Fikom Unpad Perkuat Kompetensi Dosen Pembimbing, Bahas Metodologi Riset hingga Pemanfaatan AI
JATINANGOR – Perkembangan metodologi, karakteristik penelitian, hingga pemanfaatan teknologi dalam riset menuntut dosen pembimbing untuk terus memperbarui kompetensinya. Peran pembimbing tidak hanya membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga memastikan penelitian dibangun melalui paradigma, metode, pengumpulan data, dan analisis yang tepat serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Untuk memperkuat kapasitas tersebut, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) menggelar Workshop Penguatan Kompetensi Dosen Pembimbing Tahun Akademik 2026/2027, Rabu (5/8/2026), pukul 08.00-16.00 WIB di Ruang Oemi Abdurachman, Gedung 2 Fikom Unpad, Jatinangor.
Workshop menghadirkan empat sesi yang membahas proses penelitian secara berkesinambungan, mulai dari tren metodologi penelitian dalam ilmu komunikasi, pembimbingan metodologi tugas akhir, analisis data kuantitatif, hingga analisis data kualitatif.
Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M.Si., Ph.D., CIQaR., CIQnR., CIMMR. sebagai pembicara pada sesi Tren Metodologi Penelitian dalam Ilmu Komunikasi dan Pembimbingan Metodologi Tugas Akhir. Sesi Analisis Data Kuantitatif disampaikan oleh Prijana, M.Si., sedangkan Prof. Eni Maryani, M.Si. membawakan materi Analisis Data Kualitatif.
Workshop dimoderatori oleh Dr. Meria Octavianti, M.I.Kom.; Dr. Asep Suryana, M.Si.; dan Dr. Trie Damayanti, M.Si.
Dekan Fikom Unpad Nindi Aristi dalam sambutannya menyampaikan bahwa setiap jenjang pendidikan menghadirkan tantangan akademik yang berbeda. Pada jenjang sarjana, mahasiswa mulai berhadapan dengan dasar-dasar metodologi penelitian. Pada jenjang magister, kemampuan berpikir kritis semakin dituntut, sedangkan penelitian doktoral memiliki tantangan yang lebih kompleks karena mahasiswa dituntut menghasilkan kontribusi keilmuan dan kebaruan.
“Setiap jenjang memiliki tantangannya masing-masing. Pada S1 mulai mengenal metode, S2 mulai masuk pada pemikiran kritis, sedangkan pada S3 tantangannya adalah bagaimana menghasilkan kontribusi keilmuan sekaligus menyelesaikan proses studi dengan baik,” ujar Nindi.
Penguatan kompetensi dosen pembimbing karena itu menjadi bagian penting dalam menjaga mutu proses akademik sekaligus mendukung mahasiswa agar mampu membangun penelitian yang runtut sejak merumuskan persoalan hingga mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya.
Memahami Metodologi dari Landasan Keilmuan
Pada sesi pertama, Prof. Burhan Bungin membahas perkembangan metodologi penelitian dalam ilmu komunikasi dengan mengajak peserta melihat penelitian tidak semata-mata sebagai kumpulan teknik.
Pemahaman terhadap metode penelitian perlu ditempatkan dalam landasan keilmuan yang lebih luas, mulai dari filsafat, paradigma, hingga pengukuran. Filsafat menjadi dasar dalam memahami pengetahuan dan realitas, sedangkan paradigma menentukan cara peneliti memandang dan menjelaskan sebuah fenomena. Setelah itu, peneliti menentukan bagaimana konsep dan fenomena tersebut dapat diteliti melalui proses pengumpulan maupun analisis data.
Persoalan ini penting dalam penelitian ilmu komunikasi yang objek kajiannya terus berkembang mengikuti perubahan sosial dan teknologi. Fenomena penggunaan teknologi digital dan kecanduan smartphone, misalnya, tidak hanya dapat dibaca sebagai persoalan individu, tetapi juga dapat ditempatkan dalam konteks kehidupan sosial yang lebih luas.
