
Sineas Muda SMK Al-Wafa Diajak “Membaca Budaya di Balik Lensa” bersama Prodi TVF Fikom Unpad
BANDUNG. Sebanyak 47 siswa dan lima guru SMK Al-Wafa mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Kamis (23/7/2026).
Mengusung tema “Membaca Budaya di Balik Lensa”, kegiatan ini membawa siswa masuk lebih jauh ke dalam cara film bekerja: bukan hanya bagaimana sebuah gambar dibuat menarik, tetapi juga bagaimana kostum, cahaya, ruang, gestur, dialog, hingga sudut pengambilan gambar dapat membawa pesan budaya.
Bagi siswa yang belajar film dan audiovisual, pembahasan ini menjadi penting karena keterampilan teknis saja belum cukup. Seorang pembuat film juga perlu memahami apa yang sebenarnya sedang ia tunjukkan kepada penonton, nilai apa yang terbawa dalam adegan, dan bagaimana sebuah budaya bisa dibaca secara berbeda oleh orang lain.
Ketua Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad, Dr. Sri Seti Indriani, M.Si., mengapresiasi sambutan dari pihak sekolah dan antusiasme para siswa selama kegiatan berlangsung.
“Pengabdian pada masyarakat kali ini dari tim dosen diterima dengan sangat hangat, baik dari kepala sekolah, guru, maupun siswa-siswinya. Mereka terlihat sangat antusias dan siap mengimplementasikan kompetensi komunikasi lintas budaya dalam produksi film mereka,” ujar Indri.
Belajar Membaca Film, Bukan Sekadar Menontonnya
Pelatihan dimulai dari sesuatu yang dekat dengan keseharian siswa: menonton cuplikan film.
Namun kali ini, mereka tidak hanya diminta menikmati adegan. Beberapa potongan film digunakan sebagai pemantik untuk melihat bagaimana perbedaan budaya hadir di layar dan bagaimana penonton dapat membaca sebuah situasi melalui visual maupun perilaku tokohnya.
Dari sana, pembahasan masuk ke budaya yang terlihat dan budaya yang tidak selalu tampak secara langsung.
Kostum, set, properti, warna, hingga tata cahaya relatif mudah dikenali. Tetapi cara tokoh berbicara, menjaga jarak, merespons orang lain, menggunakan gestur, atau menyampaikan sesuatu secara langsung maupun tidak langsung juga membawa konteks budaya.
Di sinilah siswa mulai melihat bahwa sebuah adegan sebenarnya memiliki banyak lapisan.
Mise-en-scène Bukan Hanya Soal Estetika
Pembahasan kemudian berlanjut pada mise-en-scène.
Selama ini istilah tersebut mungkin lebih dekat dengan persoalan tata visual. Dalam pelatihan, siswa diajak melihat bahwa mise-en-scène juga dapat bekerja sebagai bahasa budaya.
Pilihan kostum, tata ruang, pencahayaan, posisi aktor, komposisi, hingga benda-benda yang muncul di dalam frame dapat memberi petunjuk tentang siapa tokohnya, dari lingkungan sosial seperti apa ia berasal, dan hubungan seperti apa yang sedang dibangun.
Pemahaman itu kemudian diuji dalam sesi “Bedah Klip!”.
Siswa dibagi ke dalam kelompok dan diminta membaca dua klip film pendek. Mereka harus menemukan simbol, pilihan visual, serta detail budaya yang muncul di dalam adegan, lalu menjelaskan bagaimana mereka membaca maknanya.
Diskusi berlangsung cukup cair karena tidak semua kelompok menghasilkan pembacaan yang sama. Justru dari situ siswa melihat bahwa satu adegan bisa menimbulkan tafsir berbeda, terutama ketika penontonnya datang dari latar budaya yang berbeda.
