Ketika TikTok Bertemu Tradisi: Penelitian Nailah Nursyifa tentang Suku Baduy yang Membawanya ke Fikom Unpad

Tidak banyak yang menyangka bahwa penelitian tentang generasi muda Suku Baduy Luar dan penggunaan TikTok dapat membawa Nailah Nursyifa meraih Juara III Nasional Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) bidang Ilmu Sosial dan Humaniora. Berkat penelitian tersebut, ia berhasil lolos jalur SMUP Minat Bakat Prestasi masuk ke program studi favorit yaitu Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tahun 2025. Berawal dari rasa penasaran sederhana terhadap pertemuan antara budaya yang tetap bertahan dan teknologi yang terus berkembang. Syifa menemukan pengalaman, prestasi, sekaligus jalan menuju kampus impiannya.
Dari Rasa Penasaran yang Pelan-pelan Tumbuh
Ketertarikan Syifa terhadap topik penelitian ini berawal dari fenomena yang menurutnya unik. Bersama temannya, ia sempat mempertimbangkan beberapa ide penelitian sebelum akhirnya memilih mengangkat generasi muda Suku Baduy Luar yang mulai aktif menggunakan TikTok di tengah tradisi yang masih mereka jaga hingga kini. Menurutnya, pertemuan antara budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan perkembangan teknologi digital menghadirkan pertanyaan menarik untuk diteliti.
Rasa penasaran tersebut semakin besar ketika Syifa berkesempatan mengunjungi Baduy Luar secara langsung. Pengalaman melihat kehidupan masyarakat setempat dari dekat memberinya perspektif baru tentang hubungan antara budaya dan perubahan sosial. “Waktu sampai di sana, aku benar-benar merasa kagum soalnya suasananya masih sangat asri, tenang, dan berbeda dari kehidupan sehari-hari yang biasanya kita jalani,” kenangnya.
Melalui kunjungan tersebut, Syifa memahami bahwa penggunaan media sosial oleh generasi muda Baduy Luar tidak serta-merta menghilangkan nilai-nilai tradisi, melainkan menjadi bagian dari cara mereka beradaptasi dengan perkembangan digital tanpa meninggalkan identitas budaya.
Mencari Jalan ke Baduy Luar
Setelah topik penelitian ditentukan, tantangan berikutnya justru datang dari proses mencari akses ke lapangan. Syifa dan temannya perlu menemukan narasumber yang dapat membantu mereka memahami fenomena yang ingin diteliti. Mereka sempat menghubungi beberapa kreator TikTok asal Baduy melalui media sosial dengan harapan dapat memulai penelitian dari sana. Namun, pesan-pesan yang mereka kirim tidak kunjung mendapat balasan.
Situasi tersebut membuat langkah mereka sempat terhambat. Di satu sisi, mereka telah memiliki topik yang ingin dikaji. Disisi lain, mereka belum menemukan jalan untuk benar-benar masuk ke lingkungan yang akan menjadi fokus penelitian. Semakin lama menunggu, semakin besar pula ketidakpastian tentang bagaimana penelitian ini dapat dijalankan.
Di tengah kebingungan itu, para guru yang mendampingi mereka justru memberikan dorongan sederhana. “Yaudah kita gas aja,” kenang Syifa sambil tertawa. Kalimat singkat tersebut menjadi pemantik keberanian bagi mereka untuk mengambil langkah yang lebih besar daripada sekadar menunggu jawaban di balik layar ponsel.
Syifa dan temannya akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke Baduy Luar. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang membuka banyak peluang baru. Melalui bantuan relasi yang dimiliki salah satu guru, mereka mulai bertemu dengan tokoh masyarakat dan sejumlah narasumber yang dapat membantu proses penelitian. Dari sanalah penelitian yang semula terasa sulit dijalankan perlahan menemukan jalannya.
Pengalaman tersebut mengajarkan Syifa bahwa penelitian tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya seorang peneliti harus berani mengambil langkah lebih jauh untuk menemukan jawaban yang dicari. Bagi Syifa, perjalanan menuju Baduy Luar bukan hanya membawanya lebih dekat pada topik penelitian, tetapi juga memberinya pelajaran tentang keberanian, inisiatif, dan pentingnya menghadapi ketidakpastian dalam proses belajar.

Syifa dan tim saat melakukan wawancara langsung dengan masyarakat Baduy Luar
Di antara Tegang dan Harap di OPSI
Penelitian berjudul Transformasi Digital dan Identitas Budaya: Studi tentang Generasi Muda Suku Baduy Luar dalam Menerima Digitalisasi Media Sosial TikTok membawa Syifa dan tim melangkah hingga tahap final Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Bagi mereka, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa ide yang berawal dari rasa penasaran sederhana ternyata mampu bersaing di tingkat nasional.
