Kevin Renandika Meniti Dunia Tari di Tengah Keraguan dan Stigma

Gambar 1. Dokumentasi Kevin Renandika saat tampil di Istana Negara
Kevin Renandika memandang dunia tari lebih dari sekadar panggung dan gerakan. Mahasiswa Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu menjadikan gerak sebagai cara berbicara. Bagi Kevin, tari bukan hanya soal irama dan teknik, melainkan juga bentuk komunikasi yang mampu menyampaikan emosi dan pesan.
Perjalanan Kevin tidak mudah. Ia menghadapi keraguan terhadap dirinya sendiri, stigma sebagai penari laki-laki, dan berbagai pengalaman yang membentuk cara pandangnya. Dari ruang latihan, ia melangkah menuju berbagai panggung.
Kevin Renandika dan Dua Perannya
Menjalani perkuliahan sekaligus aktif di dunia tari menjadi keseharian Kevin saat ini. Mahasiswa semester empat tersebut rutin terlibat dalam berbagai kegiatan pertunjukan, baik di dalam maupun di luar kampus.
“Orang mengenalku sebagai mahasiswa dan penari. Dua hal itu bukan sesuatu yang bertolak belakang, justru saling melengkapi. Dari akademik membentuk cara berpikir, sedangkan dunia entertainment membentuk karakterku ” tutur Kevin.
Dua identitas itu tumbuh bersama. Di kampus, ia rutin tampil dalam berbagai acara dan kegiatan. Di luar kampus, ia juga aktif tampil bersama timnya di berbagai panggung.
Keduanya berkembang bersama dalam perjalanan Kevin. Ia percaya manajemen waktu dan komitmen yang kuat membuat dunia akademik dan tari tetap berjalan beriringan.
Langkah Awal Perjalanan
Kevin mulai tertarik menari setelah melihat kakaknya tampil dalam ekstrakurikuler tari modern. Penampilan tersebut membuatnya menyadari bahwa gerakan tari mampu menghadirkan kebahagiaan dan membuat orang lain tersenyum.
Ketika seorang teman mengajaknya bergabung ke ekskul dance, Kevin mulai menekuni tari secara serius dengan tari modern sebagai langkah awalnya.
“Keputusan kecil itu jadi awal dari perjalanan panjangku hingga saat ini” tuturnya.
Kevin semakin menekuni dunia tari yang dipilihnya. Setiap penampilan membuatnya ingin kembali menari diatas panggung.
Melalui tari modern yang ia tekuni, Kevin tidak hanya belajar mengolah gerakan, tetapi juga menunjukkan karakternya melalui berbagai gaya tari. Seiring berjalannya waktu, ia menjadikan tari sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Stigma Penari Laki-laki
Menekuni tari sebagai laki-laki tidak selalu menjadi perjalanan yang mudah bagi Kevin. Berbagai tantangan mulai dirasakan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Pada masa itu, sebagian masyarakat belum terlalu terbuka terhadap laki-laki yang menekuni dunia tari.
Ia pun kerap ditanya mengapa ia memilih menekuni dance sebagai laki-laki.
“Di umur segitu, komentar orang-orang cukup mempengaruhi pikiran aku”
“Aku sering bertanya ke diri sendiri ” kenangnya.
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak langsung ia temukan. Namun, Kevin tetap memilih untuk terus menari. Baginya, tari adalah hal yang ia sukai, dan melihat banyak penari laki-laki hebat semakin menguatkan keyakinannya.
Saat Penilaian Orang Lain Tak Lagi Menentukan Langkah
Pandangan orang lain terhadap penari laki-laki sempat memengaruhi cara Kevin memandang dirinya sendiri. Kevin mengaku pernah merasa lelah menghadapi komentar dan penilaian dari orang lain. Pada masa itu, ia mempertanyakan mengapa harus menyesuaikan diri dengan standar dan pandangan orang lain.
Meski demikian, Kevin memilih mencari jawabannya melalui proses yang ia jalani. Kesadaran bahwa hidupnya tidak bisa ditentukan oleh penilaian orang lain mendorong Kevin untuk fokus mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi melalui tari.
