
Mengukir Prestasi dan Menginspirasi: Perjalanan Kepala Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad
Di balik kesuksesan sebuah program studi, ada seorang pemimpin yang berdedikasi tinggi. Kepala Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad, Dr. Sri Seti Indriani S.IP., M.Si., adalah salah satu contoh teladan. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalaman yang beragam, beliau telah membawa program studi ini meraih banyak pencapaian.
Lahir dan besar di Bandung, Dr. Sri Seti Indriani menempuh pendidikan S1 di bidang Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan. Melanjutkan passion-nya di dunia komunikasi, beliau meraih gelar S2 dan S3 di Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran. Perjalanan akademiknya yang solid ini menjadi pondasi kuat dalam karirnya sebagai seorang dosen.
Sebelum terjun ke dunia akademis, Dr. Sri Seti Indriani telah memiliki pengalaman panjang sebagai pendidik. Mengelola Armidale English College, sebuah sekolah bahasa Inggris non-profit yang ia dirikan, menjadi langkah awalnya. Sekolah ini dikenal karena pendekatannya yang unik melalui drama dan storytelling, dan telah mendidik lebih dari 800 murid dengan ribuan alumni. Keberhasilan ini tidak hanya membuktikan kemampuannya dalam manajemen pendidikan, tetapi juga membakar semangatnya untuk mengajar.

Pada awalnya, ia membuka les kecil-kecilan atas permintaan orang tua. Namun, melihat dampaknya yang positif, ia merasa terpanggil untuk mengembangkan les tersebut menjadi lebih besar. Ketertarikannya pada dunia pendidikan semakin kuat ketika ia bertemu dengan Prof. Deddy saat menempuh studi S2. Prof. Deddy menyarankan agar ia melamar ke Unpad, dan dengan dorongan dari ayahnya yang juga seorang dosen di bidang pertanian, membuatnya akhirnya memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.
Sebagai dosen, Dr. Sri Seti Indriani tidak hanya berperan sebagai fasilitator antara mahasiswa dan dosen, tetapi juga sebagai edukator yang membentuk karakter mahasiswa. “Saya percaya bahwa tugas dosen tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga membimbing mahasiswa dalam kehidupan mereka,” ujarnya. Selain itu, beliau juga berusaha menjadi teman yang bisa diandalkan oleh para mahasiswa.
Namun, perjalanan sebagai dosen tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah menjaga keseimbangan antara penelitian, pengabdian, dan pengajaran. Teknologi yang berkembang pesat menuntut mereka untuk selalu up to date, yang merupakan sebuah tantangan tersendiri. Selain itu, kekurangan sumber daya manusia, khususnya dosen di program studi Televisi dan Film, menjadi hambatan yang harus dihadapi. Sering kali, mereka harus mengandalkan dosen magang dan praktisi yang bukan pendidik penuh waktu untuk memenuhi kebutuhan pengajaran.
Dr. Sri Seti Indriani memiliki spesialisasi dalam metode penelitian kualitatif, film, semiotika, dan kajian perempuan. Meski saat ini tidak ada penelitian aktif, karya-karya sebelumnya telah membahas berbagai isu penting. Salah satu penelitiannya yang menonjol adalah tentang persepsi remaja terhadap film budaya yang dipublikasikan di jurnal Q2, serta pola komunikasi diaspora Indonesia di jurnal Q1. Publikasi tersebut menjadi salah satu hasil kerja kerasnya yang paling ia banggakan.
Di luar akademik, beliau juga menulis beberapa buku tentang komunikasi, pengalaman berbudaya, dan kurikulum bahasa Inggris. Keahlian dalam manajemen waktu yang diperoleh sejak usia mudanya, menjadi kunci dalam menyeimbangkan berbagai peran yang dijalani. “Whatever you feel, just wake up, dress up, and show up,” menjadi motto hidup yang selalu ia pegang.
Kepada para alumni dan mahasiswa, Dr. Sri Seti Indriani berpesan, “Kekurangan kita adalah kurangnya karakter kuat dalam melakukan kebaikan. Mahasiswa TVF terlalu humble, mereka harus lebih bangga dan berani tampil. Semoga semua mahasiswa lebih baik, lebih bold, dan mampu menghadapi masalah dengan baik.”
Dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi, Dr. Sri Seti Indriani terus berupaya menginspirasi dan membimbing mahasiswa untuk menjadi insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat. Semangatnya dalam mendidik dan membangun generasi penerus menjadi teladan bagi kita semua. (TDF)