Selama masa karantina, hari-hari mereka dipenuhi berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pameran booth, presentasi hasil penelitian, hingga sesi wawancara bersama dewan juri. Di tengah jadwal yang padat dan suasana kompetisi yang penuh tekanan, Syifa berusaha menjalani setiap proses dengan sebaik mungkin. Meski demikian, rasa gugup tetap tidak bisa dihindari.
“Jujur saat itu aku benar-benar tidak berekspektasi terlalu jauh karena merasa sudah berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya,” kenangnya.
Alih-alih memikirkan peluang kemenangan, Syifa memilih menikmati proses yang sedang dijalani bersama timnya. Baginya, bisa membawa penelitian hingga tingkat nasional saja sudah menjadi pengalaman yang sangat berharga. Karena itu, ketika nama mereka akhirnya diumumkan sebagai Juara III Nasional bidang Ilmu Sosial dan Humaniora, rasa yang muncul bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga kelegaan.
Di balik pengumuman yang berlangsung dalam hitungan menit, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari pencarian topik, proses turun ke lapangan, hingga berbagai tantangan selama penelitian berlangsung. Kemenangan tersebut menjadi pengingat bagi Syifa bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh selalu meninggalkan hasil yang berarti, meski sering kali datang dengan cara yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Riset yang Membawanya Pulang ke Fikom Unpad
Bagi Syifa, kemenangan di OPSI bukanlah akhir dari perjalanan yang telah ia jalani. Justru dari pencapaian tersebut, sebuah peluang baru mulai terbuka. Penelitian yang awalnya ia kerjakan sebagai bagian dari kompetisi sekolah perlahan membawanya semakin dekat dengan impian yang selama ini ingin ia wujudkan: menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Namun, jalan menuju impian itu tidak datang tanpa ketidakpastian. Saat hasil SMUP Minat Bakat Prestasi belum diumumkan, Syifa lebih dahulu diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur SNBT dan bahkan telah menyelesaikan proses daftar ulang. Meski telah memiliki pilihan yang pasti, keinginannya untuk berkuliah di Fikom Unpad tidak pernah benar-benar berubah. Ia memilih menunggu sambil berharap penelitian yang telah membawanya sejauh ini dapat membuka jalan menuju kampus yang diimpikannya.
Penantian tersebut akhirnya terjawab ketika namanya dinyatakan lolos sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2025. Bagi Syifa, momen itu bukan sekadar kabar diterima di perguruan tinggi. Di baliknya, ada perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah rasa penasaran sederhana, berkembang menjadi penelitian, lalu mengantarkannya meraih prestasi nasional.
“Awalnya aku nggak pernah kepikiran kalau penelitian ini bisa membawa aku sampai ke Fikom Unpad,” ujar Syifa. Dari sebuah pertanyaan tentang bagaimana generasi muda Baduy Luar memanfaatkan TikTok, Syifa menemukan lebih dari sekadar jawaban penelitian. Ia menemukan pengalaman, kesempatan, dan jalan yang membawanya menuju kampus impian. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa rasa ingin tahu yang terus dirawat dan diperjuangkan terkadang mampu membawa seseorang ke tempat yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Langkah Baru di Fikom Unpad
Memasuki Fikom Unpad, Syifa kembali menghadapi tantangan yang berbeda. Di tengah lingkungan yang dipenuhi mahasiswa dengan beragam pengalaman dan kemampuan, ia sempat merasa minder dan tertinggal. Namun, perasaan tersebut justru mendorongnya untuk terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan mengembangkan diri selama menjalani perkuliahan.
Seiring berjalannya waktu, Syifa mulai menemukan ritmenya sendiri. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus, terlibat dalam organisasi, dan tetap menjaga ketertarikannya pada dunia riset yang telah membawanya sampai ke titik ini. Pengalaman penelitian yang ia jalani sejak di bangku sekolah juga membentuk cara pandangnya dalam melihat berbagai fenomena sosial. Dari proses tersebut, Syifa belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, berani turun langsung ke lapangan, serta memahami hubungan antara masyarakat, budaya, dan media.
Di tengah perjalanannya sebagai mahasiswa, Syifa dipercaya menyandang gelar Putri Berbakat Fikom. Baginya, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk memperluas kontribusi sekaligus menginspirasi lebih banyak orang. Melalui paguyuban Putra Putri Fikom, ia terlibat dalam berbagai program sosial, mulai dari kegiatan di sekolah-sekolah sekitar Jatinangor hingga inisiatif pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan belajar.
Ke depan, Syifa berharap dapat terus berkembang tidak hanya sebagai mahasiswa yang aktif dan berprestasi, tetapi juga sebagai pribadi yang terbuka, suportif, dan bermanfaat bagi orang lain. Dari penelitian tentang generasi muda Baduy Luar hingga berbagai langkah barunya di Fikom Unpad, ia belajar bahwa sebuah rasa penasaran yang sederhana dapat membuka jalan menuju kesempatan-kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Penulis : Shalum Azalia Sahira
Email: [email protected]