Penentuan masalah penelitian karena itu perlu mempertimbangkan kondisi empiris, urgensi fenomena, relevansi keilmuan, serta kemampuan peneliti dalam mengkajinya.
Prof. Burhan juga menekankan dimensi aksiologis penelitian. Penelitian tidak berhenti pada selesainya sebuah laporan akademik, tetapi idealnya memiliki manfaat, dapat dibaca dan digunakan oleh komunitas akademik, serta berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Pembimbingan Tugas Akhir dan Tantangan Perkembangan AI
Pada sesi kedua mengenai Pembimbingan Metodologi Tugas Akhir, Prof. Burhan mengulas berbagai tantangan yang dihadapi dalam mendampingi mahasiswa melakukan penelitian.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), menjadi salah satu hal yang perlu dipahami dosen maupun mahasiswa. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung dalam proses penelitian dan penulisan, namun penggunaannya tetap harus memperhatikan etika akademik, integritas ilmiah, serta ketentuan institusi.
“Peneliti perlu melek terhadap perkembangan teknologi baru. AI dapat menjadi alat bantu yang memudahkan proses penulisan dan penelitian, tetapi penggunaannya tetap harus ditempatkan sebagai pendukung proses akademik,” jelasnya.
Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan tanggung jawab intelektual peneliti. Kemampuan merumuskan masalah, menentukan pendekatan, mengambil keputusan metodologis, membaca data, hingga membangun argumentasi tetap menjadi bagian dari proses akademik yang harus dikuasai mahasiswa.
Prijana Bahas Analisis Kuantitatif dan Ketepatan Sampling
Pada Sesi 3: Analisis Data Kuantitatif, Prijana, M.Si. membahas pentingnya data, pengukuran, serta ketepatan prosedur dalam penelitian kuantitatif.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah sampling. Dalam penelitian survei, besarnya jumlah responden tidak dengan sendirinya menjamin kualitas data. Peneliti terlebih dahulu perlu memiliki kejelasan mengenai populasi, kerangka sampling, dan mekanisme pemilihan sampel.
Hal ini semakin relevan di tengah penggunaan kuesioner daring yang memungkinkan data dikumpulkan dalam jumlah besar secara cepat. Kemudahan tersebut tetap harus diikuti dengan prosedur sampling yang tepat agar data yang dihasilkan memiliki dasar representasi yang jelas.
Dalam pemaparannya dibahas empat pendekatan sampling peluang, yaitu acak sederhana (simple random sampling), sistematik (systematic sampling), berstrata (stratified sampling), dan klaster (cluster sampling).
Pemilihan masing-masing metode bergantung pada karakteristik populasi dan kondisi penelitian. Simple random sampling dapat diterapkan ketika tersedia kerangka sampling yang lengkap. Systematic sampling menggunakan daftar populasi yang tersusun dengan mekanisme interval. Stratified sampling digunakan untuk memastikan kelompok-kelompok dalam populasi heterogen dapat terwakili, sedangkan cluster sampling dapat digunakan ketika populasi tersebar pada wilayah geografis yang luas.
Pembahasan juga menekankan pentingnya membedakan populasi, kerangka sampling, dan sampel. Kerangka sampling menjadi unsur penting karena menjadi dasar untuk menentukan unit mana yang memiliki peluang dipilih sebagai sampel.
Selain sampling, sesi kuantitatif membahas pengukuran serta pemilihan teknik analisis yang harus disesuaikan dengan pertanyaan penelitian dan karakteristik data. Konsep korelasi, determinasi, hingga penggunaan perangkat lunak statistik seperti SPSS juga menjadi bagian dari diskusi.
Dengan demikian, kualitas penelitian kuantitatif tidak hanya ditentukan pada tahap pengolahan statistik. Kredibilitas penelitian telah dibangun sejak peneliti menetapkan populasi, menentukan sampel, mengumpulkan data, hingga memilih teknik analisis yang sesuai.
