
Mendiktisaintek Brian Yuliarto Temui Maba Fikom Unpad, Bahas Pendidikan Inklusif hingga Akses KIP Kuliah
JATINANGOR. Hari ketiga rangkaian penerimaan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) 2026 terasa berbeda. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. berkunjung ke kampus Fikom Unpad, Jatinangor, Sabtu (15/8), untuk menyapa sekaligus berdialog langsung dengan mahasiswa baru.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru Fikom Unpad untuk tidak hanya mendengarkan pesan mengenai kehidupan perkuliahan, tetapi juga menyampaikan berbagai persoalan yang dekat dengan dunia pendidikan tinggi. Mulai dari pendidikan inklusif bagi mahasiswa disabilitas, Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), hingga akses pendidikan bagi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Mendiktisaintek tiba di Fikom bersama Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dr., SpM(K), M.Kes., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Zahrotur Rusyda Hinduan, S.Psi., MOP., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan dan Pengelolaan Bisnis Prof. Dr. Maman Setiawan, S.E., M.T., serta Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, S.Si., S.IP., M.T., M.Han.
Di Fikom, rombongan diterima Dekan Fikom Unpad Dr. Nindi Aristi, S.Sos., M.Comn., Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset Dr. Ira Mirawati, M.Si., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Centurion Chandratama Priyatna, S.S., M.Si., Ph.D., jajaran dosen dan tenaga kependidikan, Ketua dan Wakil Ketua BEM Fikom Unpad, Panitia PMB Fikom, serta mahasiswa baru Fikom Unpad 2026.
Mahasiswa Diajak Memanfaatkan Kesempatan Belajar di Unpad
Mengawali pertemuan, Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita menyampaikan bahwa kehadiran Mendiktisaintek menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Menteri. Mahasiswa pun dipersilakan memanfaatkan momentum tersebut untuk bertanya maupun menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sebagai bagian dari generasi baru pendidikan tinggi.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan cair. Brian mengatakan kunjungannya ke Fikom kali ini justru dapat terlaksana karena berlangsung secara spontan.
“Kalau direncanakan kadang-kadang malah tidak jadi-jadi. Alhamdulillah hari ini saya senang bisa ke Fikom,” ujarnya disambut mahasiswa.
Di hadapan mahasiswa baru, Brian mengingatkan bahwa keberhasilan diterima di Universitas Padjadjaran merupakan kesempatan yang patut disyukuri sekaligus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ia juga menyoroti keberagaman mahasiswa Unpad yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, kehidupan kampus tidak hanya memberikan pengetahuan akademik. Pertemuan dengan teman-teman yang memiliki latar belakang budaya, daerah, dan pengalaman yang berbeda menjadi bagian penting dalam proses belajar.
Dari lingkungan yang beragam tersebut, mahasiswa dapat belajar berinteraksi, beradaptasi, bekerja sama, sekaligus mengembangkan soft skills dan kemampuan kepemimpinan.
“Manfaatkan kuliah di sini untuk mengambil ilmu sebanyak-banyaknya,” pesannya.
Brian mengingatkan bahwa kehidupan mahasiswa berbeda dengan masa sekolah. Masa pendidikan di perguruan tinggi perlu menjadi proses yang membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang semakin matang dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Tantangan yang diberikan dosen, menurutnya, bukan sekadar tugas akademik. Proses tersebut menjadi bagian dari latihan menghadapi berbagai situasi yang kelak ditemukan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, maupun memilih jalan kehidupan lainnya.
Ia juga mengaitkan peran pendidikan tinggi dengan kebutuhan Indonesia akan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, kompetensi, serta kemampuan melahirkan berbagai terobosan. Kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia, menurut Brian, harus didukung oleh generasi yang mampu mengelolanya dengan baik.
Karena belum semua generasi muda memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi, ia meminta mahasiswa baru Fikom Unpad menjaga kesempatan yang telah mereka peroleh.
“Tuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Banggakan orang tua Anda,” ujarnya.
Brian berharap mahasiswa yang hari itu hadir sebagai mahasiswa baru dapat menyelesaikan perjalanan akademiknya dengan baik.
“Empat tahun nanti bertemu lagi seperti ini, tetapi dengan menggunakan toga wisuda,” katanya.
Dari Pendidikan Inklusif hingga KIP Kuliah
Sesi dialog menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian mahasiswa. Tiga mahasiswa baru Fikom Unpad mengangkat persoalan mengenai akses dan inklusivitas pendidikan tinggi.
Muhammad Sunshine, mahasiswa Program Studi Televisi dan Film, menanyakan persoalan pendidikan inklusif bagi mahasiswa disabilitas. Ia menyorotii pentingnya membangun pemahaman mahasiswa non-disabilitas mengenai cara berinteraksi dan bekerja sama dengan mahasiswa disabilitas, terutama bagi mereka yang sebelumnya belum terbiasa berada dalam lingkungan pendidikan inklusif.
Menanggapi hal tersebut, Brian menegaskan bahwa perguruan tinggi negeri perlu menjadi lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Mahasiswa yang memenuhi persyaratan akademik tidak semestinya kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan hanya karena kondisi disabilitasnya.