Dari AI sampai Cara Membawa Film Menemukan Penontonnya
Topik pelatihan tidak berhenti pada bahasa visual dan budaya. Siswa juga mendapatkan pengantar mengenai penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam industri film, termasuk persoalan etika dan regulasi yang mulai ikut memengaruhi proses kreatif.
Pembahasan ini penting karena teknologi AI semakin dekat dengan pekerjaan audiovisual, mulai dari pengembangan ide, pengolahan gambar, suara, hingga tahapan pascaproduksi.
Di sisi lain, siswa juga diajak melihat satu persoalan yang sering muncul setelah film selesai dibuat: lalu filmnya mau dibawa ke mana?
Untuk film pendek dan karya siswa, jalur distribusi tentu tidak selalu sama dengan film komersial.
Karena itu, materi pendanaan dan promosi membahas kemungkinan yang lebih dekat dengan realitas mereka: festival film, pemutaran komunitas, media sosial, teaser, poster, potongan adegan, proses produksi, hingga cerita di balik pembuatan film. Pesannya sederhana: film selesai diproduksi belum berarti selesai diperjuangkan. Sebuah karya tetap membutuhkan cara untuk bertemu dengan penontonnya.
Sineas Muda Juga Membawa Tanggung Jawab Budaya
Di akhir kegiatan, siswa kembali diajak melihat posisi mereka sebagai pembuat film.
Film tidak pernah benar-benar netral. Bahkan ketika pembuatnya tidak secara sengaja berbicara tentang budaya, pilihan visual dan naratif yang digunakan tetap dapat membentuk cara penonton melihat suatu kelompok, kebiasaan, atau identitas tertentu.
Karena itu, menjadi sineas muda bukan hanya soal mampu membuat gambar yang bagus. Ada tanggung jawab untuk memahami siapa yang sedang diceritakan, bagaimana mereka direpresentasikan, dan pesan apa yang akhirnya sampai kepada penonton.
Melalui kegiatan ini, Prodi TVF Fikom Unpad berharap para siswa SMK Al-Wafa dapat membawa kepekaan tersebut ke dalam karya-karya mereka berikutnya, baik film fiksi maupun dokumenter.
Cerita lokal, kehidupan sehari-hari, lingkungan sekitar, dan pengalaman masyarakat dapat menjadi sumber film yang kuat ketika dibaca dan direkam dengan lebih peka.
Mendukung Pendidikan Berkualitas dan Pelestarian Budaya
Kegiatan “Membaca Budaya di Balik Lensa” juga memiliki keterkaitan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs).
Penguatan literasi film, kemampuan berpikir kritis, pemahaman komunikasi lintas budaya, serta keterampilan audiovisual mendukung SDG 4: Quality Education, terutama dalam pengembangan kompetensi yang relevan bagi generasi muda.
Pembahasan mengenai industri film, promosi karya, pendanaan, dan perkembangan teknologi juga beririsan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, khususnya dalam membuka wawasan siswa terhadap peluang di sektor audiovisual dan ekonomi kreatif.
Sementara itu, perhatian terhadap representasi budaya dan pengangkatan kearifan lokal berkaitan dengan SDG 11: Sustainable Cities and Communities, terutama dalam menjaga dan memperkenalkan warisan budaya melalui medium kreatif.
Kolaborasi antara Prodi TVF Fikom Unpad dan SMK Al-Wafa juga mencerminkan SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui kerja sama antara perguruan tinggi dan sekolah dalam penguatan kapasitas generasi muda.
Tentang Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad
Program Studi Televisi dan Film Fikom Unpad mengembangkan pendidikan di bidang televisi, film, audiovisual, media, dan industri kreatif. Pembelajaran menggabungkan pemahaman konseptual, keterampilan produksi, kreativitas, serta kemampuan membaca perkembangan sosial, budaya, teknologi, dan industri media.
Penulis : Sri Seti Indriani
Editor : Humas Fikom Unpad
Foto : Prodi TVF Fikom Unpad

