Nada kita sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi mampu memahami semua bidang. Menurut kang Nada juga mahasiswa perpustakaan mampu jadi jurnalis jika memahami mata kuliah manajemen informasi. “Akan lebih asik jika kita bekerja sesuai dengan hobi” tuturnya. Selain itu, menurut kang Nada dalam berorganisasi, kita akan memiliki soft skill untuk melatih kita dalam bekerja.
Pembicara ketiga, Yovineda Brilliano atau yang akrab disapa kang Yovi. Menyampaikan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, kita tidak terlepas dari perangkat digital. Dunia komunikasi itu tidak memiliki background, namun kita belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik. Perkembangan teknologi juga menjadi pendukung dalam dunia komunikasi. Kang Yovi mengatakan bahwa jika kita memiliki perusahaan sendiri, kita dapat berkembang dengan lebih luas. Kang yovi juga mengatakan bahwa kita harus mampu melakukan observasi untuk memahami apapun, kemudian lakukan perencanaan dan konsep yang baik, dan terakhir harus berani mencoba, lakukanlah apapun itu hasilnya.
Sesi terakhir, pembicara keempat yakni Asep Budiman atau yang akrab disapa kang Asep. Menurut kang Asep Ilmu Komunikasi merupakan sebuah modal dalam membangun suatu perusahaan. Marketing merupakan bidang yang menggunakan Ilmu Komunikasi. Sebagai marketing kita harus mampu belajar psikologi komunikasi. Selain itu, kita harus mau melangkah karena pada saat kita salah, kita masih ada waktu untuk mengevaluasi dan mencoba lagi. Bidang Ilmu komunikasi mampu memasuki segala bidang, namun tetap harus dibantu dengan belajar dan diskusi. “Semakin banyak relasi maka akan semakin banyak peluang” tuturnya.
Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diakhiri dengan penyerahan donasi dari alumni mahasiswa Angkatan 93 dan sesi foto bersama. (HS/DM)