“Aku milih buat buktiin. Lewat dance aku bisa berkembang, berprestasi, dan mencapai banyak hal” ujarnya.
Saat memasuki masa SMA, Kevin mulai melihat perubahan di lingkungan sekitarnya. Semakin banyak orang mengakui dance sebagai bidang yang dapat menghasilkan prestasi. Namun, sebagian orang masih memandang penari laki-laki dengan stigma tertentu.
Pengalaman tersebut mendorong Kevin untuk terus menekuni dunia tari. Kini, ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan pilihannya kepada semua orang. Sebaliknya, Kevin memilih membuktikannya melalui proses, karya, dan pencapaian.
Saat Keraguan Menjadi Bagian dari Proses
Di balik berbagai kesempatan tampil, Kevin juga pernah berhadapan dengan keraguan terhadap dirinya sendiri. Proses yang ia jalani tidak selalu membuatnya merasa percaya diri.
Saat melihat penari lain berkembang lebih cepat, Kevin sempat merasa tertinggal dan mulai mempertanyakan kemampuannya.
“Kenapa aku gabisa seperti mereka?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut beberapa kali muncul dalam pikirannya seiring perjalanan yang ia jalani.
Di sisi lain, Kevin juga menghadapi tantangan saat gagal mengikuti kompetisi besar bersama tim tari. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam perjalanannya. Kevin mengaku sempat merasa kecewa dan kehilangan kepercayaan diri.
Namun, Kevin kemudian menemukan lingkungan dan tim yang memberinya ruang untuk berkembang. Dukungan tersebut membantunya kembali percaya pada kemampuannya dan terus menjalani proses yang ia tekuni.
Dukungan yang Menemani Langkah
Sosok ibu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Kevin di dunia tari. Kevin mengenang sang ibu sebagai orang pertama yang percaya pada pilihannya untuk menari. Sejak awal, sang ibu selalu hadir, mengantar, dan mendukung setiap langkah yang ia ambil.
“Dukungan itu yang ngebuat aku bertahan sampai sekarang” ungkap Kevin.
Hingga kini, Kevin masih membawa dukungan dan kepercayaan yang sang ibu tanamkan sejak awal perjalanannya. Setiap kali menghadapi tantangan atau keraguan, ia kembali mengingat sosok yang mendorongnya untuk terus melangkah.
Kevin Renandika dan Panggung Perjalanan
Seiring bertambahnya pengalaman, Kevin terus mengembangkan kemampuannya. Ia aktif mengikuti kompetisi dan berbagai proyek tari. Melalui berbagai kesempatan tersebut, Kevin juga bertemu relasi dan coach yang turut mendukung perjalanannya di dunia entertainment.
Tak berhenti di panggung tari, Kevin juga merambah ke bidang lain sebagai talent iklan dan pengisi acara televisi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat terlibat sebagai penari dalam film Miracle in Cell No. 7. Selain itu, Kevin juga tampil dalam Home Theater FIKOM Unpad dan membintangi beberapa film pendek.


Gambar 2. Kevin Renandika Juara Dance Competition Team
Di antara berbagai kompetisi yang pernah diikutinya, World of Dance dan Amazing Dance Indonesia menjadi dua ajang yang paling berkesan bagi Kevin.
“Di sana aku benar-benar belajar tentang kualitas, mental, dan profesionalisme” ujar Kevin.
Perjalanannya di dunia dance mengantarkan Kevin meraih sejumlah prestasi dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa di antaranya adalah:
- Juara 2 Dance Competition, Aice Got Talent Regional Bandung (2025)
- Top 35 Amazing Dance Indonesia GTV (2024)
- Juara 3 Dance Competition, Milari Artis Jawa Barat (2024)
- Juara 1 Dance Competition, Find Your Passion Battle Ekstrakurikuler Regional Bandung (2023)
- Juara 1 Dance Competition, Honda FESTIPARK Dance Competition (2023)
- Juara 1 Dance Competition, BANK INDONESIA Street Dance Competition (2023)
- Top 5 World of Dance Indonesia (2019)
Momen di Istana Negara
Kevin telah menapaki berbagai panggung sepanjang perjalanannya. Namun, ada salah satu panggung yang meninggalkan kesan mendalam baginya. Dulu, ia hanya bisa menyaksikannya melalui layar televisi.
Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada tahun 2025, Kevin mendapat kesempatan untuk tampil di Istana Negara. Pada kesempatan tersebut, ia tampil bersama seorang teman yang telah dikenalnya sejak sama-sama mengikuti ekstrakurikuler modern dance semasa SMA. Kesempatan tersebut menjadi salah satu pengalaman berkesan dalam perjalanan kariernya sebagai penari.
Menjelang penampilan tersebut, Kevin menjalani latihan intensif sekitar delapan hari bersama ratusan peserta. Dalam kesempatan itu, ia membawakan tari payung dalam pertunjukan Bhinneka Tunggal Ika dan tari Kabasaran dari Minahasa.
“Jujur, aku sempat diam beberapa detik karena masih enggak percaya bisa berada di tempat yang selama ini cuma aku lihat di televisi. Suasananya terasa megah, sakral, dan penuh kebanggaan. Di momen itu aku ngerasa semua proses panjangku seperti terbayar” ungkapnya.
Menurut Kevin, momen yang paling membekas terjadi ketika seluruh penari memberi hormat kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapatkan balasan hormat, diiringi alunan lagu nasionalis yang megah. Di momen itu, ia mengaku merinding dan merasa bangga atas dirinya sendiri.
Setelah menyelesaikan penampilannya, Kevin langsung teringat keluarganya. Di balik setiap panggung yang ia jejak, ia selalu membawa satu tujuan yang sama, yaitu membuat keluarganya bangga.
Tari dan Akademik Berjalan Beriringan
Ruang kelas dan panggung memberi pengalaman yang saling melengkapi bagi Kevin. Sebagai mahasiswa Program Studi Televisi dan Film FIKOM Unpad, ia menemukan sejumlah materi perkuliahan yang beririsan dengan dunia tari yang selama ini ia tekuni. Salah satu keterkaitan tersebut ia temukan dalam mata kuliah dramaturgi yang membahas ekspresi, emosi, serta cara menyampaikan pesan kepada penonton.
Bagi Kevin, sebuah penampilan tidak hanya menghadirkan gerakan, tetapi juga menyampaikan makna kepada penonton.
“Penonton mungkin tidak mendengar kata-kata, tapi mereka bisa merasakan energi dan makna dari tiap gerakan yang ditampilkan” tuturnya.
Seni yang Menginspirasi dan Ruang Tumbuh
Melalui berbagai penampilannya, Kevin menyadari bahwa tari tidak hanya membentuk dirinya. Ia juga melihat semakin banyak orang mulai tertarik untuk menari setelah menyaksikan berbagai pertunjukan yang ia ikuti.

Gambar 3. Kevin Renandika Juara Dance Competition Team Athletic
Kevin juga berharap orang mengenalnya bukan hanya sebagai penari yang hebat di atas panggung. Setiap penampilan menjadi kesempatan baginya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Karena itu, ia selalu berusaha tampil maksimal. Kevin ingin penonton tersenyum, terhibur, dan membawa energi positif dari setiap pertunjukan. Melalui perjalanannya, ia juga berharap dapat menginspirasi orang lain.
Dalam menjalani passion, Kevin meyakini bahwa rasa takut terhadap penilaian orang lain tidak boleh menghambat langkah. Ia menganggap penolakan dan kekalahan sebagai bagian wajar dari proses belajar dan berkembang.
“Jangan terlalu takut buat memulai. Kita gak perlu langsung hebat, kita cuma perlu cukup berani buat mencoba dan bertahan dalam prosesnya” ujar Kevin.
Kevin Renandika menjadikan tari sebagai bagian dari identitas dirinya. Di masa depan, ia ingin membawa dunia tari berjalan berdampingan dengan karier yang akan dibangunnya.
“Aku memulai hanya karena ingin membuat orang tersenyum, tapi akhirnya bertahan karena menemukan arti diriku sendiri di atas panggung” tutur Kevin Renandika.