Pada saat yang sama, perguruan tinggi perlu membangun lingkungan belajar yang memungkinkan mahasiswa disabilitas dan non-disabilitas berinteraksi secara wajar dalam kehidupan sehari-hari.
Brian membagikan pengalamannya melihat praktik pendidikan di Jepang, ketika keberadaan penyandang disabilitas menjadi bagian yang biasa dalam kehidupan bersama. Menurutnya, lingkungan seperti itu sekaligus dapat menumbuhkan empati serta kemampuan berinteraksi dengan sesama.
Pertanyaan berikutnya datang dari mahasiswa asal Sukabumi yang menyoroti KIP Kuliah dan penggunaan data desil ekonomi. Ia menceritakan perubahan desil yang dialaminya serta kesulitan memperoleh dokumen pendukung ketika berupaya mengakses bantuan pendidikan.
Brian menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap KIP Kuliah masih sangat besar, sementara pemerintah terus berupaya memperluas cakupan bantuan. Ia juga mengakui bahwa persoalan akurasi data sosial ekonomi masih perlu terus diperbaiki.
Mahasiswa yang merasa data kondisi ekonominya tidak sesuai, menurut Brian, dapat menggunakan mekanisme keberatan atau banding sehingga kondisinya dapat diverifikasi kembali. Mahasiswa juga dapat menyampaikan apabila menemukan data penerima bantuan yang dinilai tidak sesuai untuk kemudian diperiksa.
Akses terhadap pendidikan juga menjadi perhatian Gabriel Ruben, mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi. Ia menanyakan kemungkinan bantuan bagi mahasiswa yang telah berhasil diterima melalui jalur seleksi nasional, tetapi menghadapi kendala finansial dan belum memperoleh KIP Kuliah.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Brian kembali menekankan pentingnya perbaikan data agar bantuan pendidikan dapat semakin tepat sasaran. Namun, ia juga meminta mahasiswa tidak berhenti mencari jalan ketika belum berhasil memperoleh satu skema bantuan.
“Kalau satu belum dapat, cari lagi yang lain. Kalau masih belum dapat juga, jangan malu. Kalau perlu kerja, kerja juga tidak apa-apa. Jangan gampang menyerah, kejar terus,” katanya.
Brian kemudian berbagi pengalaman ketika menjalani pendidikan di Institut Teknologi Bandung dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Ia juga menceritakan sejumlah rekannya yang harus bekerja sambil berkuliah hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pesan tersebut menjadi dorongan agar keterbatasan ekonomi tidak membuat mahasiswa kehilangan semangat untuk mempertahankan kesempatan mendapatkan pendidikan.
Jangan Biarkan Teman Menghadapi Kesulitan Sendiri
Menjelang akhir pertemuan, Brian menyampaikan pesan yang tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa yang tengah menghadapi kesulitan, tetapi juga kepada teman-teman di sekitarnya.
Ia meminta mahasiswa lebih peka ketika melihat perubahan pada teman, termasuk ketika ada mahasiswa yang mulai jarang hadir atau tiba-tiba tidak terlihat di kampus.
“Kalau ada teman yang hilang, enggak datang-datang ke kampus, jangan didiemin. Disamperin, didatangin, dikasih semangat, diajak ngobrol,” pesannya.
Menurutnya, tidak semua orang terbiasa menceritakan persoalan yang sedang dihadapi. Sebagian mahasiswa mungkin merasa malu atau memilih menyimpan masalahnya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, perhatian dan dukungan dari teman dapat menjadi hal yang berarti.
Ia kembali mengingatkan bahwa mahasiswa baru Fikom Unpad telah melewati proses seleksi untuk memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, kesempatan tersebut perlu dijalani dengan semangat belajar, keberanian menghadapi persoalan, sekaligus kepedulian terhadap sesama.
“Kalian ini sudah anak-anak yang terpilih. Jangan gampang menyerah. Pasti orang yang sungguh-sungguh, orang yang mengejar, akhirnya akan mendapatkan jalan keluar juga,” ujarnya.
Setelah mengunjungi Fikom Unpad, Mendiktisaintek bersama Rektor dan jajaran pimpinan universitas melanjutkan kunjungan ke Fakultas Kedokteran. Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di kawasan Rektorat Unpad, termasuk agenda dialog bersama BEM Unpad.
Kunjungan Mendiktisaintek pada hari ketiga rangkaian penerimaan mahasiswa baru Fikom Unpad 2026 tersebut menjadi salah satu pengalaman awal mahasiswa memasuki kehidupan kampus. Bukan hanya menerima motivasi, mahasiswa mendapatkan ruang untuk bertanya dan menyampaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka mulai dari pendidikan inklusif, bantuan biaya pendidikan, hingga pentingnya kepedulian antarsesama.
Dari pertemuan tersebut, mahasiswa baru Fikom Unpad diajak memahami bahwa kehidupan perguruan tinggi bukan hanya tentang belajar di ruang kelas, tetapi juga tentang berani bertanya, menghadapi tantangan, membangun kepedulian, dan tumbuh bersama di tengah keberagaman. (Humas Fikom)

