Mahasiswi Exchange Timor Leste Bagikan Kisah Inspiratif di Fikom Unpad


Gambar 1& 2. Dokumentasi Sandra pada saat di Universidade Nacional Timor-Lorosae dan Universitas Padjadjaran
Program Unpad ASEAN Scholarship Visiting Grant Track membawa Sandra Otaria da Costa Ximenes menjadi mahasiswa exchange di Fikom Unpad. Bagi mahasiswi Komunikasi Sosial dari Universidade Nacional Timor-Lorosae (UNTL) ini, menempuh studi lintas negara adalah keputusan hidup terbesar. Perjalanannya bukan sekadar belajar di kelas, melainkan sebuah misi untuk membawa perubahan bagi kampung halamannya di Timor Leste.
Seleksi Serta Persiapan Menjadi Mahasiswi Exchange
Semua bermula dari seleksi internal di kampus asal Sandra di Timor Leste. Dia harus bersaing ketat dengan banyak mahasiswa berprestasi lainnya. Tahap pertama yang paling mendasar adalah seleksi nilai akademis. Di tahap ini, Sandra berhasil lolos dengan IPK 3,27, sebuah pencapaian yang tergolong sudah jauh di atas standar rata-rata di Timor Leste.
Setelah lolos seleksi akademis tersebut, Sandra harus menyiapkan dokumen penting seperti transkrip nilai, CV, paspor, dan sertifikat kemampuan bahasa.
| “Bagian yang paling rumit adalah menyusun motivation letter dan recommendation letter,” ungkap Sandra. |
Saat menulis motivation letter, Sandra harus merenung dan menjawab tiga pertanyaan besar: Kenapa harus aku yang terpilih? Apa yang akan aku lakukan di sana nanti? Apa yang akan aku bawa pulang untuk tanah air? Bagi Sandra, menulis esai itu bukan sekadar merangkai kata di atas kertas. Proses itu adalah momen penting untuk merumuskan tujuan hidupnya.
Dukungan Sistem dan Tantangan Finansial
Untuk mendapatkan recommendation letter, Sandra harus meyakinkan dosennya, Roberto da Costa Pacheco, S.H., M.D.H., berkali-kali. Dari sini Sandra menyadari satu hal penting, perjalanan besar tidak bisa ditempuh seorang diri. Dukungan datang dari ayah, ibu, saudara-saudara, dosen, fasilitator, hingga pihak administrasi kampus. Selain urusan dokumen, tantangan terberat Sandra adalah kesiapan finansial. Hidup di negara baru berarti beradaptasi dengan budaya baru, lingkungan baru, dan biaya hidup yang berbeda.
Harga yang Harus Dibayar
Meskipun jalannya terjal, tujuan Sandra sudah jelas sejak awal. Dia ingin belajar langsung, bukan sekadar liburan. Sandra ingin melihat cara sistem pendidikan negara lain bekerja, cara dosen mengajar, dan cara mahasiswa berdiskusi.
Kesempatan menjadi mahasiswi exchange Fikom juga menjadi jembatan untuk memperluas jaringan. Melalui program ini, Sandra bisa bertukar ide dan merasakan budaya lain secara langsung, bukan sekadar membaca dari buku atau internet.
| “Proses ini mengajarkanku bahwa mimpi yang besar selalu punya harga yang harus dibayar,” tegasnya. |
Tidak ada jalur cepat menuju kesuksesan. Setiap tahap seleksi, setiap revisi dokumen, dan setiap malam begadang adalah proses yang membentuk mentalnya.
Cambukan Untuk Maju
Motivasi terbesar Sandra berakar dari kondisi kampung halamannya di Timor Leste. Di sana, anak-anak muda masih sangat sulit mendapatkan akses informasi penting, seperti info beasiswa resmi.
Kondisi inilah yang membakar semangat Sandra. Dia ingin membawa pulang informasi berharga dan mengemasnya agar mudah dipahami oleh pemuda di daerahnya. Inilah titik awalnya.

