
Cynthia, Ukir Prestasi di Dunia Taekwondo Sejak Usia 9 Tahun
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran juga membuktikan kemampuannya di bidang olahraga. Salah satunya adalah Cynthia Rafa Aisha, mahasiswi Program Studi Hubungan Masyarakat angkatan 2024, yang telah menorehkan berbagai prestasi gemilang di cabang olahraga taekwondo.
Awal Ketertarikan yang Tumbuh Sejak Kecil
Ketertarikan Cynthia terhadap dunia olahraga muncul sejak ia berusia sembilan tahun. Namun, minat itu bukan datang dari dirinya sendiri. “Sebenernya udah lama banget mulai tertarik sama dunia olahraga, tapi awalnya bukan dari diri sendiri, melainkan dorongan orang tua,” ungkap Cynthia. Orang tuanya mendorongnya untuk mencoba dunia olahraga agar ia menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri.
Menemukan Cinta di Dunia Taekwondo
Saat pertama kali terjun ke dunia taekwondo, Cynthia mengaku sempat kesulitan beradaptasi. “Awalnya aku masih cengeng banget, karena taekwondo itu kan olahraganya tendang-tendangan, latihannya capek, harus latihan fisik, bahkan harus bisa split,” ujarnya sambil tertawa kecil. Namun seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap taekwondo tumbuh. “Makin lama aku ngerasa, wah ini memang bidang yang aku sukai banget. Saat aku kelas 2 SMP dan umur aku sekitar 13 tahun, aku rasa itu titik di mana aku benar-benar jatuh cinta sama taekwondo,” tambahnya.
Deretan Prestasi di Dunia Taekwondo
Selama perjalanan kariernya, Cynthia telah mengantongi sejumlah prestasi, di antaranya Kemenpora Taekwondo Challenge 2025 dan UIN Taekwondo Championship 6 tahun 2024.
Namun, momen paling berkesan bagi Cynthia adalah ketika ia berhasil lolos ke Pekan Olahraga Provinsi (Poprov) DKI Jakarta 2018 setelah melalui seleksi ketat. “Sebelum bisa sampai Poprov, aku sempat ikut seleksi Popkot dulu. Setelah lolos, aku ikut pelatihan selama tiga bulan di Universitas Mercu Buana. Capek sih, tapi seru banget karena aku bisa ketemu teman-teman baru dan belajar banyak hal bareng mereka,” ujarnya sambil tersenyum.
Tantangan Menjalani Peran Ganda: Mahasiswa dan Atlet
Bagi Cynthia, tantangan terbesar sebagai mahasiswa sekaligus atlet adalah membagi waktu dan menjaga keseimbangan emosi. “Pas semester 1 aku rasa masih mudah lah buat bagi waktunya, tapi pas udah masuk semester 2 dan 3 mulai tricky banget. Aku harus bisa atur jadwal antara kuliah, latihan, dan kepanitiaan,” ujarnya. Ia menambahkan, menjaga semangat dan kontrol emosi adalah kunci agar tidak kehilangan motivasi baik di dunia akademik maupun olahraga.
Disiplin dan Komitmen Jadi Kunci
Untuk menjaga keseimbangan antara kuliah dan latihan, Cynthia menerapkan sistem manajemen waktu yang ketat. “Setiap malam aku bakal catat kegiatan buat besok, biar semuanya selaras tanpa bentrok. Latihan nggak bisa ditinggalin karena kalau mau juara, kuncinya ada di latihan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya komitmen pribadi untuk menghargai kepercayaan dan dukungan orang tua. “Aku gamau menyia-nyiakan privilege yang nggak semua orang dapat,” tambahnya.
Motivasi: Personal Branding dan Tanggung Jawab
Motivasi terbesar Cynthia untuk terus berprestasi adalah keinginannya membangun citra diri positif dan memberi kebanggaan bagi orang tua serta kampus. “Aku pengen dikenal bukan cuma sebagai anak komunikasi, tapi juga sebagai atlet taekwondo yang berprestasi,” katanya. Selain itu, ia merasa memiliki tanggung jawab moral karena diterima di Unpad melalui jalur minat dan bakat, yang mengharuskannya tetap aktif berkompetisi selama kuliah.
Peran Fikom dalam Perjalanan Seorang Atlet
Menjadi bagian dari Fikom Unpad ternyata membawa dampak positif bagi perkembangan pribadi Cynthia. “Dari sisi manajemen diri, kuliah di Fikom bener-bener ngebantu banget. Aku belajar ngatur waktu, ngatur emosi, dan tetep bisa komunikasi sama diri sendiri meski sibuk,” ungkapnya.
Pentingnya Dukungan Institusi untuk Atlet Mahasiswa
Cynthia juga menyoroti pentingnya dukungan dari kampus bagi mahasiswa berprestasi di bidang olahraga. “Dukungan kampus itu penting banget, karena bisa jadi pacuan semangat buat atlet. Kalau kampus memberikan fasilitas dan apresiasi, otomatis atlet juga ingin kasih timbal balik yang baik buat institusi,” jelasnya.
Pesan untuk Mahasiswa Lain
Sebagai penutup, Cynthia berpesan kepada mahasiswa agar berani keluar dari zona nyaman.
“Let’s just go with yourself. Kalau kamu punya bakat di luar akademik, jangan takut buat kembangin itu, karena akan ada rasa bangga ketika kamu berhasil di bidang yang kamu cintai,” tutupnya dengan senyum. (FA)
