
Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Unpad menggelar WJC 2024: Penghargaan Mahakarya Jurnalis Muda dalam Konservasi
Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menyelenggarakan Wildlife Journalism Competition (WJC) 2024, dengan tajuk “Penghargaan Mahakarya Jurnalis Muda dalam Konservasi Satwa Liar”. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 28 November 2024 pukul 07.30-16.30 WIB di Auditorium Gedung Pascasarjana Fikom Unpad.
Dr. Uud Wahyudin, M.Si, selaku Kepala Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dalam sambutannya menyampaikan mengenai pentingnya melestarikan keanekaragaman satwa liar.
Selanjutnya, sambutan dari perwakilan Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) yang memaparkan pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan Kesehatan lingkungan, satwa liar dan manusia.
Kemudian, sambutan disampaikan oleh perwakilan U.S Agency for International Development (USAID) Indonesia, Dekan Fikom Unpad Dr. Dadang Rahmat Hidayat, M.Si. yang memaparkan pentingnya komunikasi dalam lingkungan, khususnya mengenai keanekaragaman satwa liar yang ada di Indonesia serta sambutan terakhir yang disampaikan Wakil Rektor bidang Riset, Kerja sama dan Pemasaran Universitas Padjadjaran, Prof. Rizky Abdulah, S.Si., Apt., Ph.D. yang menyampaikan bahwa “Bukti nyata terhadap kepedulian lingkungan itu dapat diwujudkan melalui karya jurnalistik yang kreatif, inspiratif dan mendalam”.
Pada sesi seminar menghadirkan empat narasumber yang menyajikan beragam topik yang relevan dengan keberagaman satwa liar yang ada di Indonesia, mulai dari pentingnya menjaga lingkungan, melestarikan lingkungan, dan mendorong generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan.
“The Power of Forest: Menelisik Kebermanfaatan Pohon bagi Manusia dan Satwa”
Sesi pertama dengan tajuk “The Power of Forest: Menelisik Kebermanfaatan Pohon bagi Manusia dan Satwa” menghadirkan dua pemateri yaitu Nunu Anugrah, S.Hut., M.Sc dan Asril Abdullah, M.Si. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Nunu Anugrah S.Hut., M.Sc menampilkan data keanekaragaman hayati di Indonesia, beliau menegaskan bahwa “Kita harus mampu merawat dan menjaga, karena titipan ini harus dinikmati oleh generasi penerus”. Kemudian, beliau menjelaskan tentang konservasi ekosistem untuk melindungi spesiesnya, melalui suaka alam atau pelestarian alam, serta prinsip konservasi keanekaragaman hayati dan peran Masyarakat dalam konservasi ekosistem.
Selanjutnya, Asisten Manager Orangutan Haven, Asril Abdullah M.Si menyampaikan bahwa di Indonesia terdapat spesies orang utan baru dan memaparkan mengenai habitat orang utan serta fungsi orang utan bagi masyarakat yaitu menyebarkan biji tumbuhan sekitar 80% melalui kotorannya. “Orang Utan masih banyak dan perlu diselamatkan untuk keberlangsungan melestarikan ekosistem” tuturnya.
“Enviromental Issue: Melihat Konservasi Satwa Liar dalam Kacamata Jurnalis”
Sesi seminar kedua bertajuk “Enviromental Issue: Melihat Konservasi Satwa Liar dalam Kacamata Jurnalis” dengan menghadirkan dua pemateri yaitu Joni Aswira Putra dan Dr. Herlina Agustin, S.Sos., M.T. Ketua Umum Society of Indonesian Environmental Journalist, Joni Aswira Putra menjelaskan kapasitas pengetahuan jurnalis dalam konservasi satwa liar. Kemudian, beliau memaparkan tentang keanekaragaman hayati yang memiliki harga modal sangat mahal, dimana tayangannya belum tentu ada yang membaca, karena hal tersebut kurang diminati dibandingkan dengan berita hiburan maupun isu politik. Beliau lalu menjelaskan tentang isu-isu kejahatan lingkungan hidup, dimana hal ini dapat diusut oleh pemerintah maupun pelaku bisnis, yang kemudian menjadi tantangan bagi seorang jurnalis. Beliau berpesan “untuk mencintai liputan tentang satwa liar, sebaiknya mencintai dulu satwa liarnya”.
Dosen dan Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Unpad Dr. Herlina Agustin, S.Sos., M.T. menjelaskan tentang hambatan yang sulit dalam meliput isu-isu keanekaragaman hayati, “Jurnalis harus mampu berhadapan dengan media yang belum memahami isu-isu keanekaragaman hayati” tuturnya. Selain itu, beliau melakukan penelitian tentang isu manusia dimakan harimau dengan pertanyaan penelitian yaitu mengapa ada harimau masih memakan manusia? Apakah manusia tidak mengetahui ada harimau disekitar? Lalu, siapa yang harus mengedukasi tentang satwa liar yang ada disekitar manusia? Menurutnya, media memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang keanekaragaman hayati.
Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan. Nominasi pertama yaitu Kategori “Feature” yang dimenangkan oleh Tim Zoonocare dengan tema “Dera Zoonosis dalam Bayangan Kota Bandung” dari Universitas Padjadjaran sebagi juara pertama. Tim TriPena dengan tema “Kisah Malang Japri Si Satwa Liar Monyet Ekor Panjang” dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebagai juara kedua, dan Tim Syahrial Dzikri dengan tema “Monyet Kelaparan dan Konflik Ekologis di Buddan: Kekeringan, Pertambangan, dan Kesadaran Lingkungan yang Memudar” dari Universitas 17 Agustus sebagai juara ketiga.
Nominasi selanjutnya yaitu kategori “Photo Story”. Juara pertama dimenangkan oleh Iswahyura P. W dengan tema “Peran Penting Pelestarian dan Konservasi Penyu dalam Menjaga Keseimbangan Ekosistem Laut” dari Universitas Yudharta Pasuruan. Juara kedua dimenangkan oleh Sultan Rafly dengan tema “Fading Forest, Rising Conflict: Monkeys and Human Face Off Taman Hutan Raya” dari Universitas Padjadjaran. Sementara, Juara ketiga dimenangkan oleh Arifin Al Alamudin dengan tema “Dulu Diberi, Kini Mencuri” dari Universitas Sumatera Utara.
Selanjutnya, nominasi yang diumumkan yaitu nominasi #WJChallange, yang dimenangkan oleh Shabrina Husna Amalia dari Universitas Padjadjaran.
Nominasi berikutnya yaitu kategori Video Dokumenter. Juara pertama dimenangkan oleh Lagas Team dengan tema “Cerita di Balik Tempurung” dari Universitas Udayana. Pemenang juara kedua adalah Tim Vistalk Project dengan tema “Jual-Beli Konservasi” dari Universitas Padjadjaran. Juara ketiga dimenangkan oleh Tim Eastern dengan tema “Luna: Maluku’s Stolen Wings” dari Universitas Pattimura.
Acara selanjutnya adalah penayangan hasil video dokumenter juara pertama, serta penutup yang disampaikan oleh perwakilan dari Garda Animalia, FAO, dan Dr. Herlina Agustin,S.Sos., M.T. sebagai Ketua Pelaksana pada kegiatan Wildlife Journalism Competition (WJC) 2024. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi. (HS)