Gambar 3. Dokumentasi Sandra pada saat hari pertama kedatangan di Universitas Padjadjaran
Kaget Adzan, Konvoi Persib, hingga Buah Per Kilo
Begitu menapakkan kaki di Jatinangor dengan ransel penuh berkas, Sandra langsung disambut oleh realitas baru yang melompati ekspektasinya. Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi culture shock, bahkan ketika seseorang sudah merasa sangat siap.
Sandra yang tumbuh besar di Timor Leste, negara mayoritas Katolik, langsung dihadapkan pada kontrasnya atmosfer kota ini. Gema adzan lima waktu yang bersahutan dan pemandangan masjid di setiap sudut jalan menjadi ritme hidup baru yang harus ia pelajari.
| “Aku kaget, tapi bukan dalam artian negatif. Ini pengalaman kultural yang membuatku sadar betapa beragamnya dunia,” ujarnya. |
Kejutan tidak berhenti di ranah religi. Suatu hari, ia mendapati seluruh kota mendadak berubah warna menjadi biru. Konvoi suporter Persib memenuhi jalanan, ramai, riuh, dan membuat lalu lintas lumpuh total. Sandra yang tidak akrab dengan kemacetan parah seketika melongo di tepi jalan.
| “Di sini macetnya beda level, seru tapi bikin bingung!” kisahnya tertawa. |
Bahkan hal kecil pun sukses membuatnya tertegun. Jika di negaranya buah biasa dijual per biji atau per ikat, di Bandung ia harus memutar otak untuk terbiasa bertransaksi dengan hitungan kiloan. Belum lagi hiruk-pikuk pedagang kaki lima di trotoar yang jadi pemandangan harian baru.
Namun pelan-pelan, gegap budaya itu mencair. Rasa bingung bermutasi menjadi rasa ingin tahu, lalu berubah menjadi kekaguman.
Awal Baru Mahasiswi Exchange
Sebelum masuk kelas pertama, Sandra sangat cemas dan deg-degan. Dia khawatir dengan lingkungan baru dan apakah bisa memahami materi perkuliahan. Dia juga takut kesulitan mendapatkan teman.
Namun semua ketakutan itu langsung sirna. Mahasiswa Fikom ternyata sangat ramah dan suportif. Mereka menyambut Sandra dengan tangan terbuka. Momen pertama yang membuat Sandra benar-benar merasa diterima adalah saat kerja kelompok. Teman-teman satu timnya langsung bertanya, “Kalau menurut kamu bagaimana, San?”
Sandra merasa pendapatnya dihargai sepenuhnya. Teman-teman barunya sering mengajak makan bersama dan mengenalkan fasilitas kampus. Diskusi perkuliahan pun berubah menjadi ruang komparasi dua negara yang seru dan berwawasan.
Momen “Aha!” dalam Kuliah Komunikasi Lintas Budaya
Selama berkuliah di Fikom, ada satu momen yang membuka pikiran Sandra. Dosen sedang menjelaskan cara berkomunikasi lintas budaya agar tidak terjadi salah paham.
Seketika Sandra teringat situasi di Timor Leste yang memiliki banyak suku dan bahasa daerah. Program pemerintah atau NGO sering gagal bukan karena idenya buruk, melainkan karena cara penyampaiannya tidak nyambung dengan budaya setempat.
Dari kuliah itu, Sandra sadar bahwa ia bisa menerapkan langsung ilmu komunikasi di dunia nyata. Sebelum merancang program, kita wajib memahami nilai dan kebiasaan masyarakat lokal.
Tidak Ingin Pulang dengan Tangan Kosong
Waktu berjalan cepat, dan Sandra tahu masa belajarnya di UNPAD memiliki batas, 3 bulan lamanya. Ia tidak ingin pulang hanya dengan membawa selembar transkrip nilai yang bagus atau foto-foto estetis di galeri ponselnya. Ia ingin pulang membawa sesuatu yang konkret untuk ia bagikan kepada sesama.
Sandra berencana mengadakan pelatihan komunikasi mandiri dalam skala kecil untuk anak-anak muda di kampung halamannya. Melalui program ini, ia ingin mengajarkan cara mengemas dan menyampaikan pesan secara efektif. Sandra berharap langkah tersebut dapat membantu para pengambil kebijakan mendengar suara-suara dari daerah terpencil. Namun, bagi Sandra ada misi yang jauh lebih krusial. Ia ingin mengetuk pintu rumah mereka satu per satu demi menyebarkan sebuah harapan baru. Sandra ingin menegaskan bahwa kesempatan melihat dunia luas itu nyata adanya. Program pertukaran pelajar dan peluang beasiswa bukan hanya milik anak-anak yang beruntung di kota besar.
Memori Baik selama menjadi Mahasiswi Exchange
Ketika seseorang menanyakan satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan seluruh dinamika pengalamannya sebagai mahasiswa exchange di Fikom Unpad, Sandra tidak butuh waktu lama untuk berfikir.

Gambar 4. Dokumentasi Sandra saat mengikuti kegiatan membumi yang diadakan oleh BEM Fakultas Komunikasi, Universitas Padjadjaran.
| “Hangat. Di sini aku bukan cuma belajar teori komunikasi. Aku menemukan rumah kedua dari orang-orang yang bahkan belum lama aku kenal.” |
Bagi Sandra, seluruh perjalanan melelahkan dari awal pendaftaran, melewati culture shock, hingga berproses di ruang kelas adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ia menutup ceritanya dengan sebuah kalimat dalam bahasa Tetun yang menjadi kompas hidupnya:
| “Hau nia prosesu hau nia susesu.” (Prosesku adalah kesuksesanku). |
#####
Chattrine Chisye Manurung
210310250021
