
Fikom Unpad Perkuat Promosi Desa Wisata Selasari melalui Pengelolaan Media Sosial dan Storytelling
Pangandaran. Potensi wisata yang menarik perlu didukung kemampuan mengelola komunikasi digital agar semakin dikenal dan mampu menggerakkan wisatawan untuk datang. Tidak cukup hanya rutin mengunggah foto atau video, pengelola desa wisata juga perlu memahami audiens, merencanakan konten, membangun cerita dari potensi lokal, hingga membaca respons publik melalui media sosial.
Untuk memperkuat kemampuan tersebut, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, pada 5 Agustus 2026.
Pelatihan berlangsung dalam dua sesi yang saling melengkapi. Sesi pertama membahas pengelolaan media sosial berbasis kearifan lokal, mulai dari memahami perilaku audiens, membangun identitas akun, menyusun perencanaan konten, hingga memanfaatkan analytics. Sesi kedua berfokus pada storytelling untuk promosi desa wisata, dengan mengajak peserta menggali potensi Selasari dan mengubahnya menjadi cerita, caption, serta rancangan visual yang dapat dikembangkan menjadi konten digital.
Kegiatan diawali dengan sambutan Dr. Efi Fadilah, M.Pd. mewakili dosen Fikom Unpad. Ia menyampaikan bahwa PPM menjadi ruang pertemuan dan silaturahmi antara perguruan tinggi dengan masyarakat sekaligus kesempatan untuk berbagi pengetahuan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan pengembangan Desa Selasari.
Sambutan dilanjutkan oleh Ketua Pokdarwis Desa Selasari. Ia menyambut baik kegiatan tersebut karena peningkatan kemampuan dalam mengelola media sosial dan produksi konten memang dibutuhkan oleh pengelola wisata. Ia juga berharap kerja sama dan pendampingan dari Fikom Unpad dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Kepala Desa Selasari turut mengapresiasi pelaksanaan PPM Fikom Unpad. Menurutnya, perkembangan media digital membuat kemampuan mengelola konten semakin penting, tidak hanya sebagai sarana memperkenalkan potensi Selasari, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Pokdarwis jangan menganggap konten ini main-main. Pada akhirnya kita bisa mengunggah konten, mempromosikan Selasari, bahkan kalau ditekuni bisa menjadi content creator dan menghasilkan.”
Kepala Desa juga menekankan pentingnya kesungguhan dalam memperoleh pengetahuan dan menerapkannya agar bermanfaat.
“Apa pun ilmu yang kita dapat harus serius. Manusia harus berubah menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak bisa bermanfaat kalau tidak punya ilmu.”
Diawali Pre-test, Peserta Belajar Mengelola Media Sosial secara Terencana
Sebelum memasuki materi, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk memetakan pemahaman awal. Pada akhir kegiatan, peserta kembali mengerjakan post-test sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran. Instrumen tersebut dirancang untuk melihat perkembangan pemahaman peserta mengenai pengelolaan konten dan storytelling sebelum dan setelah mengikuti pelatihan.
Sesi pertama mengangkat materi “Optimalisasi Media Sosial Berbasis Kearifan Lokal: Strategi Perencanaan Konten dan Analisis Media Sosial Desa Selasari Kabupaten Pangandaran” yang disampaikan oleh Siti Fatimah Zahra Fibaeti, M.I.Kom., Dr. Efi Fadilah, M.Pd., dan Dr. Rachmaniar, S.Sos., M.I.Kom.
Peserta diajak memahami bahwa media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi bagi calon wisatawan. Karena itu, konten tidak hanya perlu menarik secara visual, tetapi juga harus membantu audiens menemukan informasi, membangun ketertarikan, mempertimbangkan kunjungan, hingga membagikan pengalaman mereka.
Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah model AISAS—Attention, Interest, Search, Action, dan Share. Melalui model tersebut, peserta diajak melihat perjalanan audiens sejak pertama kali menemukan konten hingga mencari informasi, mengambil tindakan, dan membagikan pengalaman kepada orang lain.
Peserta juga mempelajari pentingnya user generated content (UGC), seperti foto, video, ulasan, dan testimoni pengunjung. Konten yang dibuat wisatawan dapat menjadi social proof yang membantu membangun kepercayaan calon pengunjung sekaligus memperluas jangkauan promosi.
Pembahasan berikutnya masuk pada identitas digital atau branding akun. Peserta diajak memahami bahwa branding tidak berhenti pada logo, melainkan juga mencakup karakter yang ingin dibangun, nilai yang dibawa, cara berkomunikasi, bio akun, konsistensi visual, hingga kemudahan calon wisatawan menemukan informasi seperti lokasi, kontak, dan reservasi.
Dari Materi Langsung ke Latihan Perencanaan Konten
Sesi pertama tidak hanya berupa pemaparan. Peserta kemudian bekerja secara berkelompok untuk menyusun perencanaan konten media sosial berdasarkan potensi yang dimiliki Desa Selasari.