Analisis Kualitatif Perlu Bergerak dari Deskripsi menuju Pemaknaan
Pada Sesi 4: Analisis Data Kualitatif, Prof. Eni Maryani, M.Si. mengajak peserta melihat pentingnya konsistensi antara paradigma, pendekatan, data, dan analisis dalam penelitian kualitatif.
Ia menegaskan bahwa penelitian kualitatif tidak selalu identik dengan satu paradigma tertentu. Paradigma dan pendekatan harus dipilih berdasarkan objek, tujuan, serta asumsi peneliti dalam memahami realitas.
Dalam proses analisis, peneliti tidak cukup hanya memindahkan hasil wawancara atau data lapangan ke dalam laporan. Data perlu melalui proses pemilihan, pemfokusan, pengorganisasian, hingga penarikan dan verifikasi kesimpulan.
Mengacu pada model Miles dan Huberman, proses tersebut mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Coding menjadi salah satu bagian penting dalam membantu peneliti mengubah data mentah menjadi kategori, pola, dan tema yang dapat dianalisis.
Prof. Eni juga membedakan proses deskripsi, interpretasi, dan analisis. Deskripsi memberi gambaran mengenai fenomena dan konteks penelitian. Interpretasi membawa peneliti memahami makna yang muncul dari pengalaman partisipan, sementara analisis memungkinkan peneliti menjelaskan hubungan, pola, maupun persoalan yang ditemukan di dalam data.
Dalam materi tersebut turut dibahas berbagai bentuk analisis kualitatif, antara lain thematic analysis, content analysis, text analysis, dan narrative analysis. Untuk penelitian yang menggunakan perspektif kritis, analisis dapat diarahkan pada pembacaan dinamika kekuasaan, kontrol institusional, maupun persoalan ketidakadilan sosial.
Prof. Eni turut menyoroti beberapa persoalan yang masih kerap muncul dalam penulisan hasil dan pembahasan penelitian mahasiswa, seperti struktur pembahasan yang tidak sejalan dengan tujuan penelitian, subjudul yang hanya menggambarkan tahapan analisis dan bukan temuan, data yang kehilangan konteks dan historisitas, serta klaim yang tidak disertai argumentasi berbasis data.
Temuan penelitian kualitatif juga perlu memperhatikan kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas, sehingga argumentasi penelitian dapat dilacak pada data dan proses analisis yang dilakukan.
Pembimbing Berperan Menjaga Kualitas Penelitian Mahasiswa
Peran dosen pembimbing menjadi salah satu perhatian dalam sesi analisis kualitatif. Keberhasilan mahasiswa menyelesaikan penelitian dan skripsi merupakan proses kerja bersama antara mahasiswa dan dosen pembimbing dengan hak serta tanggung jawab masing-masing.
Dosen pembimbing tidak hanya membaca naskah, tetapi turut memastikan kesiapan mahasiswa sebelum mengikuti sidang dengan mempertimbangkan kualitas penelitian, kompetensi mahasiswa, serta ketentuan akademik dan administratif yang berlaku.
Mahasiswa pada akhirnya harus mampu mempertanggungjawabkan penelitian yang dibuatnya di hadapan penguji. Kritik dan masukan dalam proses sidang juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi peningkatan kualitas penelitian mahasiswa maupun proses pembimbingan berikutnya.
Diskusi selama workshop turut membahas berbagai persoalan yang dihadapi dosen dalam proses penelitian dan publikasi ilmiah, mulai dari metodologi, analisis kuantitatif dan kualitatif, penggunaan perangkat analisis, hingga etika dan strategi publikasi pada jurnal bereputasi.
Melalui Workshop Penguatan Kompetensi Dosen Pembimbing, Fikom Unpad terus mendorong peningkatan kualitas pembimbingan tugas akhir yang sejalan dengan perkembangan metodologi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Penguatan tersebut diharapkan membantu mahasiswa tidak sekadar menyelesaikan tugas akhir, tetapi mampu menghasilkan penelitian yang memiliki dasar metodologis yang kuat, kritis, berintegritas, serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.(Humas Fikom)
