
PROFESOR JULIAN MILLIE MENGENAI “CROSS-CULTURAL COMMUNICATION COMPETENCE IN A GLOBAL SCALE”
Jatinangor, 10 Mei 2023 — Program Studi Jurnalistik dan Program Studi Televisi dan Film dari Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad mengadakan kuliah umum yang dihadiri oleh Profesor Julian Millie dari Monash University. Kuliah umum ini dimoderatori oleh Rangga S. M. Permana, S.I.Kom., M.I.Kom. yang merupakan dosen di Program Studi Televisi dan Film. Kuliah umum ini dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2023, dengan membahas tentang Cross-cultural Communication Competence in a Global Scale dengan platform Zoom Meeting. Kuliah umum ini bertujuan untuk menambah wawasan para mahasiswa dari Prodi Jurnalistik dan Prodi Televisi dan Film sekaligus untuk melengkapi mata kuliah Lintas Budaya.

Selain menjelaskan mengenai Cross-cultural Communication Competence in a Global Scale, Profesor Julian juga menyinggung mengenai analisis media koran sebagai aspek penting dalam komunikasi lintas budaya, membentuk ruang publik di Indonesia, dan peran agama Islam dalam media koran di Indonesia. Dalam pemateriannya, Profesor Julian Millie menarik perhatian para mahasiswa dengan menunjukkan bahwa beliau mahir dalam berbicara Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Dalam kuliah umum ini, Profesor Julian bertanya, “Mengapa koran penting untuk komunikasi antar budaya?” Menurut dirinya, koran adalah media terpenting untuk menciptakan ruang publik di mana masyarakat dapat mengetahui informasi dan berita terbaru di lingkungan sekitar. Beliau mengatakan bahwa koran merupakan medium pembentuk ruang publik dan ditujukan untuk publik sehingga informasi yang termuat di koran bersifat umum dan harus mencakup seluruh masyarakat. Dengan kata lain, koran juga dapat bersifat musyawarah dan sekuler. Selain itu, dirinya juga beranggapan bahwa koran adalah media yang paling penting menciptakan sesuatu yang beliau sebut dengan “the public” serta untuk komunikasi lintas budaya. Beliau memberikan suatu idealisasi kunci dari “public-making” koran itu sendiri.
Kemudian, Profesor Julian mengangkat sebuah perkataan dari Charles Taylor mengenai sekularisme dan public sphere. Charles Taylor mengatakan bahwa bagaimanapun sekularisme dan public sphere ini berasosiasi karena dibentuk oleh hal-hal di luar tindakan umum yang kita lakukan di dalamnya; datang ke pikiran umum, jika memungkinkan, melalui pertukaran ide. Profesor Julian mengangkat juga mengenai istilah print capitalism yang merupakan sebutan untuk penerbitan buku, koran, dan surat kabar. Menurutnya print capitalism yang menjadikan bangsa Indonesia mulai mengenal adanya kehidupan di luar sana karena Indonesia pada saat zaman penjajahan sistem pemerintahannya berupa kerajaan sehingga masyarakatnya belum mengetahui adanya kehidupan di luar wilayah kerajaan.
Saat ini di Indonesia, jurnalisme dan pers semakin berkembang diikuti dengan perkembangan Islam dan perannya di pers. Profesor Julian menjelaskan bahwa Islam turut mempengaruhi jurnalisme di Indonesia dan menghasilkan berita-berita harian yang berfokus pada sudut pandang agama Islam. Oleh karena itu, terdapat batasan pengaruh agama yang harus dipraktikkan di bidang jurnalisme. Indonesia memiliki media bernama Republika yang kemudian dianalisis oleh Janet Steele dan hasil analisis beliau adalah bahwa Republika mempublikasikan komersial dan minat yang masih konservatif, tidak memberikan peliputan yang kritis sesuai yang diinginkan oleh kosmopolitan dan menjadi “korban” keragaman internal dari komunitas Islam. Berdasarkan analisis Profesor Julian mengenai Pikiran Rakyat, beliau mengatakan bahwa media tersebut adalah media koran dari Jawa Barat juga mengikuti perwujudan agenda ibadah sesuai dengan kalender Islam. Jadi, kesimpulan dari segmen ini adalah bahwa koran Pikiran Rakyat adalah koran Islam karena turut berpartisipasi dalam menyebarkan rutinitas, mendorong, dan memfasilitasi komitmen spiritual yang secara etis dapat menyentuh publik.
Poin penutup dari materi kuliah umum hari ini adalah menjelaskan bahwa sirkulasi media dapat membentuk publik, tidak ada publik sepenuhnya inklusif merangkul seluruh masyarakat. Beliau berpendapat bahwa pada masa kini, jurnalisme dan pers di Indonesia semakin berkembang diikuti dengan perkembangan Islam dan perannya di pers. Islam ikut menjadi salah satu pengaruh jurnalisme di Indonesia dan menghasilkan berita-berita harian yang berfokus pada sudut pandang agama Islam. Tidak heran apabila pers di Indonesia memiliki unsur-unsur yang berbau agama Islam mengingat mayoritas populasi di Indonesia memeluk agama Islam. Oleh karena itu, terdapat batasan pengaruh agama yang harus dipraktikkan di bidang jurnalisme. Dengan mengatakan kesimpulan-kesimpulannya, Profesor Julian Millie menutup perkuliahan umum tersebut. (Raisya Adelia)
