
Fikom Unpad Bahas Transformasi Perpustakaan Modern dan Literasi Digital Berbasis Budaya Lokal
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam lanskap informasi digital. Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan kompleks, kemampuan literasi media, literasi digital, serta pemahaman terhadap konteks sosial-budaya menjadi semakin penting.
Merespons tantangan tersebut, Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (FIKOM Unpad) menyelenggarakan kuliah umum internasional bertajuk “Community Information, Media, and Digital Literacy”. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid di Auditorium Pascasarjana Fikom Unpad, Jatinangor, Sumedang, serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube @Perpustakaan.SainsInformasi.
Kuliah umum ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset Fikom Unpad, Dr. Ira Mirawati, M.Si., bersama Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Dr. Saleha Rodiah.
Dalam sambutannya, Dr. Ira Mirawati menekankan pentingnya mahasiswa untuk mampu mengelola media secara strategis sebagai bagian dari proses pembelajaran yang adaptif di era digital. Sementara itu, Dr. Saleha Rodiah menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman literasi yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga berdampak langsung pada komunitas masyarakat.
Perpustakaan Modern sebagai Ruang Pembelajaran Interaktif
Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Mega Subramaniam, Ph.D., profesor dari College of Information, University of Maryland, Amerika Serikat, sekaligus Fulbright Scholar di Universitas Gadjah Mada. Dalam paparannya, Prof. Mega membahas pentingnya transformasi perpustakaan modern sebagai ruang pembelajaran interaktif melalui pendekatan Connected Learning.
Dipandu oleh moderator Wina Erwina, M.A., Ph.D., Prof. Mega menjelaskan bahwa perpustakaan masa kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan akses informasi, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan minat, relasi sosial, dan peluang masa depan generasi muda.
“Tugas utama perpustakaan masa kini adalah menjadi tempat yang menyenangkan dan menarik, yang mampu mengoneksikan antara minat remaja, hubungan sosial, dan peluang masa depan mereka,” ujar Prof. Mega.
Ia juga mengenalkan konsep budaya partisipatori remaja yang dikenal dengan istilah HOMAGO atau Hanging Out, Messing Around, Geeking Out. Melalui konsep ini, perpustakaan dapat menjadi ruang yang mendorong remaja untuk bereksplorasi, berkolaborasi, dan mengembangkan minat secara lebih aktif.
Prof. Mega turut membagikan sejumlah praktik baik program inklusif di Amerika Serikat, seperti SciDentity, HackHealth, Connected Camps, dan Slowest Computer on Earth. Program-program tersebut dinilai mampu mendukung berbagai modalitas belajar generasi muda melalui pendekatan yang lebih partisipatif dan kontekstual.
Budaya Lokal sebagai Penangkal Hoaks dan Rekayasa Digital
Pada sesi kedua, kuliah umum menghadirkan Prof. Agus Rusmana, M.A. yang membawakan materi mengenai “Pengenalan Budaya Lokal Pencegah Serangan Informasi Rekayasa Digital”.
Dalam paparannya, Prof. Agus menyoroti semakin canggihnya manipulasi informasi digital di era AI. Teknologi kecerdasan buatan kini dapat disalahgunakan untuk menciptakan realitas palsu atau real fake, baik dalam bentuk visual maupun audio rekayasa, yang bertujuan untuk menipu masyarakat.
Menurut Prof. Agus, upaya mendeteksi informasi palsu tidak cukup hanya dilakukan melalui pengetahuan teknis digital dan kemampuan berpikir logis. Masyarakat juga perlu memiliki kepekaan terhadap konteks budaya lokal, termasuk kebiasaan, ekspresi, gestur, dan cara berkomunikasi yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Keakraban terhadap budaya lokal atau local culture familiarity dapat menjadi salah satu benteng penting dalam mengenali kejanggalan pada informasi hasil rekayasa digital. Dengan memahami konteks budaya, masyarakat diharapkan lebih mampu menilai apakah suatu visual, audio, atau narasi digital sesuai dengan realitas sosial yang dikenalnya.
Melalui kuliah umum ini, Fikom Unpad mendorong mahasiswa untuk tidak hanya cakap dalam menggunakan teknologi digital, tetapi juga kritis dalam membaca informasi. Literasi digital perlu berjalan beriringan dengan pemahaman budaya agar mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang cerdas, adaptif, dan tetap berakar pada kearifan lokal.
Penulis : Evi Nursanti Rukmana
Sumber dan Foto : Press Release Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fikom Unpad
Editor : Humas FIkom Unpad
