Sorowako Literasi: Kisah Inspiratif Founder Muda Tembus AKI 2023
Sorowako Literasi lahir dari kegelisahan seorang pemuda bernama Hazura Indar Faradiba. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, ia tetap menaruh perhatian besar terhadap minimnya akses bahan bacaan berkualitas bagi anak-anak di Sorowako, Sulawesi Selatan.
Membangun kebiasaan membaca hari ini tentu bukan perkara mudah, terlebih ketika ia harus memulai gerakan tersebut jauh dari pusat kota besar. Hambatan akses di daerah terpencil tidak membuat Hazura menyerah, melainkan memicu lahirnya wadah literasi alternatif demi menyelamatkan masa depan pemuda daerah.
Masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata kiprah nyata Sorowako Literasi saat ini. Kelompok kecil ini sukses membuktikan eksistensinya hingga menembus panggung nasional. Keberhasilan mereka pun langsung divalidasi oleh pencapaian luar biasa berupa penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2023 Kategori Anak/Remaja persembahan Kemendikbudristek, yang berhasil diraih Hazura sebelum ia memasuki bangku perkuliahan.
Berawal dari Kegelisahan: Bagaimana Sorowako Literasi Bermula
Sorotan besar tidak langsung didapatkan dalam perjalanan awal komunitas ini. Segala sesuatu bermula saat ketidaktersediaan akses bahan bacaan yang berkualitas untuk anak-anak di Sorowako disadari oleh Hazura Indar Faradiba.
“Sebenarnya banyak anak-anak di Sorowako yang tertarik dengan buku,” ungkapnya. Menurut amatannya, masalah utama bukan terletak pada minat baca publik, melainkan pada ketiadaan bahan bacaan yang relevan di fasilitas milik pemerintah daerah.
Kebijakan pengadaan buku di perpustakaan publik dinilai masih bersifat kaku dan kurang adaptif terhadap psikologi anak. Alih-alih disediakan literatur populer yang menghibur seperti novel atau komik, rak-rak perpustakaan justru didominasi oleh buku-buku berbobot serius dengan tema ekonomi, sosiologi, hingga politik tingkat lanjut.
Dari situlah perpustakaan mini mulai dibangun secara mandiri. Kotak-kotak buku hasil kurasi sendiri diletakkan di berbagai sudut Sorowako yang ramai oleh anak-anak. Lambat laun, donasi buku dari berbagai pihak terus mengalir sehingga jangkauan Sorowako Literasi makin diperluas.
Menghadapi Tantangan Konsistensi di Lapangan
Mempertahankan sebuah gerakan sosial berbasis komunitas selalu menghadirkan ujian tersendiri. Pada bulan-bulan awal, respons masyarakat tidak selalu berjalan mulus.
Banyak warga semula menganggap literasi hanyalah urusan membaca dan menulis yang membosankan. Kekhawatiran soal orang yang bisa merusak kotak buku atau mencuri isinya juga sempat menghantui. Namun, fakta lapangan menunjukkan kondisi sebaliknya. Koleksi buku terus meningkat pesat lewat sumbangan mandiri warga.
Langkah menjaga konsistensi ditempuh Hazura lewat aksi nyata. Ia aktif menggelar roadshow edukatif menyasar institusi TK, SD, hingga SMP. Agenda ini bertujuan menumbuhkan minat baca sekaligus mengenalkan eksistensi Sorowako Literasi. Pendekatan tersebut berhasil memikat perhatian publik secara meluas. Banyak pihak mulai menyadari kehadiran komunitas ini hingga menyatakan komitmen keterlibatan mereka.
Melalui pendekatan langsung, kesadaran masyarakat perlahan bergeser. Publik mulai memahami esensi penting dunia membaca. Aktivitas literasi terbukti jauh dari kesan menjemukan, melainkan sebuah kecakapan krusial dalam mendukung kelancaran kehidupan sehari-hari.

Keterangan Foto 1: Hazura Indar Faradiba, founder Sorowako Literasi, saat merapikan dan mengurasi koleksi buku di salah satu kotak perpustakaan mini ruang publik.
Sorowako Literasi Lahirkan Festival dan Raih AKI 2023
Titik balik perjuangan komunitas ini terjadi pada tahun 2023. Konsistensi kerja keras yang ditunjukkan Hazura akhirnya diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebelum dirinya memulai studi di perguruan tinggi.
Selain Sorowako Literasi, Sorowako Readers & Writers Festival (SRWF) juga turut didirikan, di mana posisi event director dipegang langsung oleh Hazura. Festival literasi pertama di wilayah tersebut ditumbuhkan di bawah naungan Sorowako Literasi. Kehadiran tokoh sastra nasional seperti Reda Gaudiamo pun sukses dihadirkan untuk berbagi ilmu langsung dengan masyarakat, pelajar, dan komunitas lokal. Inisiasi program berdampak luas dari daerah inilah yang dijadikan basis utama penilaian dalam ajang Kemendikbudristek.
Proses seleksi yang dilalui tidaklah sederhana. Verifikasi langsung di lapangan dilakukan oleh pihak Kemendikbudristek yang datang ke Sorowako untuk melihat apa yang telah dibangun. Setelah penilaian ketat selesai dilakukan, Pin Emas dan Penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2023 Kategori Anak/Remaja resmi diumumkan untuk diterima oleh Hazura Indar Faradiba.
“Tentunya semakin banyak orang yang mengetahui keberadaan Sorowako Literasi serta Sorowako Readers & Writers Festival, dan semakin banyak yang menaruh atensi terhadap isu literasi. Semakin banyak kolaborasi juga,” pungkas Hazura.

Keterangan Foto 2: Kegiatan roadshow literasi Sorowako Literasi di sekolah dasar dalam rangka mengenalkan pentingnya membaca sejak usia dini.
Masa Depan Sorowako Literasi dan Gerakan yang Terus Tumbuh
Langkah Hazura tidak dihentikan oleh adanya apresiasi tingkat nasional. Atensi utamanya kini dialihkan pada aspek keberlanjutan jangka panjang sembari dirinya menimba ilmu teori komunikasi di kampus Fikom Unpad. Perluasan jangkauan gerakan Sorowako Literasi berkomitmen untuk terus dilakukan dengan menyasar berbagai lapisan masyarakat. Langkah strategis ini dirancang agar virus membaca tidak hanya berhenti sebagai tren sesaat, melainkan menjadi gaya hidup yang mengakar kuat pada generasi muda daerah.
Ruang kolaborasi terus dibuka dengan berbagai pihak eksternal, mulai dari sekolah, pemerintah daerah, hingga komunitas literasi nasional. Sebuah mimpi besar yang sederhana namun bermakna terus dijaga: konsistensi agar kebiasaan membaca ini bisa terus meluas ke segala penjuru daerah. Sinergi kolektif inilah yang dipercaya oleh masyarakat mampu menciptakan ekosistem pendidikan informal yang jauh lebih inklusif dan merata.
Bukti nyata telah ditunjukkan oleh Sorowako Literasi melalui langkah-langkah kecil yang konsisten. Minimnya fasilitas daerah tidak dijadikan batu sandungan dalam mengukir prestasi yang bermanfaat bagi negeri. Perubahan terbukti dapat digerakkan secara mandiri oleh pemuda daerah.
Adinda Fina Yunanta
[email protected]