Melalui konsep editorial calendar, peserta berlatih menentukan jenis konten, format, ide utama, sasaran audiens, hingga call to action. Berbagai potensi lokal digunakan sebagai bahan latihan, seperti destinasi wisata, budaya, aktivitas di balik layar pengelolaan wisata, serta konten edukasi bagi calon pengunjung.
Peserta juga mempelajari bagaimana sebuah konten sebaiknya direncanakan sebelum diproduksi. Materi membahas penyusunan brief yang dimulai dari hook untuk menarik perhatian, pengenalan lokasi dan suasana, pengalaman yang ingin ditampilkan, kebutuhan visual, hingga ajakan kepada audiens.
Proses produksi juga diperkenalkan sebagai alur kerja yang terstruktur, mulai dari ide, brief, script, shooting, editing, review, approval, scheduling, posting, insights, hingga evaluation. Dengan pola tersebut, media sosial tidak lagi dikelola berdasarkan ide spontan semata, melainkan melalui perencanaan dan evaluasi yang berkesinambungan.
Storytelling: Mengubah Potensi Selasari Menjadi Pengalaman
Setelah memahami bagaimana media sosial direncanakan dan dikelola, peserta memasuki sesi kedua yang berfokus pada storytelling untuk promosi desa wisata.
Sesi ini merupakan bagian dari PPM bertajuk “Penguatan Kapasitas Produksi Konten Promosi Digital Berbasis Storytelling: Upaya Pengembangan Promosi Desa Wisata Berbasis Potensi Lokal di Desa Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran.”
Tim PPM diketuai oleh Dr. Lilis Puspitasari, S.Sos., M.I.Kom., bersama Rangga Saptya Mohamad Permana, S.I.Kom., M.I.Kom., Ph.D. dan Nadia Febriani, S.I.Kom., M.Si. sebagai anggota. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Fikom Unpad Kampus Pangandaran, Muhammad Faiz Alfarizi dan Raden Fachry Nurrakhman.
Melalui materi “Storytelling Desa Wisata: Memikat Pengunjung Lewat Cerita”, Dr. Lilis Puspitasari mengajak peserta melihat bahwa promosi wisata tidak hanya berbicara tentang daftar destinasi, harga, fasilitas, dan nomor kontak.
Calon wisatawan juga perlu mendapat gambaran mengenai apa yang bisa mereka lakukan dan rasakan ketika datang.
“Jangan cuma kasih daftar tempat. Ceritakan rasanya main dan beraktivitas di sana.”
Peserta kemudian diajak menjawab pertanyaan sederhana, “Di Selasari, saya bisa apa?” Pertanyaan tersebut digunakan untuk menggali pengalaman yang dapat ditawarkan kepada wisatawan: melihat, mencoba, merasakan, bertemu, hingga belajar. Dengan pendekatan ini, peserta mulai melihat bahwa yang dipromosikan bukan hanya sebuah tempat, tetapi juga pengalaman yang mungkin diingat wisatawan setelah pulang.
Cerita Bisa Datang dari Tempat, Orang, Budaya hingga Kehidupan Warga
Materi storytelling mengajak peserta mencari bahan cerita dari enam sumber, yaitu tempat, aktivitas, orang, proses, budaya, dan dampak.
Artinya, konten Desa Wisata Selasari tidak harus selalu berupa panorama. Pemandu lokal, warga, proses persiapan menerima wisatawan, kuliner, tradisi, produk UMKM, cara pelayanan, hingga dampak pariwisata terhadap kehidupan masyarakat juga dapat menjadi sumber cerita.
Berbagai potensi seperti Santirah River Tubing, Goa Lanang, Curug Cimanggu, Pepedan Hills, homestay warga, kuliner lokal, produk lokal, serta seni dan kehidupan masyarakat digunakan sebagai contoh latihan.
Namun, peserta justru diminta tidak menceritakan semuanya sekaligus. Satu konten perlu memiliki sasaran audiens dan sudut cerita yang jelas.
Destinasi yang sama dapat menghasilkan cerita berbeda. Santirah River Tubing, misalnya, dapat diceritakan dari pengalaman petualangan, kebersamaan, keindahan bentang alam, maupun peran pemandu dalam mendampingi wisatawan. Pepedan Hills pun dapat dikemas berbeda ketika ditujukan kepada keluarga, anak muda, atau komunitas.
Cerita yang baik tidak membuat Selasari terlihat lebih hebat dari kenyataan. Cerita yang baik membantu orang melihat apa yang memang berharga di Selasari.”
Peserta kemudian kembali bekerja dalam kelompok untuk memilih objek yang mereka kuasai, menentukan sasaran wisatawan, memilih satu sudut cerita, menyusun narasi dan caption, hingga membuat rencana visual.
Mereka juga mempelajari penyusunan shot list agar proses produksi foto dan video lebih terarah. Gambar tidak diambil sebanyak-banyaknya tanpa tujuan, tetapi dirancang untuk mendukung alur cerita, mulai dari pembuka, aktivitas, orang yang terlibat, detail tempat, pengalaman wisatawan hingga penutup.
