
CMCI Fikom Unpad Bahas Advokasi Masyarakat Adat melalui Film Dokumenter Pesta Babi
Jatinangor, 26 Mei 2026 . Pusat Studi Komunikasi, Media, Budaya, dan Sistem Informasi atau CMCI Fikom Unpad menggelar pemutaran dan diskusi publik film dokumenter Pesta Babi di Auditorium Pascasarjana Fikom Unpad, Jatinangor.
Kegiatan bertajuk “Film sebagai Advokasi Masyarakat Adat Melalui Lensa Dokumenter” ini menjadi ruang diskusi mengenai peran film dokumenter sebagai medium alternatif dalam menyuarakan isu masyarakat adat, ruang hidup, lingkungan, serta kebijakan pembangunan.
Kepala CMCI Fikom Unpad, Dr. phil. Subekti W. Priyadharma, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis untuk melihat bagaimana film dokumenter dapat menghadirkan narasi alternatif di tengah dominasi narasi formal negara. Film dokumenter dinilai memiliki peran penting dalam membuka percakapan publik, terutama terhadap isu-isu yang tidak selalu mendapat ruang luas di media arus utama.
Meski Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale berhalangan hadir, diskusi tetap berlangsung dinamis bersama sejumlah panelis lintas disiplin. Diskusi yang dipandu oleh Muhammad “Ryo” Arbani ini membahas berbagai aspek dalam film dokumenter, mulai dari struktur penceritaan, subjektivitas pembuat film, ruang pemutaran alternatif, hingga isu lingkungan dan masyarakat adat.
Film Dokumenter sebagai Suara Masyarakat Adat
Salah satu panelis, Melkias Rundi, Ketua Ikatan Keluarga Mahasiswa Papua Unpad, menyampaikan kesaksian mengenai kehidupan masyarakat adat di Papua. Ia menceritakan realitas masyarakat di sejumlah wilayah Papua, termasuk Serui, Boven Digoel, Nduga, hingga Puncak Jaya Wamena.
Menurut Melkias, masyarakat adat Papua selama ini hidup dari sumber pangan lokal seperti ubi dan sagu. Namun, ruang hidup tersebut kerap terdesak oleh berbagai kebijakan pembangunan, termasuk proyek food estate.
“Tekanan yang dihadapi oleh film ini mencerminkan apa yang kami alami di lapangan; suara masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya akibat kebijakan food estate,” ungkap Melkias.
Ia menambahkan, film dokumenter independen seperti Pesta Babi menjadi salah satu cara agar pengalaman masyarakat adat dapat didengar oleh publik yang lebih luas.
Membaca Keberpihakan dalam Film Dokumenter
Dari perspektif kajian film, Dara Bunga Rembulan, S.Sn., M.Sn., Kepala Program Studi Televisi dan Film ISBI Bandung sekaligus Sekjen Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia (PROSFIS), menjelaskan bahwa film dokumenter tidak hanya merekam realitas, tetapi juga membawa keberpihakan pembuatnya.
Menurut Dara, cerita Papua dalam film Pesta Babi merupakan bagian kecil dari banyak realitas masyarakat yang belum banyak diceritakan. Ia melihat film ini bekerja melalui pendekatan observasional yang berupaya mendekatkan penonton pada pengalaman subjek, ruang, dan waktu yang dihadirkan.
“Ini menjadi media advokasi karena pembuat film berupaya untuk membuat audiens memahami keberpihakan pembuat film,” ujar Dara.
Dara juga menilai bahwa tekanan terhadap distribusi film dokumenter independen justru menunjukkan pentingnya memperbanyak ruang pemutaran alternatif, termasuk di kampus dan komunitas. Ruang seperti ini menjadi penting untuk menjaga kebebasan berekspresi sekaligus membuka percakapan mengenai hak masyarakat adat.
Kampus sebagai Ruang Pemutaran Alternatif
Peneliti film dokumenter CMCI sekaligus dosen Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad, Dr. Evi Rosfiantika, M.Si., membahas aspek visual dan pendekatan emik dalam film Pesta Babi. Menurutnya, film ini mampu membangun kedekatan emosional dengan penonton melalui penggalian pengalaman masyarakat secara mendalam.
Evi juga membahas pentingnya pemutaran film berbasis komunitas dan kampus ketika saluran arus utama tidak selalu memberi ruang bagi narasi alternatif.
“Ketika saluran-saluran arus utama ditutup oleh kepentingan tertentu, maka pemutaran berbasis komunitas dan kampus seperti ini menjadi saluran vital yang harus dijaga demi merawat nalar kritis publik,” ungkapnya.
Menurut Evi, kerja independen dalam produksi dan distribusi film dokumenter menunjukkan bahwa kebebasan berpikir dan berkarya masih terus dirawat melalui jejaring komunitas, kampus, dan organisasi masyarakat sipil.
Isu Lingkungan dan Kedaulatan Masyarakat Lokal
Sementara itu, Dr. Herlina Agustin, M.T., Kepala Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Unpad, membahas isu lingkungan dan sejarah kebijakan pangan di Indonesia. Ia menyoroti bagaimana berbagai proyek rekayasa pangan, dari masa kolonial hingga proyek strategis nasional, kerap menyisakan persoalan bagi masyarakat lokal dan lingkungan.
Herlina menilai bahwa kebijakan pembangunan perlu memperhatikan kedaulatan masyarakat lokal, bukan hanya melihat wilayah sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi.
“Yang perlu ditantang adalah bagaimana wilayah seperti Papua, Aceh, dan Kalimantan dipertahankan, tetapi masyarakatnya tidak diberikan kedaulatan,” jelas Herlina.
Menurutnya, kedaulatan pangan dan energi seharusnya dibangun dengan memperhatikan pengetahuan lokal, komoditas lokal, serta keberlanjutan lingkungan.
Melalui pemutaran dan diskusi film dokumenter Pesta Babi, CMCI Fikom Unpad menghadirkan ruang akademik yang tidak hanya membahas film sebagai karya audiovisual, tetapi juga sebagai medium komunikasi, advokasi, dan refleksi sosial.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa film dokumenter dapat menjadi sarana penting untuk membaca persoalan masyarakat adat, lingkungan, kebijakan pembangunan, serta relasi kuasa yang bekerja di dalamnya. Di lingkungan kampus, ruang diskusi seperti ini juga menjadi bagian dari upaya merawat nalar kritis, kebebasan berekspresi, dan kepedulian terhadap isu-isu publik.
Penulis: Humas Fikom Unpad
Editor: Humas Fikom Unpad
Foto: Humas Fikom Unpad
Sumber: Press Release CMCI Fikom Unpad

