
Bu Evi, Dosen yang Terus Beradaptasi di Tengah Dinamika Zaman
Menjadi dosen bukan sekadar profesi bagi Dr. Evi Novianti, S.Sos., M.Si., atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Bu Evi, melainkan panggilan hati dan tantangan tersendiri. Sejak awal, Bu Evi menikmati proses berinteraksi dengan mahasiswa yang datang dari beragam latar belakang dan karakter. “Mahasiswa sekarang pintar-pintar, mereka bisa dapat informasi dari berbagai media. Itu jadi tantangan buat saya untuk terus upgrade diri,” ujarnya. Bagi Bu Evi, mengajar berarti juga belajar karena dari setiap kelas, selalu ada hal baru yang bisa dipetik.
Perjalanan Panjang di Dunia Akademik
Perjalanan Bu Evi di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2000, ketika ia menjadi dosen tetap yayasan di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sebelumnya, ia sempat mengajar di STIE Indonesia Cermat. Pada tahun 2003, langkahnya kemudian membawanya bergabung dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad), tempat ia mengabdi hingga saat ini.
Momen Paling Berkesan Selama Mengajar
Bagi Bu Evi, momen paling berkesan adalah ketika melihat mahasiswa berhasil mencapai hal yang diharapkan. “Rasanya bangga banget kalau lihat mahasiswa punya IPK besar, lulus cumlaude, atau aktif berorganisasi,” tuturnya. Bahkan, momen sederhana seperti disapa oleh mantan mahasiswa atau melihat mereka sukses berkarier sudah cukup membuatnya terharu.
Perubahan Dinamika Mengajar dari Masa ke Masa
Bu Evi menyaksikan langsung bagaimana dunia pendidikan berubah. “Dulu mahasiswa nyatet pakai tangan, dosennya pakai OHP buat presentasi. Sekarang semua serba digital,” kenangnya. Kini, ia memanfaatkan PowerPoint dengan desain menarik serta platform seperti LMSMOB dan LIVE Unpad. Meski sistem baru itu cukup rumit, Bu Evi melihat banyak kelebihannya, salah satunya kemudahan memantau kehadiran dan nilai mahasiswa.
Dulu, metode yang digunakan masih berpusat pada dosen atau Teacher Centered Learning, di mana dosen lebih banyak berceramah. Namun kini, pendekatannya lebih bervariasi, seperti Student Centered Learning, Focus Group Discussion (FGD), Best Project, hingga roleplay dan kegiatan pembelajaran di luar kelas. “Sekarang mahasiswa nggak cuma duduk dengar, tapi aktif berkreasi,” ujarnya.
Tantangan dalam Mengajar
Tantangan terbesar bagi Bu Evi adalah menjaga agar mahasiswa tetap aktif dan jujur dalam proses belajar. “Gimana caranya mahasiswa nggak nyontek, nggak ngantuk, dan tetap bisa berpikir kritis,” katanya sambil tersenyum. Ia percaya, kuncinya adalah memahami karakter tiap kelas dan membuat pembelajaran yang tidak monoton.
Menjaga Motivasi di Tengah Perkembangan Zaman
Perkembangan ilmu dan karakter mahasiswa yang terus berubah menjadi motivasi tersendiri bagi Bu Evi. Ia menyesuaikan diri dengan cara yang unik salah satunya melalui film. “Kadang saya kaitkan film dengan teori, biar pembelajaran lebih hidup,” tuturnya. Ia juga berusaha memahami tren yang sedang digemari mahasiswa, baik dari gaya berpakaian, bahasa, maupun topik obrolan. “Biar nggak culture shock, dosen juga harus beradaptasi,” tambahnya sambil tertawa kecil.
Bagi Bu Evi, setiap tantangan dalam mengajar adalah kesempatan untuk berkembang. “Motivasi terbesar saya justru datang dari tantangan. Karena dari situ, saya belajar untuk terus meng-upgrade diri,” pungkasnya dengan senyum hangat. (MA)