Satu bahan cerita juga dapat dikembangkan menjadi beberapa format, seperti foto dan caption, carousel, video pendek, maupun materi informasi untuk WhatsApp atau poster digital. Dengan demikian, Pokdarwis dapat mengembangkan satu ide menjadi sejumlah konten tanpa harus selalu memulai dari nol.
Dua Sesi, Dua Latihan, dan Hadiah untuk Peserta
Pendekatan praktik menjadi bagian penting dari keseluruhan pelatihan. Pada sesi pengelolaan media sosial, peserta berlatih membuat perencanaan konten secara berkelompok. Pada sesi storytelling, mereka kembali bekerja dalam kelompok untuk menggali cerita dan merancang konten berdasarkan potensi wisata Selasari.
Hasil latihan dipresentasikan dan mendapat masukan dari tim pemateri. Proses tersebut membuat suasana kegiatan berlangsung interaktif karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung mendiskusikan persoalan dan potensi wisata yang mereka temui sehari-hari.
Kelompok dengan hasil latihan terbaik memperoleh hadiah dari tim PPM Fikom Unpad sebagai bentuk apresiasi dan untuk menambah semangat peserta.
Setelah seluruh materi, simulasi, dan latihan selesai, peserta mengikuti post-test untuk melihat perkembangan pemahaman dibandingkan dengan kondisi sebelum pelatihan.
Peserta Nilai Pelatihan Inspiratif dan Interaktif
Manfaat pelatihan juga dirasakan oleh peserta. Yoyo, anggota Pokdarwis Desa Selasari, menilai materi yang diberikan memberikan dasar penting bagi pelaku wisata dalam mengelola aktivitas promosi yang selama ini sebagian sudah mereka lakukan secara praktik.
“Materi ini sangat menginspirasi dan memberi dasar bagi pelaku-pelaku wisata, terutama Pokdarwis. Secara teori memang kebanyakan belum sampai ke arah situ. Dalam praktiknya sebenarnya sudah ada hal-hal yang kami lakukan, hanya saja kami belum tahu bagaimana mengelolanya.”
Menurut Yoyo, cara penyampaian materi juga membuat peserta lebih mudah mengikuti pelatihan.
“Penyampaian materinya dapat dipahami dan tidak membosankan karena lebih interaktif. Menurut saya, penyampaian materi jangan hanya satu arah. Model interaktif seperti ini harus terus ditingkatkan.”
Ia berharap kolaborasi Fikom Unpad dan Desa Selasari tidak berhenti pada kegiatan tersebut.
“Semoga kerja sama ini terus berlanjut demi peningkatan dan kemajuan Desa Wisata Selasari.”
Pengalaman serupa disampaikan Dandi Rifa Roman. Ia mengaku mendapat pengetahuan baru dari kedua sesi yang diberikan.
“Saya mendapat informasi dan pengetahuan baru mengenai bagaimana mengelola media sosial dengan baik. Kemudian pada materi kedua tentang storytelling, saya memahami bahwa storytelling bisa menjadi media untuk menggali potensi yang ada di Desa Wisata Selasari.”
Menurutnya, interaksi antara pemateri dan peserta juga menjadi salah satu kekuatan kegiatan.
“Materinya sangat mudah dipahami karena para pemateri sangat interaktif dengan peserta. Komunikasi antara pemateri dan peserta juga sangat baik.”
Testimoni tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan Pokdarwis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi konten, tetapi juga bagaimana mengelola, merencanakan, dan mengembangkan potensi lokal menjadi komunikasi yang lebih terarah.
Mendukung Promosi Desa Wisata, Ekonomi Lokal, dan SDGs
Melalui dua sesi tersebut, peserta memperoleh rangkaian keterampilan yang saling terhubung. Pengelolaan media sosial membantu Pokdarwis menentukan audiens, merencanakan konten, menjaga konsistensi akun, dan mengevaluasi hasilnya. Storytelling membantu mereka menemukan cerita dari potensi yang sudah dimiliki Desa Selasari dan mengemasnya menjadi konten yang lebih dekat dengan pengalaman calon wisatawan.
Kombinasi keduanya diharapkan dapat mendukung promosi Desa Wisata Selasari secara lebih terencana sekaligus membuka ruang lebih besar bagi destinasi, budaya, produk lokal, pelaku wisata, dan masyarakat untuk dikenal melalui media digital.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Peningkatan pengetahuan dan keterampilan digital Pokdarwis sejalan dengan SDG 4: Quality Education, khususnya pengembangan kapasitas dan kesempatan pembelajaran sepanjang hayat.
Penguatan promosi destinasi, produk lokal, budaya, dan pengalaman wisata turut berkaitan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, khususnya pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dapat mendorong aktivitas ekonomi lokal sekaligus mempromosikan budaya dan produk setempat.
Kolaborasi antara Fikom Unpad, Pemerintah Desa Selasari, Pokdarwis, mahasiswa, dan masyarakat juga sejalan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui kemitraan antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Fikom Unpad terus mendorong agar pengetahuan komunikasi tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak bagi pengembangan potensi lokal.

